Imaji dan Video bersama Renan La-ruan

26.07.17

Imaji dan Video bersama Renan La-ruan

Febrina Anindita (F) berbincang dengan Renan La-ruan (R).

by Febrina Anindita

 

F

Bagaimana awal mula Renan mengenal seni?

R

Itu pertanyaan menarik. Ketika kecil saya tidak terlalu terhubung dengan seni. Saya tumbuh dewasa di Mindanao yang merupakan bagian kecil di selatan Filipina, cukup dekat dengan Sulawesi. Lalu saya pindah ke Manila ketika kuliah, saya berkuliah di universitas negeri yang memiliki museum dan juga akses terhadap buku-buku tentang seni. Tapi saya tidak mempelajari seni atau apapun yang berbau kreatif secara formal pada saat itu.

Saya tidak memiliki latar belakang yang tipikal sebagai seniman atau kurator, yang biasanya telah mengunjungi museum sejak kecil. Saya tidak memiliki pengalaman seperti itu dengan seni.

Sejujurnya saya bahkan tidak mengingat hubungan pertama saya dengan seni (tertawa). Saya tertarik dengan budaya visual, saya penasaran akan banyak hal, bukan hanya seni. Dan saya rasa itu merefleksikan gaya saya dalam mempraktekkan seni yang tidak terlalu terpusat pada seni itu sendiri, namun lebih pada mengeksplorasi banyak hal yang berhubungan dengan seni maupun gambar-gambar. Jadi bagi saya ada suatu kebetulan yang aneh di mana objek, pikiran, dan sebagainya melebur. Dan saya pikir itu menjadi menarik untuk saya, karena saya tidak memiliki standar dalam mensosialisasikan apa itu seni dan kreativitas.

Misalnya pengalaman saya tumbuh dewasa di suatu pedesaan di mana oran gtua saya adalah guru. Jadi meskipun mereka mengenal seni, kita tidak memiliki akses terhadap seni, seperti melalui institusi atau galeri. Kita juga tidak membicarakan tentang pelukis atau semacamnya. Jadi saya tidak bisa memastikan kapan semuanya bermula, sehingga mungkin sekarang pun saya masih menjalani pencarian seni. Tidak ada batas akan apa yang saya sukai dan yang saya coba. Saya juga bukan seorang lulusan sejarah seni, yang memang penting, namun bisa jadi standarisasi tersendiri.

F

Dikenal sebagai kurator, bagaimana pendidikan Renan dalam bidang psikologi di Universitas Filipina membantu Anda dalam melihat seni?

R

Saya kuliah di sebuah universitas negeri yang menurut saya cukup progresif dibandingkan universitas lain. Di fakultas psikologi ada sebuah gerakan mengenai psikologi Filipina, yang merupakan sebuah psikologi pribumi di sana, namun tidak seperti psikologi pribumi pada umumnya. Hal itu merupakan sebuah disiplin dan gerakan di mana ada pertentangan terhadap psikologi Barat. Tidak hanya mengkontradiksi psikologi Barat, namun juga melakukan riset dan menggunakan metode statistik yang konteksnya sesuai bagi kondisi di Filipina. Jadi terasa bagaimana ada kemungkinan untuk melewati batas standar statistik seperti pengukuran psikologis, dan hal itu merupakan sebuah praktek yang kreatif dan imajinatif, karena bukan hanya menentang nilai psikologi Barat, melainkan sebuah proses kreatif di mana praktek kualitatif dibutuhkan. Dengan begitu, praktek ini membutuhkan riset yang menggunakan ‘alat-alat’ dan konsep yang tidak biasa, yang merujuk pada seni.

Seni tidak memiliki standar, selain jika ketika membicarakan sejarah dan ilmu mengenai seni, sehingga cara memandang dan melakukan sesuatu harus diimajinasikan. Menurut saya dengan latar belakang saya di bidang psikologi, hal ini mendorong saya untuk menjadi empiris, namun di waktu yang sama, terikat dengan imajinasi. Saya tidak menggemari seniman, proyek, atau kurator manapun yang tidak percaya akan pentingnya riset. Jadi dengan demikian mungkin bisa dikatakan bahwa praktek saya berbasis pada riset.

F

Anda merupakan direktur DiscLab | Research and Criticism. Bisa ceritakan sedikit mengenai kolektif ini?

