Duka dan Anti Kolonialisme Menjadi Inti dari Film “Black Panther: Wakanda Forever”

Film
16.11.22

Duka dan Anti Kolonialisme Menjadi Inti dari Film “Black Panther: Wakanda Forever”

Sutradara Ryan Coogler memiliki tugas berat untuk menyeimbangkan film yang berfungsi sebagai penghormatan kepada Chadwick Boseman, dan sebagai lanjutan dalam franchise Black Panther.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Shania Indah Adiyobikenia
Foto: Marvel

Terlepas dari tantangan-tantangannya, “Black Panther: Wakanda Forever” berhasil mencatat pembukaan box office yang cukup besar akhir pekan ini. “Black Panther: Wakanda Forever” secara inti merupakan film yang membahas duka dan kehilangan, dengan berpusat pada karakter-karakter terdekat T’Challa, peran yang dimainkan Chadwick Boseman. Sementara itu, terdapat pertarungan antara Wakanda dengan raja dari kerajaan laut ‘Talokan’, Namor yang menawarkan pandangan yang unik tentang efek penjajahan.

Letitia Wright memimpin filmnya sebagai jenius Shuri, yang bergumul dengan amarah setelah kematian kakaknya. Dalam film tersebut, Shuri mengalami kesulitan untuk menyeimbangi kesedihannya dengan tanggung jawabnya sebagai petinggi negara dalam menghadapi potensi perang. Pikirannya disandingkan dengan ibunya Ratu Ramonda (Angela Bassett), yang mencoba untuk membantu putrinya mengatasi penderitaannya. Perbedaan pendapat mereka terlihat pada sisi kepercayaan yang berbeda tentang dewa Black Panther—Ramonda merangkul hubungan peran dengan spiritualitas Wakanda, sementara Shuri menggali dedikasi sainsnya, dan percaya bahwa tradisi Wakanda sudah kuno dan irelevan.

Pada intinya, “Wakanda Forever” adalah prestasi monumental yang mengapresiasikan sejarah yang dibangun oleh Chadwick Boseman serta memberi penjelasan yang inovatif terkait masa depan karakter Black Panther sebagai salah satu pahlawan dalam MCU. Secara keseluruhan, “Wakanda Forever” merefleksikan bagaimana sebuah komunitas berkumpul dalam melewati kesulitan, cinta, kesedihan, kemarahan, saat kita bergerak maju untuk melindungi orang yang kita cintai dan menghormati leluhur kita. whiteboardjournal, logo