Rendering Regime

24.10.15

Rendering Regime

by Ken Jenie

 

Pameran Besar Seni Lukis Jakarta:
RENDERING REGIME

Andrew Delano, Bunga Yuridespita, Dwi “Ube” Wicaksono Suryasumirat, Gadis Fitriana, Guntur Wibowo, Haris Purnomo, Hauritsa, Henry Foundation, Ipong Purnama Sidhi, Iswanto Hartono, Ito Djoyoatmojo, Jayu Julie, Jerry Thung, Jimi Multhazam, Kemalreza Gibran,KP Hardi Danuwijoyo, Monica Hapsari, Mushowir Bing, Reza Afisina, Ricky Malau, Rio Farabi, Rishma Riyasa, Ruth Marbun, Saleh Husein, Sony Eska,Tatang Ramadhan Bouqie, Tiar Sukma Perdana, Vonny Ratna Indah, Vukar Lodak, Yusrizal.

Kurator: Leonhard Bartolomeus

Pembukaan:

Sabtu, 24 Oktober 2015 | 19.00 – 22.00 WIB
di Galeri Cipta III

Pertunjukkan Musik:
Efek Rumah Kaca
We Love ABC

Pameran:

25 Oktober – 13 November 2015
11.00 – 20.00 WIB

di Galeri Cipta II & III
Jl. Cikini Raya No.73
Taman Ismail Marzuki
Menteng, Jakarta Pusat 10330

Gratis!

***

Tur Bersama Kurator

Sabtu, 31 Oktober 2015 | 14.00 – 16.00 WIB
Sabtu, 7 November 2015 | 14.00 – 16.00 WIB

*Berkumpul di Galeri Cipta II selambatnya 30 menit sebelum tur berlangsung

*Bebas dan terbuka untuk umum

Rendering Regimehadir sebagai tema untuk merangkum pembacaan atas karya-karya seni lukis di Jakarta yang menjadi cerminan sikap dan pernyataan politis seniman terhadap kondisi lingkungan sosialnya. Pada satu sisi, ia dapat menjelaskan upaya “rendering” atau penciptaan visual, gagasan artistik, dan struktur yang dilakukan oleh seniman. Sedangkan istilah “regime” dapat dibaca sebagai aturan, sistem, atau kondisi yang muncul dalam proses penciptaan. Dari sudut pandang sosial politik, secara umum istilah ini mencoba untuk menggambarkan bagaimana hubungan mental pemerintah, media, dan masyarakat saat ini. Upaya untuk menampilkan citra diri yang baik lewat media, membungkus berbagai macam persoalan dengan cerita yang lain, serta soal kekuasaan dan aturan yang semakin sulit untuk dipahami.

Sebagai sebuah media artistik, pada awalnya lukisan tidak hanya bersifat sebagai alat ekspresi melainkan juga menjadi alat komunikasi serta dokumentasi. Sifat-sifat ini hadir dari kenyataan bahwa seni lukis seringkali menjadi media propaganda populer yang dipengaruhi oleh banyak hal. Salah satunya adalah politik. Persoalan mengenai sikap dan pernyataan politis inilah yang akan dibicarakan dalam pameran ini. Meluasnya praktek seni (rupa) kontemporer kini, turut membawa warisan pilihan sikap tersebut. Perkembangan teknologi dan kehadiran media baru seperti video, internet dan sosial media turut mempengaruhi apa yang kita tangkap sebagai karya seni sekarang.

Pameran ini berupaya untuk membaca pola kerja artistik pelukis sebagai sebuah pernyataan sikap—politis maupun apolitis – dan mengkaji isu yang terkait dengan masalah sosial politik di Jakarta. Setiap seniman diberi ruang gerak yang luas untuk masuk ke dalam sudut pandang yang paling dekat dengan praktik mereka, sekaligus membuka kesempatan juga untuk melakukan eksplorasi atas tema-tema sosial yang lebih luas. Bagaimana seniman menjelaskan pilihan artistiknya dan sejauh mana medium lukis dapat membicarakan persoalan- persoalan sosial politik? Bagaimana seniman melihat dan menempatkan seni lukis sebagai medium dalam perkembangan seni rupa kontemporer?

***whiteboardjournal, logo