Pembuatan Film Oleh Sutradara Wanita Akan Terancam Di Bawah Kuasa Taliban

Film
22.08.21

Pembuatan Film Oleh Sutradara Wanita Akan Terancam Di Bawah Kuasa Taliban

“Sekarang, kami memulai lagi dari nol untuk yang ke-100 kalinya,” ujar salah satu sutradara wanita.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Hanindito Buwono
Foto: Reuters/Gleb Garanich

Pengambilalihan ibukota Afghanistan, Kabul, secara tiba-tiba oleh Taliban sama sekali tidak diperhitungkan. Dengan kembalinya kekuasaan Taliban, membuat beberapa sutradara wanita asal Afghanistan khawatir dengan masa depan mereka sebagai wanita, dan juga industri perfilman negaranya.

“Saya mencoba menghindari nostalgia masa lalu Kabul, atau bioskop kita, atau pusat budaya kita. Saya hanya berkata pada diri sendiri, ‘Anda akan punya waktu untuk berduka untuk itu nanti,’ karena semuanya sudah berlalu,” kata sutradara wanita Saqeb Jamal yang film pendeknya, “Roqaia”, masuk ke Venice Film Festival 2019.

“Kami semua sangat berharap, 10 tahun kemudian, Kabul akan menjadi contoh demokratis bagi kawasan ini. Sekarang, kami memulai lagi dari nol untuk yang ke-100 kalinya,” tambah sang sutradara kepada dan dilansir Variety.

Melawan segala rintangan, perfilman Afghanistan perlahan berkembang dalam dekade terakhir, di mana sebagian besar dipimpin oleh upaya segelintir wanita yang gigih. Semenjak 2001, film-film Afghanistan mulai mendapat pujian di berbagai festival film internasional, banyak di antaranya dibuat oleh sutradara otodidak yang kekurangan sumber daya, seraya menghadapi ancaman kekerasan terus menerus.

“Lima tahun terakhir kami para pembuat film adalah duta budaya yang menunjukkan wajah baru Afghanistan kepada dunia,” ungkap Sahraa Karimi, sutradara wanita film “Hava, Maryam, Ayesha” yang telah tayang perdana dalam Venice Film Festival 2019 dan sebagai Kepala Perusahaan Film Nasional Afghanistan.

“Orang biasa hanya menghasilkan perubahan seiring dengan rezim masing-masing. Kamilah yang menghasilkan perubahan nyata, yang datang melalui budaya, sinema, teater — seni yang menginspirasi pemikiran dan pertanyaan,” tambah Sahraa Karimi kepada dan dilansir Variety.

Dan kemajuan itu telah dilenyapkan dalam semalam dengan kembalinya kekuasaan Taliban di negara Afghanistan, yang secara historis memberlakukan pembatasan yang sangat keras terhadap hak-hak perempuan dan kebebasan berekspresi.whiteboardjournal, logo