Pixar Sajikan Banyak Perspektif Baru tentang Budaya dan Keragaman dalam Film Animasi “Turning Red”

Film
20.03.22

Pixar Sajikan Banyak Perspektif Baru tentang Budaya dan Keragaman dalam Film Animasi “Turning Red”

Film animasi garapan Pixar Studio kali ini mengundang banyak diskusi mengenai pendekatan terhadap isu-isu keremajaan, kultur, dan keragaman yang dikemas dalam film ringan kaya akan metafora dan alegori.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Inaya Pananto
Foto: Pixar

Dikenal dengan beragam cerita yang universal, Pixar memutar setirnya ke jalan yang lebih spesifik kali ini dalam film “Turning Red” yang menceritakan tentang kehidupan seorang remaja berlatar belakang Chinese-Canadian. Melalui film animasi ringan namun penuh makna ini, kita diajak untuk mengikuti narasi karakter utama, Meilin Lee, seorang gadis remaja berusia 13 tahun penuh ambisi menavigasikan dirinya antara pertemanan, sekolah, keluarga, budaya nenek-moyang hingga boyband favoritnya.

Cerita yang sekilas terasa lugas dan sederhana ini banyak disulam dengan poin-poin penting dan metafora tentang hidup. Penjelmaan hewan panda merah yang dialami oleh Meilin setiap kali ia diterpa emosi yang merupakan masalah utama dalam cerita ini menjadi simbolisasi fase pubertas bagi remaja. Satu nilai lain yang juga ditonjolkan adalah keharmonisan dalam keragaman, dapat dilihat dari ragam warna kulit, agama, dan latar belakang budaya yang hadir di sepanjang film. 

Meilin bersama dengan tiga sahabatnya. (Sumber: Disney)

Penulis, sutradara, dan animator Domee Shi bercerita bahwa ia diminta untuk menggarap film ini setelah film pendeknya di 2017 silam yang berjudul “Bao” mengantarkannya kepada penghargaan Oscar untuk kategori Film Animasi Pendek Terbaik. Baik “Turning Red” dan “Bao” memiliki inti cerita seputar keluarga dan fase-fase tumbuh dewasa ini menjadi refleksi personal bagi Domee Shi sebagai wanita berdarah Tionghoa yang tinggal dan tumbuh di Kanada. 

Kehidupan dan pembawaan pribadinya inilah yang membuat ‘Turning Red’ terasa jauh lebih personal dan spesifik ketimbang film-film Pixar sebelumnya yang cenderung memilih alur-alur cerita aman yang bisa dipahami oleh orang dari segala kalangan dan latar belakang. Hadirnya film-film yang menjagokan tempat-tempat spesifik seperti “Luca” dengan Italia, “Coco” dengan Meksiko dan terbaru “Turning Red” dengan Toronto dan budaya Tionghoa ini membuka jalur baru bagi Pixar untuk bereksperimen lebih jauh dalam bercerita dengan beragam kebudayaan dunia.

Film, khususnya animasi adalah media modern yang berfungsi untuk mentranspor penontonnya ke tempat-tempat dan cerita-cerita baru yang tidak harus selamanya familiar. Ini adalah dasar yang digunakan oleh Pixar dalam keputusan untuk mulai memasukkan nilai-nilai tempat dan latar belakang budaya yang lebih spesifik ke dalam film-filmnya. Mengenai perkembangan ini, produser film dari Pixar Studios, Lindsey Collins, mengungkapkan, “Kita tidak lagi memiliki ketakutan untuk menanamkan cerita (di tempat nyata yang spesifik) karena kita memiliki kemampuan yang sangat memadai untuk membuat banyak hal.”

Sesuai prediksi semula, film animasi yang masuk ke Disney+ pada 11 Maret lalu ini menuai beragam ulasan balik dari publik. Meskipun banyak yang merasa sulit untuk merasa terhubung dan memahami film ini, mayoritas tanggapan publik adalah menghargai unsur-unsur baru yang hadir dalam film animasi ini. Beragam pujian mengenai alur cerita, nilai-nilai kehidupan, hingga representatif keragaman yang ditonjolkan dalam film ini mewarnai media.whiteboardjournal, logo