Musik dan Rasa bersama Eros Djarot

13.09.17

Musik dan Rasa bersama Eros Djarot

Muhammad Hilmi (H) berbincang dengan Eros Djarot (E).

by Febrina Anindita

 

H

Bagaimana rasanya tumbuh di keluarga yang lekat dengan kesenian?

E

Kakek saya dulu seorang yang tenar, semacam bupati, tapi dia juga merupakan seorang pelukis dan pemahat yang baik. Kalau bapak saya tentara. Tentara mana ada keseniannya? Seninya perang. Tapi mungkin seni datang dalam bentuk yang berbeda, umur 9 tahun saya sudah tidak kenal ibu karena perceraian, ini juga dialami oleh Mas Slamet Rahardjo. Jadi karena itu mungkin ekspresi kami lebih ke dalam. Dari kecil sudah dilatih untuk, katakanlah, longing. Sense of longing-nya itu dari kecil. Sehingga kami menjadi romantis dan sensitif. Dari kecil sudah mengembangkan perasaan itu. Sebenarnya, diawali dari seni kehidupan, bagaimana melawan perasaan sedih dan rindu dengan ibu yang hanya bertemu setahun sekali. Kalau hari ibu, anak-anak ke sekolah pada bawa ibunya, saya sama Mas Slamet sembunyi di kolong tempat tidur, gak mau sekolah. Kalau ditanya bapak, “Kok, gak sekolah?”, “Gak, gak mau.” Takut ditanya Ibunya dimana.

Ternyata itu yang jadi pendambaan sekian lama. Perasaan menyendiri dan pemberontakan dari dalam yang membentuk kami semua. Mungkin, falsafah-falsafah itu datang dari kakek saya. Dari kecil kami sudah diajarkan filsafat, karena menurut kakek saya hidup tanpa filsafat itu seperti binatang, “Apa bedanya kamu dengan binatang dan tumbuhan?” Karena mempertanyakan apa tujuan hidup, mengapa kita hidup, dan untuk apa kita hidup, itu pertanyaan kebudayaan. Sehingga dalam proses pengembangan intelektual dan kesenian kami tidak bisa meninggalkan ajaran-ajaran falsafah.

Akhirnya kami terbiasa menginterpretasikan. Kalau ditanya, “Matahari itu seperti apa?” Kami bisa bilang merah, hijau, biru, tergantung hati kami. Kenapa bisa begitu? Karena ada peristiwa. Sebuah proses yang dibentuk.

H

Kenapa memilih musik sebagai bidang yang didalami?

E

Dulu saya orang organisasi. Saya memimpin organisasi di bawah Bung Karno. Saat kejadian 1965 itu kami stres. Tidak boleh berpolitik. Sedangkan saya mengurus organisasi yang seperti itu dan terkait dengan kegiatan-kegiatan sosial politik. Saat masih SMP sampai awal SMA seperti itu, jadi, saat SMA kelas 2 ke atas full tidak boleh berorganisasi sama sekali. Stres, kan? Akhirnya saya belajar bermain gitar. Jadi baru SMA saya belajar gitar, itu di era dimana Bung Karno melarang musisi lokal membawakan musik ala Beatles.

Karena terbiasa mengungkapkan perasaan, seperti saya membuat puisi, itu mempermudah saya masuk ke sana. Bekal sebetulnya yang dipakai adalah pengalaman rasa, itu bekal kami masuk ke dunia musik. Masalahnya hanya teknis aja, tapi pendalaman, pengertian, menggali dan memunculkan estetika itu sudah tidak asing bagi kami. Bagaimana mencari rasa yang paling tinggi nilainya itu sudah terbiasa. Maka saya tidak terlalu memperdalam masalah teknisnya.

Saya bukan pemain gitar yang hebat, bukan pula pianis yang hebat. Saya hanya mendalami bagaimana menerjemahkan rasa ke dalam musik. Awalnya saya juga sempat sekolah teknik jadi saya menggunakan logika matematika dalam berkarya. Saya sekolah teknik di Jerman, tapi kemudian saya di Inggris justru sekolah film, bukan musik. Saya merasa semua latar belakang bisa dijadikan dasar untuk berkesenian.

