Bias Kelas dalam Obrolan Tentang Citayam Fashion Week

Human Interest
21.07.22

Bias Kelas dalam Obrolan Tentang Citayam Fashion Week

Pendapat kita mengenai Citayam Fashion Week bisa jadi adalah bentuk bias kelas terhadap kelompok masyarakat yang tak tinggal dalam gemerlap Ibukota.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Ghina Prameswari
Foto: Dream.co.id

Dalam beberapa minggu ke belakang, Citayam Fashion Week telah dibahas melalui berbagai sudut pandang. Sebagian orang melihat fenomena ini sebagai pengingat akan minimnya ruang publik di Jakarta, beberapa lagi menyoroti banyaknya sampah di area stasiun Dukuh Atas, dan tak sedikit pula yang mendukung dan melihat peristiwa ini sebagai bentuk penciptaan budaya baru. 

Georg Simmel–sosiolog, filsuf, dan kritik–memperkenalkan mekanisme perubahan mode (changing fashion) sebagai cara bagi kelompok elit untuk membedakan diri mereka dengan kelompok menengah dan menengah ke bawah. Dalam sebuah kelas sosial, kelompok menengah ke bawah akan berupaya untuk meniru apa yang dilakukan oleh kelompok elit–termasuk pula cara mereka berpakaian. Kelompok elit lantas mengubah fesyennya untuk mempertahankan prestise dan posisi mereka di masyarakat. 

Bagaimana ini semua berperan dalam menjelaskan fenomena Citayam Fashion Week? Pada awal kemunculannya, kritik terhadap Citayam Fashion Week umumnya dilayangkan oleh masyarakat kelas menengah dan menengah ke atas. Ragam ujaran bernada classist juga penggunaan istilah seperti ‘kampungan’ digunakan untuk mendeskripsikan peristiwa ini. Beberapa memberi alasan yang lebih jujur di balik ketidaksukaan mereka; kehadiran remaja asal kota satelit itu mengotori kemewahan daerah Sudirman dan sekitarnya. Beberapa lagi berlindung di balik fasad bahwa para remaja tersebut meninggalkan limbah secara sembarangan (tindakan ini tentu tak dapat dibenarkan, tapi coba bandingkan dengan respon terhadap limbah di festival musik yang juga sama berlimpahnya). 

Barangkali respon negatif terhadap Citayam Fashion Week tak selalu dilatarbelakangi oleh alasan yang valid, namun keengganan kelas menengah atas untuk mengasosiasikan diri mereka dengan masyarakat dari kelas sosial berbeda. Upaya gatekeeping wilayah SCBD sebagai kawasan elit terasa seperti acungan jari tengah terhadap slogan “Jakarta Milik Semua” yang digaungkan Pemprov DKI beberapa bulan lalu. Pada akhirnya Jakarta belum seinklusif yang kita impikan, dan ada beberapa kelompok yang akan berupaya sekuat tenaga memastikan hal itu tak berubah. whiteboardjournal, logo