Setelah Logo, Hedi Slimane Mengubah Total Desain Celine

Fashion
01.10.18

Setelah Logo, Hedi Slimane Mengubah Total Desain Celine

Melihat perubahan Celine di bawah pimpinan Hedi Slimane.

by Ghina Sabrina

 

Foto: Vogue

“What would Celine be without Phoebe Philo?” adalah pertanyaan yang muncul di benak semua orang semenjak hengkangnya Phoebe Philo dari posisi creative director setelah 10 tahun memimpin brand asal Perancis tersebut. Berkatnya, brand yang pada masa itu telah memasuki masa kelam akibat sederet perubahan setelah ditinggal oleh Michael Kors di tahun 2004 akhirnya kembali muncul ke permukaan dan menjadi sorotan utama di kalangan pelaku industri.

Setelah kepergian Philo, ketidakpastian akan masa depan Celine pun terjawab saat Bernard Arnault mengangkat Hedi Slimane sebagai creative, artistic dan image director terbaru. Walaupun mengejutkan, langkah ini pun bukan tanpa alasan. Arnault berharap Slimane dapat menerapkan kesuksesan yang telah ia capai semasa waktunya di Saint Laurent, dan salah satu caranya adalah dengan memperluas rangkaian produk yang ditawarkan oleh Celine. Di bawah naungannya, kini Celine akan menawarkan lini produk terbaru yaitu menswear, couture dan parfum.

Masing-masing desainer memiliki DNA yang jelas terlihat dari setiap karyanya. Maka dari itu, kecil kemungkinan bahwa Slimane akan melanjutkan house codes yang sudah dibangun oleh Philo dan dikagumi oleh para pengikutnya yang juga disebut sebagai “Philophiles”. Lagipula, dalam salah satu interview sebelum debutnya, Slimane menyebutkan bahwa ini adalah saatnya Celine memasuki babak terbaru. Ucapan tersebut pun terbukti lewat koleksinya “Paris La Nuit” yang berlangsung di Hôtel des Invalides, Paris. Melihat hal ini, tak heran jika pada Paris Fashion Week kali ini, peragaan busana Celine merupakan salah satu yang paling dinantikan.

Foto: Drapers

Visi Phoebe Philo yang tidak diteruskan

Dalam debutnya untuk koleksi Spring 2010, Philo menunjukkan visinya untuk memperkenalkan kembali identitas Celine di mata para pengamat fashion dengan menyajikan deretan busana yang menjadi idaman para wanita. Semenjak koleksi tersebut, sentuhan kreativitas Philo dalam Celine membuatnya dikenal sebagai sebuah brand yang memiliki nuansa contemporary minimalism yang kental. Terlihat dari segelintir koleksi yang dikeluarkan, Philo memiliki pemahaman yang unik tentang perempuan dan bagaimana mereka menjalani hidupnya. Dari detail-detail yang ada dalam tailoring maupun desainnya secara menyeluruh, Philo seakan mengerti apa yang diperlukan oleh para perempuan tersebut dari pakaian mereka dan apa yang dapat membuat hidup mereka lebih mudah.

Foto: Vogue Runway

Sebagai sebuah fashion house dengan identitas yang sudah melekat dengan apa yang Philo telah kembangkan selama 10 tahun, koleksi pertama Hedi Slimane jelas-jelas telah melenyapkan nilai tersebut. Hilang sudah versi Celine yang dikenal dan dirayakan oleh para penggemarnya. Lewat perubahan drastis yang dipertunjukkan oleh Slimane, ia terlihat terus melanjutkan apa yang dapat ia lakukan dengan baik dan sudah dilakukan sebelumnya di Saint Laurent dan Dior. Jika Philo merancang pakaian untuk dirinya sendiri dan para perempuan yang ada di sekitarnya, Slimane justru merancang pakaian sebagaimana ia ingin melihat para perempuan berbusana tentunya dengan persepsi “male gaze”. Secara garis besar, nampaknya Slimane memiliki pemahaman yang berbeda dengan Philo tentang bagaimana wanita harus berpakaian. Di mata Slimane, dunia Celine yang sekarang dibuat khusus untuk para anak muda berbadan ramping dan berkulit putih.  

