Gambar Bergerak bersama Wahyu Aditya

05.07.17

Gambar Bergerak bersama Wahyu Aditya

Muhammad Hilmi (H) berbincang dengan Wahyu Aditya (W).

by Muhammad Hilmi

 

H

Bagaimana perkenalan dengan dunia desain?

W

Awalnya dari SMP, saya suka dengan kegiatan basket, lalu mencoba-coba merancang kostum basket, akhirnya ketagihan sampai diperbolehkan merancang lapangan basketnya. Sejak SD memang suka kegiatan menggambar, dalam menggambar ternyata ada irisan-irisan lagi salah satunya desain. Berkenalan dengan teknologi itu waktu SMA ketika aktif lewat majalah sekolah, mulai untuk berkembang lagi, pada akhirnya malah membranding SMA saya. Logo pensi, baju resmi, baju olahraga, sampai kop surat (SMA 3 Malang).

H

Dari desain akhirnya ke animasi seperti apa?

W

Balik lagi karena banyak keingintahuan dalam eksplorasi visual. Misalnya dalam menggambar, pasti ada momen dimana kita ingin menggerakan gambar kita. Jawabannya adalah animasi. Di kota saya waktu itu memang informasi tentang animasi masih minim, jadi baru tahu tentang animasi itu ketika kuliah di Australia, dan saya menyimpulkan bahwa memang animasi itu adalah karya seni yang lengkap karena di situ ada gambar, ada foto, ada gerakan dan suara, itu yang membuat saya suka dengan animasi.

H

Saat pulang kuliah, alih-alih membuat production house, kenapa justru memutuskan untuk membuat sekolah?

W

Sebenarnya pulang itu tujuan awalnya adalah kerja dulu di Trans TV waktu itu, dari situ saya terbuka lagi wawasannya. Di sana pula saya mendapatkan networking, akhirnya pernah menjadi freelance, pernah menjadi karyawan, pernah membuka PH sendiri, yang belum itu adalah PH waktu itu tidak betah lama, cuma setahun. Dari situ saya juga mencoba bertanya lagi keinginan saya apa di sini, saya ingin berkonstribusi. Persepsi saya adalah saya harus bisa memperbanyak orang-orang yang memiliki talenta dalam visual. Itu jawabannya adalah pendidikan. Akhirnya saya menciptakan suatu institusi pendidikan.

H

Apa visi dari Hellomotion selain untuk mengembangkan animasi lokal?

W

Terus terang memang bentuk kegelisahan saya ketika bekerja di broadcast adalah jarang sekali melihat konten lokal. Tujuannya memang untuk menjawab kegelisahan itu, yaitu memperbanyak konten lokal. Ternyata memang tidak mudah, akhirnya yang saya rancang adalah segmentasi; fans, prosumer, dan professional. Fans diedukasi untuk mengapresiasi karya-karya lokal, prosumer adalah kombinasi produsen dan consumer, itu terus menyemangati mereka untuk berkarya karena biasanya di layer ini yang keluar gagasan-gagasan liar, dan yang professional itu yang memang ingin mendedikasikan dirinya untuk kerja dalam bidang penciptaan konten.

H

Bagaimana melihat perkembangan desain yang sekarang makin populer?

W

Kalau saya melihat karena itu kebutuhan abad 21 dimana saya beberapa minggu yang lalu membaca bahwa Facebook meramalkan tahun depan 80% konten adalah video, artinya memang itu kenyataannya bahwa sekarang ini institusi atau elemen apapun memang membutuhkan komunikasi visual, jadi tidak lagi dikuasai oleh orang-orang yang dari Desain Komunikasi Visual misalnya, tapi saya melihatnya itu sudah menjadi kebutuhan utama. Jadi ada 3 sebetulnya yang terkait dengan fenomena tadi; kreativitas manusia, teknologi, dan pasar. Jadi karena kombinasi 3 aspek itu muncul banyak profesi-profesi baru yang tahun-tahun sebelumnya tidak bermunculan, seperti profesi social media strategies, atau sekarang ada profesi tukang bikin sticker LINE yang pendapatannya ratusan juta, menjadi menarik karena kombinasi ketiga hal tadi. Memang jadi tidak mengagetkan kalau itu menjadi suatu kebutuhan.

H

Mengenai apresiasi masyarakat lokal terhadap animasi sekarang?

W

Apresiasi buat saya, masyarakat kita kalau dikasih pilihan pasti bisa mengapresiasi, PRnya adalah tapi bagaimana konten kreator ini dapat mengekspose karya mereka ke publik dengan saingan dari produk luar maupun dari kualitas mereka sendiri. Misalnya Adit Sopo Jarwo itu rating-nya sangat tinggi dan bisa bertahan sampai sekarang dan selalu diminati, itu salah satu bentuk bahwa respon masyarakat bagus. Atau ada teman kita dari buat komik, komiknya laku keras, sekarang buat film namanya Juki; itu adalah bentuk apresiasi. Artinya kita sudah punya massa yang bisa kita tawarkan, tapi sayangnya belum banyak yang menawarkan hal-hal baru untuk masyarakat itu, (dari segi) kualitas, format, karena masyarakat akan membandingkan (dengan produk luar).

H

Apa yang diperlukan agar Indonesia punya karya setara karya internasional?

