WhatsApp Terhindar dari Pemblokiran Media Sosial Platform Massal di Rusia, Kenapa?

Human Interest
26.03.22

WhatsApp Terhindar dari Pemblokiran Media Sosial Platform Massal di Rusia, Kenapa?

Rusia berkata Meta ‘guilty’ dalam melakukan “kegiatan ekstremis” lalu memblokir Facebook dan Instagram, tapi kok WhatsApp berhasil terhindar/terkecualikan?

by Whiteboard Journal

 

Teks: Jesslyn Sukamto
Foto: Getty Images

Seorang hakim di pengadilan Moskow telah memutuskan untuk memblokir Meta oleh karena Facebook dan Instagram yang terlibat dalam “kegiatan ekstremis”. Menariknya, pengadilan mengesampingkan pengecualian terhadap WhatsApp.

Baik Facebook dan Instagram menguraikan kebijakan moderasi yang memungkinkan pengguna di Ukraina dan negara-negara Eropa Timur lainnya untuk menyerukan kekerasan terhadap tentara Rusia. 

Platform tersebut awalnya mengutus moderator platform mereka untuk mengizinkan postingan yang mengandung kecaman kematian Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden Belarus Alexander Lukashenko, seiring dengan kumpulan komentar “unik” para Gen Z yang melabeli Presiden Rusia “Vladdy Daddy”.

Para Gen-Z dengan ‘genit’ meminta presiden Rusia Vladimir Putin, atau “Vladdy Daddy,” untuk tidak menyerang Ukraina melalui akun Instagram unofficial Presiden Rusia. 

Ini tidak berlangsung lama, karena mereka memperketat kebijakannya dengan panduan yang secara eksplisit melarang kecaman untuk melakukan kekerasan terhadap warga Rusia atau kepala negara mana pun, menurut Reuters.

“Kami percaya bahwa operasi perusahaan rentan terhadap pemblokiran sehubungan dengan keterlibatannya dalam kegiatan ekstremis,” kata seorang pejabat regulator komunikasi Rusia Roskomnadzor selama persidangan. Pemblokiran tersebut diajukan oleh kantor kejaksaan Rusia bersama dengan Layanan Keamanan Federal Rusia (FSB).

TASS, outlet media milik Rusia mengutip seorang petugas FSB yang berargumen bahwa, “Kegiatan-kegiatan Meta diarahkan untuk melawan Rusia dan angkatan bersenjatanya. Kami mendesak agar aktivitas Meta untuk segera diblokir.” Menurut outlet tersebut, perwakilan kejaksaan mengatakan bahwa penggunaan Facebook dan Instagram tidak akan membuat para pengguna untuk bertanggung jawab atas partisipasi dalam ekstremisme, namun, TASS juga mengutip pengacara yang mengatakan bahwa pembelian iklan di layanan tersebut dapat dilihat sebagai mendanai akan aksi ekstremisme.

Padahal, media sosial telah menjadi sumber yang semakin kritis untuk informasi tentang perang di Ukraina, terlebih karena pemerintah Rusia secara agresif menyensor laporan media tentang konflik perang ini. Pada hari Jumat (18/3), Roskomnadzor, agensi sensor Internet milik Rusia, juga memblokir akses ke BBC, Voice of America, Radio Free Europe/Radio Liberty dan Deutsche Welle.

Keputusan untuk tidak memblokir WhatsApp ternyata memiliki alasan lain yang valid selain hanya kepopulerannya. Walaupun kita tahu platform populer seperti Twitter, TikTok, Facebook, dan Instagram telah “menghilang” dari jaringan Rusia, namun dua platform AS paling populer di negara itu — YouTube dan WhatsApp masih saja beroperasi.

Mengapa? “Terlepas dari kenyataan bahwa YouTube melanggar setiap kemungkinan peraturan di internet di Rusia, itu tidak diblokir, dan itu tidak akan pernah diblokir, karena audience-nya terlalu besar,” ujar Leonid Volkov, kepala staf kepresidenan Rusia Alexei Navalny dan salah satu pendiri kelompok hak digital Masyarakat Perlindungan Internet.