R

Kelompok ini dimulai tahun 2012 setelah sebuah workshop mengenai kritik seni di Universitas Filipina. Jadi kelompok kami terdiri dari penulis, pelaku riset, pekerja di bidang kultural, sedangkan beberapa dari kami berasal dari banyak tempat lainnya yang bukan dalam bidang seni. Mengikuti workshop tersebut merupakan pertemuan pertama kami dengan komunitas seni di Filipina. Namun kemudian kami memiliki keinginan impulsif untuk mengartikulasikan ‘seni’ kami dan juga untuk bekerja sama, tetapi hal tersebut kemudian tidak terlalu berhasil. Meski begitu, yang utama ialah untuk memiliki sebuah wadah untuk berkegiatan, dan motivasi untuk bekerja sama ini tanpa adanya pembatas yang juga dilandasi oleh keberanian kami untuk berkarya. Jadi kami memutuskan untuk membuat sebuah organisasi riset dan kritik, yang berjalan secara aktif hingga tahun 2014. Sejak itu organisasi berjalan terputus-putus pada 2015, 2016, hingga sekarang.

Pada dasarnya, organisasi ini meriset seni kontemporer dan budaya visual, namun tetap bertahan pada sifat virtual. Awalnya ide muncul dari kesadaran kita pada adanya rasa kesulitan yang melelahkan ketika harus selalu bekerja bersama-sama. Mungkin ini berbeda dengan di Indonesia, karena saat saya ke Yogyakarta misalnya, ada banyak kolektif. Sama saja dengan di Jakarta, yang meskipun jumlah kolektifnya tidak sebanyak di Yogyakarta, namun banyak orang yang bekerja bersama-sama. Di Manila, jarang terdapat kolektif. Kalaupun ada kolektif, perjalanannya hanya satu atau dua tahun, sebelum kemudian berakhir. Itulah hal yang terjadi pada kelompok kami sendiri, di mana kita merasa kerja sama dan semangat kolektif kita tidak membuahkan hasil.

Banyak anggota kami yang memiliki pekerjaan utama, dan ini menimbulkan potensi konflik kepentingan karena mereka juga bekerja untuk organisasi kebudayaan lain atau berteman dengan banyak seniman, sedangkan kegiatan kita ialah meriset dan mengkritik. Sehingga kemudian kita mengeksplorasi ide untuk menjadikan organisasi kita virtual, yang kadang dikelola hanya dengan satu atau dua orang sehingga prosesnya menjadi lamban, sangat bergantung pada kondisi material. Akhirnya kami kehilangan website setelah dua tahun, dan yang bisa ditemukan hanya website Tumblr.

F

Bagaimana dengan Philippine Contemporary Art Network?

R

Phillipine Contemporary Art Network ialah sebuah institusi publik, namun sekarang belum terlalu demikian sifatnya. Philippine Contemporary Art Network berada di bawah naungan Museum Vargas yang direktur seninya ialah Patrick Flores. Tujuannya untuk memetakan dan memulai suatu riset tentang seni kontemporer Filipina. Sifatnya sangat ambisius, dan tugas saya adalah sebagai penghubung dengan publik dan pelaku riset format artistiknya. Ada 4 orang dalam kelompok ini, ada satu direktur dan 3 departemen. Satu untuk bidang analisa pameran dan kuratorial, satu untuk riset dan publikasi, dan juga ada peran saya yang telah saya sebutkan. Kami menjalankan arahan network ini di bawah pimpinan Patrick, namun demikian kami tetap memiliki otonomi untuk mengembangkan arah dari tiap program.

Nama program saya adalah Ecological Obligatory, dan dua departemen lainnya serta direksi sendiri sifatnya sangat mengacu pada sejarah seni. Peran saya sebagai penghubung dengan publik dan pelaku riset format artistiknya memiliki potensi untuk menjadi lebih interdisipliner dan lebih bisa mencakup banyak hal terkait subjeknya sendiri, jadi ada kemungkinan untuk memetakan lebih banyak subjek dan institusi. Namun gagasan dibalik Ecological Obligatory ialah untuk memetakan hubungan-hubungan lain yang ada yang mengacu pada sejarah seni atau pada formasi senimannya sendiri. Jadi, ada institusi dan infrastruktur berbeda-beda yang diperhatikan, seperti universitas; jadi misalnya saya fokus pada universitas atau departemen seni tingkat provinsi.

