Melalui “Salam Harapan”, Penyintas Tragedi 1965 Melantunkan Harapan Baru

Music
04.02.19

Melalui “Salam Harapan”, Penyintas Tragedi 1965 Melantunkan Harapan Baru

“Semoga Indonesia ke depan menjadi Indonesia yang tentram, damai, adil, dan makmur,” harap Ibu Uchikowati dari Paduan Suara Dialita.

by Whiteboard Journal

 

Teks & Foto: Vestianty

Ingatan kita cenderung mengabadikan titik-titik ekstrim dari apa yang pernah kita alami. Begitulah cerita kita dengan tragedi tahun 1965. Terutama bagi korban beserta keluarga, memori pilu masih terekam jelas di kepala. Kebanyakan hanya bisa menyimpan kelu di dalam hati, sambil meratapi ketika isu anti PKI kerap dimunculkan kembali oleh para politisi. Untungnya, belakangan ada langkah maju dari para penyintas ini untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di balik tragedi. Beberapa mengemukakan literasi, beberapa yang lainnya memadukan suara untuk bernyanyi. Paduan Suara Dialita adalah yang digawangi oleh sebagian besar ibu-ibu penyintas tahun 1965 hadir untuk menyuarakan pengalaman mereka di penjara pada masa itu lewat lagu-lagu perjuangan yang dibuat selama menjadi ‘tahanan politik’ (tapol). Melanjutkan kisah yang tahun lalu mereka awali di album “Dunia Miliki Kita”,  konser mini bertajuk “Berbincang dan Bernyanyi Bersama Dialita dan Para Sahabat” yang diadakan 31 Januari melanjutkan langkah maju mereka melalui album kedua yang berjudul “Salam Harapan”.

Paduan Suara Dialita merupakan singkatan dari Di Atas Lima Puluh Tahun, yang berdiri sejak tahun 2011 dengan beranggotakan ibu-ibu penyintas dari keluarga mantan tapol peristiwa 1965. Pada malam konser itu, semua yang hadir memenuhi ruang auditorium GoetheHaus berkumpul dengan perasaan penasaran akan penampilan kelompok ini. Dengan bekerja sama dengan Rumah Bonita, konser kali ini pun juga menghadirkan sederet musisi yang turut andil dalam pembuatan album kedua yang diproduksi oleh Petrus Briyanto Adi, mulai dari Bonita, Endah Widiastuti, Sita Nursanti, Kartika Jahja, Junior Soemantri hingga pelantun lagu keroncong, Endah Laras.

Pada pembukaan konsernya, musisi Sita Nursanti membuka dengan lagu berjudul “Tetap Senyum Menjelang Fajar” bernuansa suka cita yang liriknya diciptakan oleh Ibu Zubaedah Nungtjik sebagai lagu kala ada tapol berulang tahun. Lagu “Selamat Ulang Tahun” saat itu dirasa kurang cocok dengan keadaan para tapol yang sedang di penjara, sehingga muncul lah lagu ini sebagai persembahan perayaan tapol berulang tahun. Penampilan yang tidak kalah harunya adalah lagu bertajuk “Ibu” yang dibawakan oleh Endah Widiastuti dari Endah N Rhesa mengalun dengan petikan gitar akustik menggambarkan kisah tapol bernama Ibu Utati, yang setelah satu tahun di penjara, ia merasa rindu akan sosok ibunya. Kala itu umurnya masih belasan tahun ketika ia di penjara.

Berlanjut pada penampilan Dialita, ibu-ibu penyintas hadir dengan berjumlah 18 personil tampil dengan kebaya berwarna-warni cerah dan dengan semangat membawakan tiga buah lagu, di antaranya berjudul, “Aku Percaya”, “Tani Menggugah Hati”, dan  “Salam Harapan”. Sesuai dengan judul konser kali ini, tidak hanya nyanyian dari album ini saja yang dihadirkan, namun para penonton pun bisa bercakap-cakap dengan ibu-ibu dari Dialita di sela-sela mereka menyanyikan lagu-lagu tersebut.

Layaknya cahaya sinar yang bergelora, album ini merupakan kristalisasi dari segala pengharapan, dan doa bagi para penulisnya selagi menjalani kurungan sebagai tahanan politik di penjara Bukit Duri, Jakarta hingga Plantungan, Semarang. Menyanyikan lagu-lagu ini juga menjadi narasi (baru) bagi penulisan sejarah yang dibungkam. Melalui album “Salam Harapan”, Dialita berharap cerita-cerita dari balik penjara bisa dituturkan bagi khalayak luas, terutama generasi muda, agar tumbuh subur perbincangan membangun untuk Indonesia lebih baik.whiteboardjournal, logo