Ada juga alasan lain yang jelas di balik kelangsungan hidup WhatsApp dan YouTube, yaitu, tidak ada alternatif “Kremlin-friendly” selain YouTube dan WhatsApp. 

Alternatif “Kremlin-friendly” lain pun telah diupayakan oleh pemerintah Rusia, seperti RuTube untuk YouTube, bersama dengan aplikasi domestik lainnya seperti Rossgram untuk Instagram, VK untuk kemiripannya dengan Facebook, bahkan adanya rencana oleh pemerintah Rusia untuk membuat Wikipedia versi Rusianya sendiri.Namun, beberapa warga lebih memilih untuk mengakses platform yang diblokir dengan menggunakan Virtual Private Network (VPN).

Hal ini mungkin tidak berlangsung lama karena Rusia juga tak lupa akan pembuatan platform alternatif untuk WhatsApp, dengan rencana menghidupkan kembali platform ICQ — dikembangkan di Israel pada tahun 1990an — meski popularitasnya sudah meredup sejak awal tahun 2000an.

Pada saat yang sama, pejabat Ukraina telah memohon Facebook untuk menutup layanannya sepenuhnya di Rusia sebagai pesan kepada pemerintah, tetapi eksekutif Facebook juga menolak ini karena mereka percaya bahwa layanan mereka adalah saluran penting bagi orang untuk mengatur dan menemukan keamanan — terutama karena Rusia telah menutup atau membatasi outlet media lokal.

Upaya Pemblokiran Layanan Internet di Negara Lain

Bukan hanya Rusia, sejak tahun 2009, Cina juga telah menetapkan kebijakan sensor internet massal mereka untuk melarang situs dan platform AS, mengandalkan informasi mereka hanya dari aplikasi dan situs negara mereka sendiri seperti Weibo, Bilibili, dan lainnya. 

Setelah bertahun-tahun pengujian dan keraguan, diakselerasi dengan perang Rusia-Ukraina yang memojokkan Rusia dari negara-negara barat, Rusia sedang menuju sensor internet yang lebih keras, mirip dengan “Great Firewall China” untuk mengontrol orang-orangnya dengan lebih baik. Era kegelapan informasi Cina bisa menjadi masa depan Rusia. Sekarang, Rusia belajar dari Cina bagaimana mengendalikan rakyatnya di era media sosial.

Indonesia sendiri juga memiliki peraturan sensor yang memblokir situs tertentu, namun hanya beberapa situs yang dinilai terindikasi memuat konten bersentimen Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA) hingga phising dan malware. Tapi, Indonesia pun pernah membatasi akses masyarakat ke beberapa layanan chatting dan media sosial pada tahun 2019 lalu seperti Facebook, WhatsApp, Telegram, sampai Tiktok.

Hal ini dilakukan pemerintah usai kerusuhan pemilu atas meningkatnya protes hasil Pilpres 2019 — dengan pemadaman server backend platform-platform tersebut. Tapi ini dilakukan secara regional, menjadikan Jakarta sebagai kawasan yang paling terdampak untuk pembatasan WhatsApp. 

Jadi, mungkin anda pikir, apa bedanya tindakan pemerintah Rusia dan pemerintah Indonesia? Walaupun benar kedua pemerintah sama-sama membatasi penggunaan sosial media dalam kurun waktu yang sensitif, pemerintah Indonesia tidak pernah menggunakan pemblokiran ini untuk mengendalikan rakyatnya — mengontrol informasi apa yang diterima atau bahkan membuatnya one-sided, layaknya pendoktrinan seperti negara Cina dan Rusia.

Kita hanya menunggu waktu hingga WhatsApp akhirnya diblokir Rusia, dan terjunnya Rusia ke era dystopian.whiteboardjournal, logo