Sekarang orang banyak yang jadi sangar karena jiwanya jauh dari kesenian. Dia hanya mengkonsumsi dogma, dogma, dogma. Jadilah begini, saling bunuh, saling fitnah, hoax, menyebar kebencian, tak punya rasa kasih sesama manusia, membunuh atas nama agama juga disahkan, itu karena gak ada kesenian. Bagi saya, kesenian itu fungsinya menghaluskan rasa. Saya jadi lebih bisa menghormati dan mengapresiasi semua yang ada sebagai ciptaan Tuhan. Sebetulnya dengan berkesenian kita jadi lebih mudah berkawan dengan Tuhan.

Makanya saya aneh kalau melihat orang baca ayat suci pakai gamis kok marah-marah terus? Ini tuhannnya yang mana sih? Kok Tuhan bagi saya damai-damai saja, Tuhan saya selalu senyum, merangkul saya, memberi kehangatan saat saya tidur. Itu Tuhan saya.

H

Anda mulai mengerjakan soundtrack film di usia muda, bagaimana prosesnya ketika itu?

E

Percaya saja. That actually you can do it, and do it well. Persyaratannya satu, kalau sedang mengerjakan sesuatu, pour it with love. Tuangkan cinta sebanyak mungkin dalam kerjaan kamu.

Prosesnya sih ketemu saja. Sebenarnya, saya mendapat kesempatan itu untuk menjawab tantangan karena waktu itu saya orangnya suka mengkritik. Waktu itu menonton filmnya Teguh Karya, “Kawin Lari” (1975), tokoh utamanya Christine Hakim dan Mas Slamet. Saya lalu berkata, “Film ini kok secara psikologis tidak bisa dipertanggungjawabkan?”, Saya lantas dimarahi, “Kamu jangan banyak ngomong, buktiin, kalau cuma ngomong aja semua orang bisa, coba kamu bikin musiknya.” Demi Tuhan, saya tidak mengerti sama sekali harus buat apa (tertawa).

Saya lalu melihat berbagai macam film. Saya pinjam dan menonton beberapa. Kok, tidak ada yang memakai keroncong? Biar nyentrik dan lain sendiri, saya pakai lagu keroncong. Caranya bagaimana waktu itu? Saya matikan suara TV. Kalau ada adegan orang jalan, saya buat nada dengan mulut dulu. Yang paling penting satu, kecerdasan. Makanya saya setuju kecerdasan emosional, kecerdasan pikiran, dan kecerdasan spiritual itu harus sama-sama.

Sebenarnya prosesnya hanya itu. Tidak terpikir menang Piala Citra, lagunya jadi saja sudah untung. Saat dapat Piala Citra, dari situlah orang bilang saya music director. Music director dari mana? Di “Badai Pasti Berlalu” (1977) saya masuk sebagai music director, seolah-olah membuat musik, tapi kan bukan seperti Idris Sardi. Saat itu saya masih belia, masih belum menikah, jadi mesinnya masih liar. Lihat saja kata-katanya, sok tahu banget untuk anak 26 tahun, belagu banget. Ada dendam ingin mengungkapkan semuanya, saat kita adoring someone, keluar semua itu. Kata kata yang nggak jelas itu, indah-indah itu.

