New Music Selection: Floating Points, Bedchamber, Devil Master, sampai Perunggu

Music
11.03.22

New Music Selection: Floating Points, Bedchamber, Devil Master, sampai Perunggu

Bermain dalam irama “playful” Superorganism, ikut mengeksplorasi zamrock bersama Peace De Résistance, nikmati roller coaster panjang King Gizzard & The Lizard Wizard, termenung bersama folk puitis Matisuri.

by Whiteboard Journal

 

Setiap hari jumat, kami akan merangkum rilisan lagu baru dari musisi lokal dan internasional. Berikut adalah rangkuman lagu-lagu baru yang menarik untuk didengar di minggu kedua Maret 2022 ini.

Floating Points – Vocoder

Track ini merupakan salah satu contoh penggunaan sample chop yang sangat baik. Build up yang dilakukan dengan sabar sembari menambahkan komponen instrumen lain satu persatu membuat melodi yang sederhana terasa lebih berdimensi. Berbeda jauh dari album kolaborasi sebelumnya bersama legenda free-jazz Pharoah Sanders dan London Symphony Orchestra, single terbaru berjudul “Vocoder” ini terdengar lebih energik dan gaduh.  ‘Vocoder’ menyajikan ketukan house ganjil dan potongan sampel vokal yang menajam di tiap akhir breakdown, memberikan hal-hal terbaik dari karya-karya Sam sebelumnya, terutama “Shadows” (2011) dan “Crush” (2019).

 

Superorganism – Teenager feat. CHAI & Pi Ja Ma

Ketika lagu ini dinikmati sambil memejamkan mata, terasa sekali karakter summer anthem. Namun siapa sangka bahwa visual yang disuguhkan music video lagu ini dipenuhi dengan meme reference yang kental? Seketika suasana lagu tersebut berubah menjadi lebih playful daripada chill.

 

Peace De Résistance – Boston Dynamics

Proyek dari Moses Brown, frontman grup post-punk Institute sekaligus drummer grup hardcore/punk Glue ini kembali dengan single untuk album terbarunya. Di laman Bandcamp-nya, secara gamblang mengatakan bahwa proyeknya ini terinspirasi dari musik Zamrock seperti Paul Ngozi, Witch, hingga Amanaz. Masih dengan gaya bernyanyinya yang “nyeret”, ia memainkan riff fuzzy yang melodius dengan ketukan dan komposisi musik ala glam rock secara lebih nyeleneh.

 

Bedchamber – Tired Eyes

Salah satu dari banyak hal baik yang dengan mudah bisa dilihat dari Bedchamber adalah bagaimana mereka terus berproses menjadi versi terbaik di setiap transisi albumnya, termasuk juga referensi yang memutakhirkan energi mereka. Di single terbarunya yang kental dengan ketukan hi-hat dan memuat cukup banyak part-part instrumental ini, mereka terlihat asyik mengeksplorasi pattern-pattern post-punk dan dan electro-wave-nya.

 

King Gizzard & The Lizard Wizard – The Dripping Tap

Perjalanan panjang roller coaster berdurasi 18 menit dipilih sebagai single pembuka untuk promosi album kedua puluh mereka. Ya, kalian tidak salah membaca album kedua puluh. Band yang begitu produktif dalam berkarya dan begitu aktif dalam mengeksplorasi berbagai spektrum musik ini mengatakan bahwa track ‘The Dripping Tap’ akan menjadi penanda perubahan cara mereka dalam menulis lagu ke depannya.

Album ‘Omnium Gatherum’ yang akan memuat track ini, tadinya, direncanakan untuk diisi dengan lagu-lagu yang sudah mereka produksi namun belum sempat dirilis. Namun, setelah akhirnya mereka berkumpul untuk jamming lagi setelah sekian lama dipisahkan pandemi, track ini muncul begitu saja. Dan mereka menyebutnya sebagai permulaan bagi era jamming mereka.

 

Devil Master – Acid Black Mass

Siapa yang menyangka band hybrid yang memadukan ortodoksi UK82 d-beat dengan old school black metal ini akan membuka tour My Chemical Romance pada Agustus mendatang. Dalam single terbarunya ini, Devil Master merekrut Chris Ulsh (Power Trip, Mammoth Grinder, Impalers, Iron Age) sebagai drummer dan keyboardist mereka. Kehadiran Ulsh sepertinya memperdalam akar band ini sekaligus memperluas rambatannya. Hal ini dapat diamati dengan bagaimana matangnya sound mereka dan pemilihan metode rekaman analog. Track ini juga menjadi “showcase” pertama hasil kerja sama mereka dengan Pete deBoer, produser dari band cosmic death metal Blood Incantation.

 

Matisuri – Tetris

Nama Matisuri terkesan masih dibicarakan secara “bisik-bisik” dalam obrolan musik Indonesia tahun lalu. Tahun ini–bersamaan dengan rencananya merilis kembali album Wafat Suri dengan mixing dan mastering ulang–ia harus dibicarakan sekeras-kerasnya. Sejauh ini, belum ada musisi selain Jason Ranti yang dibilang berhasil memainkan folk dengan akar menancap tajam pada Iwan Fals. Matisuri mematahkan anggapan itu dengan ‘Tetris’, yang memadukan musik folk minimalis dengan lirik puitis dan suntikan elektronik tepat sebelum mengakhiri lagunya. Kudos to Takaotubo yang berhasil membuat musik ‘Tetris’ terdengar lebih artikulatif dan hidup dengan mixing dan masteringnya

 

Perunggu – Canggih

Di antara repertoar album debut Perunggu “Memorandum”, lagu bertajuk “Canggih” mampu mengobati rindu para pecinta Band Pop tahun 2000-an. Dengan tempo yang cepat dan energi yang penuh semangat, cukup mudah untuk menikmati lagu tersebut. Walaupun begitu, pemilihan chord tetap terasa unik dan menarik bagi para pendengar musik yang mencari-cari inovasi.whiteboardjournal, logo