Skena seni kontemporer Filipina sendiri selalu berpusat di Manila. Tidak seperti di Indonesia di mana ada skena Yogyakarta atau Bandung, jadi hanya ada Manila saja. Jadi gagasan network ini ialah memetakan semua koneksi yang ada ini, dan untuk memiliki gambaran akan apa saja koneksi yang ada dalam bidang disiplin seni lainnya seperti literatur atau film.

F

Bagaimana 2 wadah tersebut berkontribusi kepada skena seni di Filipina?

R

Phillipine Contemporary Art Network baru dimulai tahun ini, jadi belum ada kegiatan yang kita lakukan. Tapi menurut saya, karena ini akan menjadi sebuah institusi, menurut saya ini akan menyediakan ruang dan alternatif bagi institusi lainnya. Institusi yang posisinya kuat di Filipina saat ini adalah galeri dan museum serta institusi lainnya yang didanai oleh swasta. Dengan kata lain, infrastruktur dalam seni kini didominasi sektor swasta di Filipina. Dan menurut saya melalui gerakan berbasis riset ini, akan ada cara baru dalam memvalidasi dan melegitimasi produksi dan kegiatan seniman dan produser kultural lainnya. Ini juga dapat menarik perhatian pada sejarah dari institusi diluar institusi seni yang sudah ada, kini masih banyak orang yang tidak menyadari bahwa misalnya organisasi yang diinisasi secara mandiri juga termasuk institusi dan berkontribusi terhadap sejarah institusi. Sehingga bisa menjadi menarik untuk memetakan institusi baru ini ke terhadap publik.

Tujuan dari Ecological Obligatory sendiri adalah untuk melihat bagaimana orang-orang memandang obligasi atau kewajiban dan tanggung jawab mereka sendiri terhadap seni dan juga sebaliknya. Melalui organisasi ini, menurut saya meskipun kami hanya terdiri dari beberapa orang yang menjalankannya, kami merupakan satu dari hanya sedikit kelompok anak muda yang memulai sesuatu dari nol, dan kami bukanlah bagian dari institusi akademis apapun. Jadi mungkin orang akan heran atas keberanian kami dalam memulai sebuah organisasi riset dan kritik tanpa dilatarbelakangi apa-apa.

Lima tahun setelahnya, jika dipikirkan kembali mengenai bagaimana kontribusi yang telah kami berikan kepada masyarakat, menurut saya menjadi hal yang baik-baik saja untuk mengatur sebuah organisasi secara mandiri, meski di dalam permulaannya organisasi ini tetap bisa dianggap lemah dan naif, karena itu tetaplah merupakan sebuah awal yang produktif dan generatif. Ini juga menimbulkan suatu kesadaran bahwa kami harus melakukan sesuatu meskipun tidak bersama-sama, bahwa kami harus menciptakan komunitas penuh ide sendiri-sendiri. Saya menyadari bahwa banyak dari mereka dari organisasi awal kami tersebut akhirnya memiliki kolektifnya sendiri.

F

Apakah video art merupakan spesialisasi Renan? Apakah Anda selalu tertarik pada format seni ini?

R

Tidak (tertawa). Seni video memang sangat menarik. Teman saya juga cenderung memperkenalkan saya sebagai seseorang yang mengkurasi seni video, dan kemudian terdengar seolah saya adalah seorang ahlinya (tertawa). Namun saya tidak merasa begitu. Saya tidak menyukai spesialisasi. Menurut saya hal tersebut hanya memberi batasan dalam berkarya dan berkomunikasi karena semua hal menjadi terkotak-kotakan. Seperti misalnya ada instalasi video, dan orang-orang jadi bertanya-tanya apakah ini instalasi ataukah seni video. Saya lebih tertarik pada bagaimana hal-hal itu saling merumitkan satu sama lainnya.

F

Merumitkan (complicate) bukan melengkapi (complement)?