Saya dulu pacaran kan gak ada internet. Kami masih pakai surat, tapi lebih enak. Kita bisa menuliskan kata-kata seperti “Dari balik jendela ini aku melihat daun itu berguguran, setiap satu jatuh, jatuh ke tanah itu, semakin rinduku tertanam untukmu”. Sekarang orang pacaran datang pelukan, paling nanti ngobrolnya via sms, “Udah bobo say?” Matinya dunia sastra itu gara gara gadget itu. Gadget-gadget ini haram jadah. Kita tak bisa berkata-kata sepanjang itu. Pemiskinan keindahan. Kata-kata yang digunakan untuk mengambarkan suasana hati yang lebih indah dengan bunga-bunga yang berwarna warna itu, karena apa? Biasanya ada pembatasan karakter, dan dari pembatasan itu mulai hancur estetika. Saya tak mau dihancurkan. Saya pakai gadget, tapi tetap menggunakannya untuk ngomong yang lebih indah. Saya tak mau surrender to the kingdom of evil. Saya nulis artikel banyak juga dari gadget ini.

H

Bagaimana proses saat mengerjakan salah satu soundtrack terbaik sepanjang masa, “Badai Pasti Berlalu”?

E

Dulu kan bandel. Belum menikah. Dulu kami kalau buat lagu tidak terpikir untuk jadi tenar atau punya banyak uang. Jadi itu very personal. Subjektivitasnya sangat tinggi, lagu-lagu saya menggambarkan saya.

Saya minta Yockie Soerjoprajogo untuk arrange lagu ciptaan saya. Pada awal “Badai Pasti Berlalu”, saya masih banyak involve dalam hal tersebut. Di lagu-lagu Chrisye, saya, dan Yockie. Saya pasti yang membuat not dan liriknya. Boleh dikatakan 100% lagu-lagunya Chrisye dari “Nona”, “Metropolitan”, dan “Badai Pasti Berlalu”, liriknya oleh saya semua. Not lagunya hampir 90% saya. Kalau aransemennya itu Yockie 95% dan Chrisye 5%. Chrisye menyanyi 100%, karena suaranya paling bagus di antara kami. Meskipun begitu jangan dikira Chrisye itu nyanyi langsung jadi, tidak juga. Ada beberapa kali potong. Seperti lagu “Pelangi” itu berapa kali take. Dulu rekaman kalau salah tidak bisa seperti sekarang. Analog cuma 8 track, dikembangkan seolah-olah 16 track.

Di “Badai Pasti Berlalu” ada Debby Nasution yang mengaransemen 4 lagu. Setelah itu saya pisah dulu sama Debby. Untuk “Badai Pasti Berlalu” versi film, Debby tidak ikut serta sama sekali. Tapi di side sebaliknya (versi album), semua aransemennya oleh Debby, bukan Yockie. Seperti “Angin Malam” itu sepenuhnya Debby. Begitupula “Khayalku”. Kalau “Cinta” itu separuh-separuh antara Yockie dan Debby. Kalau 100% aransemen Yockie itu di “Badai Pasti Berlalu” versi film.

Yang lucu, di masa-masa ini pula awal-awal Chrisye bikin lagu. Judulnya “Merepih Alam”, dia waktu itu datang ke saya, “Ros, gue udah lama main musik, gimana sih cara bikin lagu?” Saya lalu menjawab, “Lah lu penakut aja.” Saya suruh duduk, suruh main, “Lu nyanyi deh, lu punya nada gak?” Jadilah Merepih Alam. Itu lagu dari dia, dan lirik dari saya. Setelah itu dia mulai menulis lagu tapi sempat bilang ke saya saat saya tinggal ke Genoa, “Eh gue bisa bikin lagu, tapi liriknya gue comot-comot dari lu gak papa ya?” Saya tertawa, silahkan pakai saja.

Memang ada peristiwa yang luar biasa. Semua tercipta karena perempuan, dan hanya itu. Sama sekali tidak ada pikiran ingin jadi kaya karena musik. Keinginan untuk terkenal juga tidak ada. Saat dapat Piala Citra juga saya sedang di Eropa, jadi tidak mengerti apa-apa. Makanya di rumah saya tidak pernah ada Piala Citra. Kalau ditanya “What is your best song?” Ya yang akan datang. Capek juga hanya tengelam di Badai, kalau diajak-ajak lagi agak capek sebenarnya buat kesana. Bagi saya, let Badai be Badai when I was in my age, 26.