W

Kalau saya mengatakan dalam berkarya itu ada 3 hal. Pertama karya Hollywood, kedua karya yang mencoba meniru Hollywood, dan ketiga karya yang diluar Hollywood. Rata-rata perspektif orang adalah kebanyakan mencoba yang nomor 2 yaitu karya yang meniru Hollywood. Tapi pada akhirnya kalah dengan Hollywood karena timeline-nya beda, anggarannya beda. Tapi orang tetap terus mengejar kualitas itu. Sedangkan yang dibutuhkan itu yang di luar Hollywood. Jadi buat saya orang seperti Juki itu yang harus diperbanyak; berani melakukan hal yang beda, melakukan cara-cara baru. Kalau kita pakai cara seperti Pixar yang backgroundnya perusahaan pembuat software tentunya terus terang dia pasti punya kelebihan dalam visualisasi dengan teknologi tertinggi. Atau Ghibli, itu memang foundernya sudah makan asam garam dalam animasi, bisa dikatakan bapaknya animasi. Kita bisa menjadi seperti itu memang butuh orang-orang gila seperti Juki tadi, kalau dia tetap bisa bertahan sampai sebesar Hayao Miyazaki, akan muncul itu. Jadi tidak bisa instan. Tidak bisa juga kombinasi antara uang banyak, dukungan pemerintah, talenta bagus, tapi kalau tidak konsisten dia tidak akan menjadi karya yang diminati.

H

Bagaimana secara kualitas Sumber Daya Manusia yang kita punya?

W

Kalau tingkat ASEAN sudah, tapi kalau tingkat Asia perlu terus dikejar, terutama Cina.

H

Apa minat orang-orang saat daftar Hellomotion?

W

Di Hellomotion ini ada beberapa program, pertama untuk anak kecil yang mengisi liburan dan ingin tahu bagaimana cara membuat animasi supaya gambar bisa bergerak, dari awal itupun kita sudah membebaskan style mereka. Yang penting mereka bisa menggerakannya. Ada segmen lain dimana orang ingin daftar ke sini karena ingin tahu dengan karya anak kecil tadi, ini untuk kalangan dewasa.

Tugas kami adalah menjawab rasa ingin tahu mereka. Minimal mereka bisa mengapresiasi karya animasi, tahu susahnya bagaimana (prosesnya). Yang ketiga kategorinya ada yang memang untuk menunjang karier, entah dia bekerja di suatu institusi atau ingin membuka usaha sendiri. Jadi yang kita tawarkan itu tidak melulu animasi. Animasi adalah salah satu pilihan, tapi kita juga visual kreatif, jadi ada desain grafis, ada editing, ada motion creating, ada animasi, kita juga buka program baru namanya konten untuk social media, itu kan komposisinya animasi, desain.

Kita juga ada program kelas professional multimedia, dimana selama 3 bulan kita ajarkan semua materi, outputnya adalah kita beri pekerjaan. Misalnya ada contoh lulusan dari Malang, kuliah administrasi, sekarang bekerja di motion graphic di stasiun TV. Kita juga sedang membuat SMA Hellomotion di Bintaro, kita lebih mencoba mengedukasi anak-anak muda ini dengan konsep design thinking, jadi membiasakan anak-anak ini menjawab permasalahan dari kacamata seorang desainer, agar dia terbiasa untuk bikin karya, bikin prototype, menguji coba, merevisi.

H

Bentuknya apa semacam SMK/SMA?

W

SMA jurusan IPS tetapi dengan pengayaan design thinking dan kreativitas.

H

Di Indonesia sendiri pendidikan desain seperti apa menurut Mas Wadit?

W

Sudah oke di beberapa institusi tertentu, tapi memang masih belum merata dalam standar, karena saya juga ikut di beberapa asosiasi. Yang sering saya dengar memang kualitas guru itu masih perlu diperbaiki terus, artinya masih banyak guru-guru dengan background yang tidak relevan mengajarkan animasi, seni rupa. Itu yang masih perlu diperbaiki.

H

Perkembangan lulusan Hellomotion seperti apa?

W

Perkembangannya Alhamdulillah banyak, menawarkan alumni-alumni yang matang. Ada yang menang Piala Citra, ada yang sudah bekerja untuk film-film layar lebar, dunia periklanan, televisi. Ada yang dulunya dia tidak lulus kuliah (dropout) dari Pontianak, akhirnya di sini dia menemukan dunianya dan menjadi sutradara professional dan membuat video klip populer. Ada yang dari Kendari dia tukang layout koran, sekarang bekerja di Dubai. Jadi banyak success stories yang mungkin tidak populer di kalangan masyarakat tapi di dunia mereka sendiri cukup bagus.

H

Posisi Hellofest bagi Hellomotion?

W

Inginnya Hellomotion membuat micro-ekosistem. Ekosistem yang ideal ada edukasi, ada apresiasi juga. Hellofest itu adalah bentuk prototype sebuah apresiasi. Dan memang tidak mudah karena jadi seperti bisnis baru, mengelola divisi baru, tapi Hellofest memang menjadi kendaraan untuk ajang apresiasi yang menurut saya sampai sekarang pun masih kurang. Hellofest lahir pun karena kegelisahan saya akan kurangnya wadah apresiasi untuk terutama film pendek.

H

Ada proyek personal mendatang?

W

Sedang mau rilis buku baru tentang saya dan istri saya mengembangkan usaha di dunia kreatif, juga sedang bersiap mewakili Indonesia di ajang Asian Animation Summit, mempertemukan creator dengan distributor dan investor, ada dari Disney, Nickelodeon, Youtube. Saya kebetulan sedang mengembangkan konten karakter kelinci berformat dongeng, sudah ngelist 30 judul. Sedang membuat serial YouTube-nya untuk November. Juga sedang mengembangkan diri sebagai YouTuber.whiteboardjournal, logo

Tags
art