Sistem Hutang Kekinian, Apakah Paylater Solusi yang Baik untuk Finansial Gen Z?

Human Interest
24.05.22

Sistem Hutang Kekinian, Apakah Paylater Solusi yang Baik untuk Finansial Gen Z?

Dari ragam sarana finansial modern, Paylater menjadi salah satu opsi yang kini sedang banyak digunakan karena kemudahannya. Tapi apakah skema Paylater itu seluruhnya baik?

by Whiteboard Journal

 

Teks: Inaya Pananto
Foto: Klarna

Perkembangan sarana finansial modern terus berkembang dengan cepat, mulai dari ragam jalur pembayaran top up hingga yang kini sedang ramai digadang-gadangkan, paylater. Skema pembayaran paylater tidak berbeda dengan kredit secara general. Paylater atau skema kredit memungkinkan penggunanya untuk membeli barang sebelum melakukan pembayaran. Meskipun pada dasarnya menggunakan sistem hutang, ragam pengemasan baru dari paylater ini membuatnya terkesan modern dan keren.

Fenomena paylater saat ini tengah kian menjamur, menjadi sebuah tren yang acap kali diiringi dengan tagar-tagar girlboss, muda dan independen secara jelas ditujukan terutama untuk kalangan Gen Z. Salah satu pionir kartu paylater yang kini sedang ramai muncul khususnya di media sosial TikTok adalah Klarna. Dengan rebranding warna pink terang dan hitam, Klarna berhasil meyakinkan penggunanya bahwa kartu paylater mereka adalah sesuatu yang aspirasional dan merupakan pilihan gaya hidup anak muda modern.

Kesuksesan paylater melonjak jauh memasuki era pandemi 2020 lalu. Klarna sendiri tercatat telah mengakomodir transaksi mencapai dua juta USD setiap harinya. Sistem “buy now, pay later” atau BNPL ini paling sering digunakan untuk membeli pakaian. Menurut data terbaru di Amerika Serikat, penggunaan point-of-sale dana pinjaman Gen Z telah naik sebanyak 925% sejak Januari 2020 dengan 73% pembelian berupa pakaian dan aksesori. 

Kecenderungan Gen Z dalam menggunakan sarana paylater ini menghadirkan masalah finansial baru berupa tunggakan hutang yang terkadang sulit tertutup terutama dengan penambahan bunga. Kebiasaan berhutang tanpa mengetahui pasti kemampuan untuk melunasinya adalah kebiasaan finansial yang sebaiknya dihindari. Kebiasaan berbelanja sesuai kemampuan, paylater atau tidak, sudah semestinya tertanam kuat sebelum melakukan keputusan-keputusan finansial.

Efek negatif lain dari paylater dan penggunaannya di barang-barang fashion adalah mempercepat perputaran trend dalam fast fashion. Memang paylater ini memberikan opsi pembayaran yang menjadikan barang-barang fashion lebih aksesibel bagi banyak orang, serta dalam waktu yang lebih cepat. Cepatnya perputaran transaksi online melalui paylater ini berdampak langsung dengan naiknya demand fast fashion yang kedudukannya sebagai sumber polusi besar sudah tidak asing lagi bagi kita semua.

Menurut Aja Barber, seorang fashion writer yang memiliki keahlian khusus di bidang lingkungan dan sustainability, secara general BNPL ini dipasarkan ke kalangan yang masih terlalu dini untuk mengerti seluk beluk keputusan finansial secara utuh. Hal inilah yang banyak menyebabkan terjadinya impulsive atau irresponsibel buying. Meskipun pihak Klarna sendiri mengatakan bahwa keputusan seseorang untuk membeli sesuatu bukanlah sesuatu yang dapat mereka kontrol. Yang dapat dilakukan oleh mereka adalah memberikan informasi tentang sustainable living dan menyediakan opsi ‘Conscious Brands’ di laman mereka, keputusan akhir tetaplah ada di tangan pengguna. 

Opsi Paylater yang disediakan oleh Gojek. (Foto: Gojek)

Khususnya di Indonesia, sarana paylater ini hadir beriringan dengan banyak aplikasi-aplikasi seperti Traveloka, Gojek, Allo Bank, dan masih banyak lagi. Banyak aplikasi jasa ini menawarkan pembayaran paylater untuk mempercepat traffic mereka. Paylater ini pada hakikatnya adalah sekadar alat dan cara kita menggunakannya lah yang dapat menimbulkan masalah. Jika paylater digunakan dengan bijak, dan disertai kemampuan, maka ini adalah sarana yang dapat memudahkan banyak orang.whiteboardjournal, logo