H

Berapa lama proses pengerjaan Badai Pasti Berlalu?

E

Cukup cepat, sekitar 2 bulan. Tiga bulan karena saya belajar piano dan segala macamnya. Yang menarik, karya saya – termasuk lagu-lagu Badai Pasti Berlalu – dan karya Guruh yang memuaskan secara kualitas itu lahir di satu rumah bernama Rumah Sriwijaya nomor 26, itu rumah Ibu Fatmawati. Itu memang rumah kreatif. Di situ karya bagus bisa muncul, mungkin ada jinnya di situ (tertawa).

H

Bagaimana kemudian latar belakang musik tadi membantu saat Anda menjadi sutradara di Tjut Nja’ Dhien?

E

Orang kalau mengerti musik dan tempo, editing (film) menjadi mudah. Lebih menguasai karena kita mengerti tempo dan ritme. Saya memang sekolah film sih. Bahkan tadinya karena saya tidak mau bersaing dengan kakak saya, saya hanya jadi technical advisor di sanggar. Eksperimen pertamanya itu film “Di Balik Kelambu” (1983). Untuk eksperimen lighting, itu film “Seputih Hatinya, Semerah Bibirnya” (1980). Kemudian, yang direalisasikan secara histerik itu film Teguh Karya, “Doea Tanda Mata” (1985). Jadi menurut saya perubahan itu tidak masalah.

Saya tidak merasa bisa sombong karena saya tahu karya-karya besar di luar sana. Kalau orang bilang bahwa karya Mas Eros hebat, saya tidak tahu. Saya memang bukan yang secara religious seremonial yang tinggi menjalankan syariat ketat, tapi I believe in God. Saya merasa, jangan-jangan saya cuma digunakan oleh Beliau yang ada di atas sana untuk menyampaikan. Ada yang bilang, katanya kalau bikin Cut Nyak Dien sutradaranya pasti mati, saya sehat-sehat saja. Why? because I believe in God. Saya tidak berani sombong, karena saya bisa apa kalau-kalau nanti Tuhan tidak lagi memberikan kesempatan bagi saya. Masalahnya, sering dibikin seolah-olah hebat biar keren. Jadi seolah saya adalah seniman yang menciptakan lagu di pohon beringin dan nggak mandi-mandi. Padahal tidak juga, biasa-biasa aja. Itu kenapa saya tidak pernah dandan macam-macam, buat apa, tidak penting.

Saya sering menolak saat ditawari untuk menyanyi. Saya bukan penghibur, saya seniman. Jadi penghibur itu cuma menyenangkan publik saja. Kalau saya tampil, Anda mendengarkan, senang boleh, nggak senang juga boleh, pulang pun boleh, asal tidak berisik. Kalau seniman tidak punya kesombongan seperti itu, buat apa jadi seniman? Sudah tidak punya duit, tidak punya kesombongan itu melarat total. Bukan kesombongan dalam artian, “mentang mentang jadi seniman makan di warteg gak mau” itu goblok. Itu kebodohan. Mentang-mentang sudah terkenal, tidak mau naik ojek, what’s wrong? It’s nice.

Nah, mereka yang terperangkap ke sana biasanya akhri-akhir hidupnya kesepian, karena merindukan sorotan. Dia ingin berada terus di pusat perhatian, padahal sebenarnya posisi paling enak itu di tepian, sembari berjajar melingkar, berputar terus. Itu kenapa saya memilih terus berputar daripada diam di satu titik central. Yang lain berputar, kita diam. Itu kan falsafah, jadi ya kebiasan seperti itu.

H

Anda mengalami salah satu masa keemasan di industri kreatif lokal, musik sedang bagus-bagusnya, dan film pun demikian. Bagaimana sebenarnya keadaan saat itu?

E

Tidak juga. Saat “Tjut Nja’ Dhien” (1988) kan ada pemberontakan. Jadi tidak benar juga. Sebetulnya, sampai kapanpun bisa melahirkan karya-karya besar. Permasalahannya tidak ada pemikiran besar, tidak ada hati yang besar, dan tidak ada ruang besar yang diciptakan, karena termakan oleh kebanggaan.

