Bagaimana Algoritma Facebook Membantu Penyeberan Virus Kebencian dan Kekerasan selama Perang Saudara di Etiopia

Media
16.12.22

Bagaimana Algoritma Facebook Membantu Penyeberan Virus Kebencian dan Kekerasan selama Perang Saudara di Etiopia

Kemampuan Facebook memoderasi unggahan tersebut berujung pada digugatnya Meta sejumlah USD 2 miliar.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Ahmad Baihaqi
Foto: Reuters

Sebuah kasus hukum menuduh algoritma Facebook membantu penyebaran virus kebencian dan kekerasan selama perang saudara yang terjadi di Etiopia. Abraham Mearag, putra dari akademisi Etiopia yang ditembak mati setelah diserang melalui unggahan Facebook, merupakan salah satu kasus yang diajukan kepada Meta. 

Mereka yang mengadukan Meta, menginginkan uang sebesar USD 2 miliar untuk korban kebencian yang terjadi di Facebook dan meminta Meta melakukan perubahan pada sistem algoritma yang diterapkan Facebook. Seorang perwakilan korban mengatakan ujaran kebencian dan hasutan untuk melakukan kekerasan sudah bertentangan dengan aturan platform, tetapi masih terjadi di Etiopia. 

Korban Tewas dan Ratusan Ribu Orang Hidup dalam Kelaparan

Ratusan ribu orang tewas dalam konflik yang terjadi antara pemerintah Etiopia dan pasukan di wilayah Tigray Utara, ditambah 400.000 orang lainnya terpaksa hidup dalam kondisi kelaparan.  Bulan lalu, sempat terjadi kesepakatan damai yang mengejutkan, tetapi baru-baru ini terjadi peningkatan pembunuhan dengan motivasi etnis yang terjadi antara komunitas Amhara dan Omoro. 

Jauh sebelum perjanjian damai dan konflik kembali terjadi, pada tahun lalu, ayah Mearag menjadi salah satu korban. Tepatnya pada 3 November 2022, Prof. Meareg Amare Abrha diikuti saat pulang dari universitasnya oleh orang-orang bersenjata yang mengendarai sepeda motor lalu ditembak dari jarak dekat saat mencoba memasuki rumahnya.

Selain itu, terdapat juga ancaman dari sang peyerang kepada saksi agar tidak datang membantu Prof Mearag yang sudah terbaring berdarah, kata sang putra. Ia tewas tergelatak di tanah 7 jam kemudian.

Sehari sebelum penembakan terjadi, pada sebuah unggahan Facebook memfitnah dan mengungkapkan informasi identitas (doxxing) tentang dirinya. Meskipun keluhan berulang kali disampaikan melalui fitur “report” di Facebook, namun unggahan tak kunjung dihapus Facebook hingga malapetaka terjadi. Hanya satu unggahan yang dihapus, sehari setelah ayahnya meninggal. Sedangkan unggahan lain yang dijanjikan akan dihapus Facebook, hingga 8 Desember 2022 masih tetap online.

Facebook Tidak Mempunyai Kapasitas

Putra Prof. Maerag mengatakam bahwa Facebook tidak memiliki kemampuan memoderasi unggahan. Andai saja benar Facebook dapat memoderasi unggahan yang berbau kebencian, ayahnya pasti masih hidup. “If Facebook had just stopped the spread of hate and moderated posts properly, my father would still be alive,” ujarnya.

Dia ingin memastikan tidak akan ada lagi keluarga yang menderita sepertinya akibat unggahan berbau kebencian yang dapat memicu konflik hingga penyerangan pribadi. Dalam pernyataan sumpahnya ke pengadilan, Maerag menuding algoritma Facebook mempromosikan konten “kebencian dan menghasut” karena cenderung menarik lebih banyak interaksi dari pengguna.whiteboardjournal, logo