R

Ya. Menurut saya merumitkan suatu hal merupakan hal yang produktif dan generatif. Orang-orang cenderung terlalu takut untuk menjadikan suatu hal rumit, dan sepertinya ini yang terjadi pada orang-orang secara umum dan juga di Filipina. Dengan banyaknya fenomena yang ada, menurut saya, kita perlu merumitkan banyak hal. Alasan mengapa saya selalu mengkurasikan seni video dan melakukan screening adalah karena materinya.

Video itu mudah untuk dikurasikan. Itu juga menjadikan saya sebagai seorang seniman yang riskan karena berbasis di Asia Tenggara, Manila, atau di Jakarta sekarang, yang tidak memiliki akses yang sama seperti rekan-rekan yang ada di New York atau Berlin, Hong Kong atau Singapura di mana ada institusi dan pendanaan serta peralatan yang memadai dan ada banyak tuntutan. Sehingga menurut saya bekerja dengan video menjadi lebih efisien dibanding dengan lukisan misalnya. Karena saya tidak bisa meminta seorang seniman di Singapura untuk mengirimkan saya lukisan, saya tidak bisa memastikan lukisan tersebut akan sampai tanpa rusak, karena lagi-lagi tidak ada biaya.

F

Bicara video, sifatnya yang mengizinkan seniman untuk bereksperimen dengan gerakan dan mengkombinasikan beragam elemen – salah satunya musik. Apakah sifat tersebut membuat video bisa menangkap diskursus yang lebih kompleks dari forman seni lainnya?

R

Pertama, kita tidak boleh tertipu oleh teknologisasi dari gambar-gambar. Karena beberapa hal mungkin terlihat kompleks ketika diproyeksikan atau nampak seolah bergerak. Sebagai contoh, ada satu karya dalam festival OK Video 2017 di mana ada video mengenai jamur di dalam kulkas namun hampir statis sehingga terlihat sebagai sebuah foto. Tapi jika diperhatikan dengan seksama, jamur itu sebenarnya bergerak. Jadi menimbulkan pertanyaan mengenai mampukah video menangkap pergerakan tersebut? Atau mampukah penonton menangkap pergerakan tersebut? Atau jika itu merupakan sebuah foto atau potongan gambar statis dari sebuah video, apakah pergerakannya masih akan sama? Maksud saya, medium seperti video, instalasi, internet, atau media sosial menyediakan berbagai bentuk bagi penyimaknya dan memungkinkan adanya sebuah bahasa seni. Tapi tidak berakhir di situ.

Video sebagai sebuah medium, menurut konteks yang saya pahami, menjadi berbeda bagi berbagai orang yang memiliki akses terhadap teknologi yang lebih memadai, atau dengan kekayaan atau infrastruktur yang lebih baik. Mereka menjadi memiliki hubungan yang berbeda dengan video, dengan bagaimana mereka berpikir tentang video tersebut. Di Asia Tenggara, misalnya, kita sedang mencoba memahami apa itu gambar yang bergerak.

Dan menurut saya, ketertarikan saya tidak terletak pada video itu sendiri melainkan pada gambar yang bergerak. Apa itu sebuah gambar yang bergerak ketika sudah menjadi sebuah video dan ditayangkan atau ditampilkan sebagai sebuah bentuk seni? Ini menjadi pertanyaan yang hampir selalu bersifat ontologis bagi saya. Apa itu gambar yang bergerak? Apa itu sebuah video? Dan saya rasa itu juga menunjukkan hubungan saya dengan seni di mana saya sebagai seniman kuratorial berurusan dengan gambar, sehingga ketika melakukan pameran, saya pun menjadi tertarik dengan teksnya. Teks kuratorial bagi saya sama pentingnya dengan karyanya sendiri, dan harusnya bekerja sama dengan karya tersebut. Jadi menurut saya tidak ada hierarki antara lukisan, instalasi, video dan teks.

F

Ketika membahas penjualan dalam industri seni, video art sangat susah untuk dijual karena untuk menikmatinya atau mengetahuinya sebagai sebuah karya adalah dengan instalasi atau diproyeksikan ke dinding. Apakah karena hal tersebut, video dianggap terlalu eksperimental bagi para koletor seni?