H

Belakangan film Indonesia sedang berkembang pesat. Bagaimana Anda melihat perkembangan ini jika dibandingkan dengan industri film zaman dahulu?

E

Film dan musik Indonesia sekarang itu keren, tapi tidak ada soul-nya. Tidak ada jiwanya. Tidak genuine. Genuinitasnya tidak terlihat, dan genuinitas itu datang dari originalitas. Banyak yang meniru-niru.

Makanya kenapa artis-artis dangdut itu banyak membumi. Di kampung-kampung bisa membuat gerakan besar. Sayangnya, (musik) tidak di-maintain dari (konteks) dunia ekspresi, kalau tidak ke dakwah, ke erotisme. Sayangnya ke situ. Pengembangannya diarahkan jadi satu arah. Padahal (kalau musik dijadikan sebagai dunia ekspresi) itu keren lho. Kalau dulu kan ada pendekatan sosial politik. Pendekatan sosial politiknya cukup tinggi. Kedua arah itu tidak akan mati.

H

Menurut Anda di zaman sekarang musisi atau sutradara yang mendekati originalitas itu siapa?

E

Saya tidak terlalu memerhatikan ya. Saya sebenarnya suka sama ini suka, itu suka. Banyak orang-orang yang naiknya di persimpangan. Sekarang, everybody can be a singer. Everybody can be a musician at any time. Dulu kami harus mencari studio. Kalau buat musik, tunggu dulu, siapa yang mau mempromosikan? Kalau sekarang buat sendiri, menyanyi sendiri, lalu masukkan ke YouTube, selesai. Sekarang panggung di mana-mana, kapan saja. Dulu kan panggung terbatas, tidak di mana saja. Dan satu, usaha itu jauh lebih susah dari dulu, karena (sekarang sudah) mudah. Sama seperti hukum ekonomi, pada saat permintaannya itu rendah tapi produksinya lebih tinggi, pasti menurun. Harga juga jadi terbanting. Itu yang menyebabkan juga kenapa (musik dan film sekarang) tidak bisa bertahan lama.

Jadi apa permintaan yang paling mahal? “Aku rindu musik yang seperti dulu, lho.” Nah, “dulu”-nya juga tidak didefinisikan. Begitu kemarin Swara Gembira pentas, banyak anak muda yang datang. Seribuan lebih. Sepertinya ada kerinduan, “Kok yang dulu-dulu asik, ya?” Kenapa? Karena lirik yang ditorehkan mewakili rasa yang masih bersambung dengan nada yang kesehariannya dekat dengan telinga.

Kadang-kadang, anak-anak sekarang jauh dari filosofi. Padahal sayang. Hebat-hebat anak-anak sekarang. Cerdas-cerdas. Sayangnya, kalau istilahnya, seperti ada orang cantik tapi tidak ada rohnya. Ini sangat disayangkan. Saya tidak setuju sama orang tua yang bilang anak sekarang begini begitu. “Lha, itu lo sendiri kan yang bikin?” Dan orang-orang tua tadi juga tidak memberi contoh yang bagus. Korupsi segala. Saya optimis bahwa anak sekarang itu bisa.

Seperti saat Swara Gembira. Tim Swara Gembira datang ke saya, banyak ngobrol. Saya lalu diajak nonton Suara Disko. Tempatnya sangat penuh dan penontonnya keringetan. Saya sempat heran itu lagu-lagu Indonesia semua yang di-discoin. Lagu-lagu lama semua. Mereka lahir pun belum. Jadi airpun belum. Tapi saya ikut nyanyi sama-sama.

