Apple TV+ Menjadi Platform Streaming Pertama yang Memenangkan Best Picture di Oscars

Film
29.03.22

Apple TV+ Menjadi Platform Streaming Pertama yang Memenangkan Best Picture di Oscars

Dua hits kejutan mencuri perhatian di Oscar minggu malam kemarin—salah satunya dengan implikasi yang aktual bagi dunia teknologi.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Jesslyn Sukamto
Foto: Getty Images

Ketika media sosial berdesas-desus terhadap kejadian tamparan yang menggemparkan seluruh dunia, Apple TV+ telah menjadi layanan streaming pertama yang memenangkan hadiah utama Oscar, membawa pulang penghargaan Best Picture untuk “CODA”.

Kemenangan tersebut menawarkan lebih banyak bukti bahwa border tradisional antara film yang dirilis teater dan film dari streaming mulai memudar, memulai era baru di antaranya. Tetapi ini juga memberikan momen untuk merenungkan pertanyaan yang telah melekat di Hollywood selama hampir tiga tahun: Apa sih raison d’etre Apple TV+?

 

Diluncurkan pada akhir 2019, Apple TV+ bergabung di antara perang platform-platform streaming dengan telat. Para skeptis secara adil menunjukkan bahwa Apple tidak memiliki konten yang cukup menarik atau menjanjikan. 

Kekhawatiran itu masih mengganggu Apple sampai tingkat tertentu. Apple tidak melaporkan data jumlah pelanggan yang berlangganan, tetapi perkiraan yang tersedia menunjukkan bahwa layanan ini berjumlah sekitar 20 juta hingga 25 juta pelanggan berbayar secara global, jauh di belakang Netflix, Amazon Prime Video, dan HBO Max. 

Platform tersebut pun tidak memiliki film besar dengan potensi franchise (seperti “Star Wars” dari Disney atau “Stranger Things” dari Netflix) dan acara klasik dan dapat ditonton ulang (seperti HBO Max dengan “Friends” atau Peacock dengan “The Office”).

Namun, Apple tampaknya sangat puas dengan pendekatannya saat ini: membangun platform secara metodis dengan film dan TV “kelas atas” yang sangat bagus.

Dengan “CODA”, Apple mendapatkan buzz yang dibarengi dengan kemenangan tiga Oscar bergengsi (Best Picutre, Adapted Screenplay”, dan “Supporting Actor”). Di layar lebar, Ted Lasso juga meraih tujuh penghargaan Emmy pada tahun 2021, termasuk Best Comedy Series.

Meskipun tampaknya mustahil untuk berpikir bahwa layanan streaming tidak akan pernah memenangkan Best Picture, persisnya bagaimana hal itu akan terjadi, atau seharusnya terjadi, adalah hal lain yang diperdebatkan. 

Amazon sendiri memiliki keberuntungan sejak awal, mengakuisisi “Manchester by the Sea” di Sundance dan kemudian membawanya ke banyak nominasi Oscar pada tahun 2017. Netflix, meskipun pasti mengeluarkan biaya untuk menampilkan film dari festival, bahkan lebih beruntung dengan upayanya seperti “The Irishman” dan “Roma”. 

Namun bukan berarti keduanya dapat memenangkan penghargaan Oscar. Netflix mendapat 35 nominasi dan Amazon 12 nominasi di Oscar tahun lalu, ujungnya tidak ada yang bisa mengamankan hadiah utama, meskipun sudah satu langkah mendekati penghargaan bergengsi tersebut.

 

Semua itu membuat kemenangan Apple begitu mengejutkan. Apple berhasil menyelinap masuk lomba ini berkat film yang baru saja mereka ambil dari Sundance. Memang, Apple telah membayar cukup banyak untuk “CODA” — dilaporkan sekitar USD 25 juta — tetapi masih mengalahkan kontestan lainnya, seperti “Dune” atau film-film dari pemenang Oscar sebelumnya seperti Spielberg dan Guillermo del Toro (Nightmare Alley). 

Ini hal yang luar biasa mengingat Apple telat berpartisipasi dalam perang streaming services ini. Orang juga dapat berargumen bahwa penundaan produksi dan rilis yang disebabkan oleh Covid-19 memberi ruang bagi film-film kecil untuk membuat suara yang lebih besar daripada yang bisa mereka lakukan di tahun-tahun sebelumnya, tetapi meskipun demikian, film yang lebih kecil itu bisa saja berasal dari studio indie seperti A24 daripada Apple.

Karena pembelian film dan produksi seri film yang berkualitas, laporan media yang tersedia menunjukkan bahwa Apple TV+ telah kehilangan setidaknya beberapa miliar dolar sejak diluncurkan. 

Apple dapat menahan kerugian seperti itu berkat penjualan iPhone dan pendapatan App Storenya. Untuk saat ini, CEO Apple Tim Cook tampaknya tidak tertarik dengan keuntungan dari layanan streaming.

“Kami tidak membuat konten dari keputusan financial saja,” kata Cook dalam meeting pendapatan Januarinya. “Kami mencoba menemukan konten hebat yang memiliki alasan. Dan kami menyukai acara seperti ‘Ted Lasso’ dan beberapa acara lainnya yang memiliki pesan yang baik dan dapat membuat orang merasa lebih baik pada akhirnya.”

Mungkin Cook dan perusahaan puas dengan layanan streaming mereka sebagai semacam side project, menggunakan fasilitas tersebut sebagai cara untuk membangun loyalitas pelanggan. Tema bergengsi dari series dan filmnya sangat cocok dengan merek kelas atas perusahaan.

Atau mungkin perusahaan berbasis di Cupertino itu hanya memainkan permainan berjangka panjang, bertaruh terhadap fakta bahwa platform yang dirakit dengan cermat akan perlahan-lahan menyalip saingan yang tengah berjuang di bawah tekanan pemegang saham dalam perilisan konten untuk keuntungan langsung (looking at you, Netflix).

Menariknya, The Information melaporkan pada bulan September bahwa Apple “melihat layanan hiburan videonya sebagai bisnis yang berdiri sendiri, bukan sebagai cara untuk menjajakan lebih banyak produk-produk Apple” (Apple TV+ adalah bagian dari paket layanan perusahaan, Apple One, yang juga mencakup fitness, games dan cloud storage).

Apple yang terkenal sangat sekretif sejauh ini tidak pernah mengungkapkan ambisi utamanya untuk Apple TV+. Sebaliknya, tindakan mereka selama beberapa tahun ke depan—akuisisi perusahaan, pembelian kekayaan intelektual, investasi dalam konten asli dan pemasaran—akan menunjukkan selera Apple yang sebenarnya untuk dunia streaming.whiteboardjournal, logo