R

Mungkin para kolektor kesulitan menemukan tempat untuk memproyeksikannya. Saya tidak pernah bekerja dalam sebuah galeri, jadi saya tidak begitu memahami statistik dan dinamikanya dengan seni video. Tapi saya pernah mendengar dari beberapa seniman bahwa video memang tidak semudah lukisan untuk dikoleksi. Meski begitu, banyak kolektor-kolektor muda yang mulai mencari video untuk dikoleksi. Dan menurut saya itu merupakan hal yang bagus, walaupun ada pemahaman bahwa mengoleksi video memang sulit, dan membayangkan bagaimana cara mengkoleksinya juga susah.

Menurut saya jika ada kesulitan dalam mengoleksi video itu merupakan pertanda yang baik, karena itu artinya butuh waktu yang lebih bagi mereka untuk memahami apa sebenarnya isi video itu. Dan itu berarti seniman terkait bisa memiliki waktu lebih untuk berkarya lagi, dan mereka tidak akan dianggap sebagai sebuah mesin yang hanya memproduksi karya seni untuk dikonsumsi publik. Sehingga pemahaman yang lamban terhadap seni video tersebut justru menjadi hal yang baik.

F

Terlepas dari formatnya, video art mampu memberikan audiens pengalaman berbeda dalam menerima ide dalam bentuk audiovisual yang mampu dijadikan bahan diskusi lebih lanjut. Secara psikologi, sejauh mana audiens menyimpulkan ide dari tiap video art?

R

Menurut saya, begitu seorang seniman menampilkan karyanya kepada publik, ia harus mulai menghilangkan rasa kepemilikannya atas karya tersebut, karena sudah tidak lagi menjadi miliknya. Ketika seniman dan kurator bekerja sama misalnya, mereka hanya bisa berspekulasi bagaimana masyarakat akan menerimanya atau berhubungan secara batin dengan karya yang ditampilkan. Dan menurut saya itu termasuk sebuah keindahan dari seni, yang berkontradiksi dengan pemahaman fundamental bahwa akan ada kesulitan antara karya dengan penyimaknya untuk saling memahami. Dan dalam seni, ini menjadi sesuatu yang tidak bisa diprediksi.

Seorang seniman tidak bisa mendikte bagaimana karyanya akan diulas, karena sekaku apapun karya seninya, karya tersebut tetap akan bisa ‘melepaskan’ dirinya kepada penyimaknya. Jadi karya itu tidak bisa dimiliki, melainkan memiliki parameter keindahannya sendiri, meski tentunya ada saja karya yang tidak seindah lainnya. Sebuah karya seni juga bisa ‘membalas dendam’ dan ‘berbicara kembali’ terhadap penyimaknya. Seperti dalam psikologi misalnya, butuh waktu untuk bagi seseorang membalas sesuatu karena membutuhkan adanya mediator seperti seorang psikolog. Sedangkan dalam seni, ada sistem feedback yang mengakomodasi.

F

Untuk bisa memproyeksikan perasaan, simbol dan ide ke dalam gerakan (motion) atau video tentunya merupakan pekerjaan yang membutuhkan konstruksi. Se-eksperimental apapun seorang seniman dalam membaut video art, apakah mereka harus memikirkan para audiens – karena kadang pesannya terbayangi oleh estetika sehingga membuat karyanya tidak mudah untuk dimengerti?

R

Menurut saya, seniman harus ‘murah hati’ terhadap audiensnya. Bukan berarti seniman atau kurator harus selalu melayani publik, audiens, atau kolektornya, tapi ia harus ‘murah hati’. Saya tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya, namun ada saja kurator yang tidak mengerti ketika menilai material yang digunakan oleh seniman dari Asia Tenggara seperti Filipina atau Indonesia, di mana sering terjadi penilaian misalnya mengenai mengapa bahan yang digunakan terlalu murah dan lainnya. Berdasarkan pengalaman saya, banyak seniman yang memikirkan audiens mereka, jadi mereka tidak hanya memperhatikan estetika namun juga rasa kewajiban untuk mendidik. Namun juga ada seniman yang lebih berada yang justru tidak mempedulikan hal tersebut dan hanya memperhatikan estetika.

F

Renan merupakan salah satu kurator OK. Video: OK. Pangan dan kali ini tema yang diangkat adalah politik pangan. Dulu di 2015, Anda juga mengkuratori pameran “Herding Islands…” yang secara tidak langsung memiliki kemiripan tema. Menurut Anda, apa yang membuat tema isu politik pangan menjadi seksi untuk diperbincangkan?