Foto: D-journal

Hilangnya potongan pakaian yang versatile

Kedua desainer pada dasarnya dipengaruhi dengan esensi desain yang serupa yaitu klasisisme. Namun memang keduanya juga memiliki pemahaman yang berbeda mengenai apa yang dapat disebut sebagai sesuatu yang klasik dan bagaimana esensi tersebut dapat diterapkan pada busana Celine. Sewaktu di bawah naungan Philo, koleksi yang ia tunjukkan dirancang dengan harapan bahwa karyanya dapat bertahan lama dan menjadi suatu investasi piece yang dapat dikenakan di era manapun. Menurutnya, walau koleksi Celine itu terinspirasi oleh ide klasisisme, ia tak ingin koleksinya terlihat retro. Semua koleksi yang ia rancang pun memiliki aspek personal di dalamnya, mulai dari ibunya sebagai salah satu inspirasi awal hingga lipatan baju yang sengaja diperlihatkan pada koleksi Spring 2016 karena keinginannya untuk berlibur.

Foto: Vogue Runway

Untuk Slimane, versi fashion miliknya dipengaruhi oleh klasisisme yang disandingkan dengan the spirit of Paris, warisan couture yang kental, dan juga dari tempat di mana ia tumbuh dewasa. Slimane juga merupakan seorang desainer yang konsisten dalam sederet koleksi rancangannya yang sejak masih memimpin Dior Homme di awal tahun 2000. Ia dikenal sebagai seorang desainer yang mempopulerkan slim tailoring dan skinny jeans yang pada masanya berarti melawan arus siluet yang sedang populer.

Pada press release pertama sejak Slimane menggantikan posisi Philo, terdapat pemberitahuan bahwa semua busana yang terdapat pada koleksi terbaru Celine tergolong unisex, oleh karena itu, pakaian yang dikenakan oleh para model pria juga akan tersedia untuk konsumen wanita. Sentuhan Slimane pun terasa kuat pada koleksi tersebut, di mana muncul beberapa dress dengan siluet ramping dan potongan yang terlampau pendek. Persis seperti koleksinya yang sekarang masih dijual di rak toko Saint Laurent.

Foto: Vogue Runway

Palet warna dan penggunaan sequin

Soal warna, sebelumnya Celine dikenal dengan penggunaan palet warna netral yang dipadu dengan sentuhan warna-warna terang. Material yang digunakan untuk rancangannya pun diseleksi dengan perhatian penuh agar memastikan aspek timeless pada koleksinya. Hal tersebut pula yang menarik perhatian – Philo telah berhasil menjadikan Celine sebagai acuan cara berpakaian seorang wanita modern yang memancarkan keanggunan yang minimalis.

Jika melihat kebelakang deretan koleksi Celine yang pernah ada, koleksi yang disajikan oleh Slimane layaknya mengingatkan kembali pada karya Michael Kors untuk koleksi Fall 2003 yang lengkap dengan dress berbahan sequin, jaket berwarna silver, dan fur coat. Berbeda dengan Philo dan Kors, Slimane menggunakan warna-warna monochrome yang identik dengan desainnya di Dior dan Saint Laurent yang dipadukan dengan penggunaan sequin dan kulit. Jika sebelumnya Celine dibuat untuk para wanita elegan, kini Celine ditujukan pada cool kids.

Foto: the Fashion Spot

Koleksi yang generic

Terpilihnya Slimane sebagai creative director Celine menunjukan keinginan Arnault untuk memperluas cakupan konsumennya – millennials yang membeli Saint Laurent. Semenjak menjadi seorang desainer, Slimane selalu menunjukan ketertarikannya pada kaum muda dan hal tersebut pun terlihat jelas pada karyanya baik dalam fashion maupun fotografi. Lewat 96 looks dari koleksinya untuk Celine, pengaruh gaya “club kid” masih kental terasa, walaupun kali ini, para anak muda yang ada dalam visi Slimane seakan lebih dipoles dan dewasa.

Namun, pada akhirnya, tidak mengherankan jika banyak yang merasa bahwa koleksi tersebut terlihat sama seperti koleksi yang dikeluarkan Anthony Vaccarello di Saint Laurent. Identitas Saint Laurent yang telah dibangun oleh Slimane tetap diteruskan dan berhasil dikemas oleh Vaccarello secara apik, sementara Slimane sendiri membawa hal yang sama ke Celine.

Secara kasar, kini ada dua fashion brand rival yang menjual koleksi yang serupa. Melihat hal ini, bagaimana Slimane dapat menambah pendapatan Celine? Only time will tell.whiteboardjournal, logo