Saya selalu optimis pada generasi muda, yang penting satu, orang tua jangan menyalahkan anak muda terus. Ajak mereka. Kita juga harus punya waktu memahami mereka. Tapi justru itu interaksi antar generasi ini. Sekarang ada kesombongan gerenasi baby boomers yang tidak mau bersentuhan dengan millennial. Begitupun millenial, “Ah tuir tuir, males.” Yang baby boomer tidak mau bahasa atau idiom millennial, dan yang millennial pun juga tidak mau tahu idiom dan bahasa sini. Saya mencoba untuk mendekatkan itu. Bisa juga. Itu udah kayak anak sendiri. Ngomong santai aja gitu. Saya diuntungkan dengan bergaul gitu. Saya muda terus.

H

Menyambung dengan yang Anda singgung sebelumnya, belakangan anak-anak muda mulai banyak mendengarkan musik Indonesia era lama, semakin sering ada pesta bertema musik disko lokal, dan terakhir Swara Gembira. Apakah itu usaha mereka untuk mencari yang lebih dekat dengan mereka?

E

Itu proses natural yang selalu akan terjadi. Jadi ada siklus. Kalau lihat anak-anak muda seperti itu tidak usah khawatir, tenang-tenang saja. Tidak usah berlebihan juga dengan melarang-larang, lalu dikecam. Biarkan berkembang. Daripada dikecam, lebih baik diberitahu.

Hal yang seperti itu yang harusnya dilakukan oleh musisi-musisi tua. Sekarang musisi tua malah berkelompok sendiri. Malah jadi ada pendekatan segregatif. Itu buat saya tidak sehat. Ya, saya sih bergaul sama siapa saja.

H

Apakah ada rencana untuk menghidupkan kembali OST Badai Pasti Berlalu, dalam bentuk pentas musik atau reissue album tersebut?

E

Reissue oke-oke saja. Asal orang-orang senang, saya oke-oke saja. Saya sebenarnya ingin membuat konser yang lain. Saya sudah bilang sama Adie MS, dia bilang, “Nanti deh, Mas, tahun depan.” Mungkin lagu lama 2-3 buah, tapi ada 12 lagu baru. Kalau “Badai Pasti Berlalu” lagi, seperti tidak move on. Bukan saya yang mau bikin konser itu, tapi kalau ada yang mau buat konser itu, silakan saja.

H

Apa musik yang bisa merepresentasikan Indonesia menurut Eros Djarot?

E

Itu sulitnya, tapi itu juga sekaligus itulah indahnya. Karena Indonesia itu kaya dengan rasa. Kalau bicara soal Indonesia, maka kita bicara dari Sabang sampai Merauke. Indonesia membentang dengan sekian etnik, bahasa, kesenian. Apa itu yang namanya Indonesia? Kita bisa menjustifikasi itu lewat bahasa dulu. Keseragaman bahasa sudah tercapai. Tapi keseragaman estetika sepertinya tidak bisa. Tapi ada yang namanya standar keindahan lagu.

Kebanyakan masih membuat lagu dari kepala, bukan dari hati. Tapi saat musisi menulis lagu dan lirik dengan sepenuh hati, rasanya publik juga akan merasakannya. Terakhir saya sempat melihat salah satu lagu dari band Armada, di youtube dia telah diputar jutaan kali. Itu karena dia mewakili rasa. Kalau ditanya mengenai Indonesia. Rasanya yang seperti Armada itu tahu the flavour of Indonesia. Kata-katanya bagus, mewakili rasa. Nah, banyak yang tidak mewakili itu.

Armada represent peristiwa manusia. Dia mewakili peristiwa budaya. Sementara yang lain itu bunch of words yang mewakili pikiran. Armada sepertinya pernah patah hati, atau teman baiknya patah hati. Karena kalau tidak pasti tidak bisa se-riil itu. Saya tidak yakin itu datang dari otak, tapi dari hati.

H

Apa rencana mendatang?

E

My real desire itu bikin opera. Tapi itu nanti. When I’m reaching 70. Tema masih mencari, apakah saya ambil cuplikan cerita kuno? Mungkin. Masih belum tahu. Yang kedua apakah saya nanti masih mampu juga.whiteboardjournal, logo

Tags