R

Mungkin perlu diperhatikan perbedaan antara proyek tersebut dengan OK. Video. Proyek tersebut sifatnya kuratorial yang dipimpin saya sendiri dengan beberapa kurator lainnya, dan itu merupakan proyek independen. Tapi kalau OK. Video adalah proyek institusional dan memiliki sejarah panjang dengan berbagai inisiatif lain. Kalau dengan “Herding Islands…” ada dua tujuan utama. Yang pertama adalah alasan organisasi karena saya ingin bekerja dengan orang-orang yang saya kagumi, yang mayoritas adalah kurator dan rekan-rekan. Saya juga ingin memiliki sebuah wadah yang meskipun tanpa dana, kami tetap dapat bekerja sama namun dalam konteks produktif dan menarik, seperti dengan latar universitas. Universitas yang dimaksud berada di luar Manila, namun mendedikasikan dirinya bagi pengembangan, dan di sebelahnya ada bangunan riset pangan. Sehingga, keseluruhan proyek menjadi spesifik dari segi institusinya.

Sedangkan OK. Video tidak menyebutkan bahwa pameran ini terlahir dari latar belakang seperti itu, sehingga memiliki timeline-nya sendiri dan masih perlu berkembang lagi lebih jauh. Memang topik politik pangan menjadi sebuah topik yang menarik, dan tidak hanya mencakup seni namun mencakup gaya hidup secara luas, seperti fashion dan pangan, di mana setelah dikonsumsi publik bisa terbentuk berbagai aspirasi baru dan gaya hidup baru sendiri. Dan mungkin itu merupakan bentuk kapitalisme yang lebih bergengsi untuk dipandang, di mana hal itu bisa menarik perhatian banyak orang dari generasi yang lebih muda. Seperti industri pangan misalnya, ia masih berhubungan dengan korporasi dan agenda tertentu. Dan menurut saya ketika OK.Video berkomitmen untuk membahas pangan, OK. Video menjadi menyediakan sebuah pendekatan yang lebih rumit terhadap topik tersebut. Mungkin tidak ada afiliasi politik yang jelas di baliknya, namun tentunya tetap bisa merumitkan bahasan tentang politik makanan. Seolah ada cara-cara baru yang ditawarkan dalam bahasan mengenai pangan, ada yang dijadikan highlight dan ada juga yang dimarjinalisasikan.

F

Sebelum OK. Pangan dibuka, Renan sempat melihat persiapan beberapa seniman. Apakah ada yang karyanya menarik perhatian Anda?

R

Ada 27 seniman yang berkontribusi dalam pameran ini, dan ada 9 proyek open lab. Jadi ada sekitar lebih dari 30-40 seniman yang berkolaborasi dengan kami. Timnya terdiri dari saya sebagai salah satu kuratornya, dan kami memiliki sebuah tim kuratorial yang terdiri dari asisten kurator. Saya sudah ke Jakarta pada bulan Januari, Mei, dan sekarang (Juli) 2017, di mana tujuannya adalah untuk melakukan riset lapangan dan kunjungan lapangan yang tidak melulu harus ke studio seniman. Ada berbagai macam pihak yang bekerja sama dengan kita, sehingga menjadi sulit untuk menentukan siapa dan mana saja yang menonjol dan menjadi lebih penting dibandingkan yang lainnya karena mereka juga merespon berbagai isu yang berbeda-beda, menggunakan teknologi yang berbeda-beda, juga mereka memiliki konteksnya masing-masing. Sehingga melalui OK. Video, lapisan-lapisan yang berbeda-beda itu justru akan terlihat, dengan tingkat intensitas yang bervariasi dari seluruh rangkaian pameran.

F

Proyek apa yang sedang Renan siapkan setelah OK. Video ini?

R

Oktober mendatang saya akan meluncurkan sebuah proyek di Berlin, judulnya The Artist and The Social Dreamer. Proyek ini secara garis besar akan mengeksplorasi pidato dari pemimpin-pemimpin dunia. Saya bekerja sama dengan seniman dari Indonesia – Irwan Ahmett, Filipina, Spanyol, dan Iran. Proyeknya akan berlangsung di House of the World’s Cultures, Berlin dan menjadi bagian dari rangkaian Forecast Festival. whiteboardjournal, logo

Tags
art