Dari GPT-4 Hingga Microsoft Copilot, Apakah Mempermudah atau Mengancam Kerja Manusia?

Human Interest
25.03.23

Dari GPT-4 Hingga Microsoft Copilot, Apakah Mempermudah atau Mengancam Kerja Manusia?

Jadi lebih mudah atau justru jadi menyeramkan?

by Whiteboard Journal

 

Teks: Alissa Wiranova
Foto: Forbes

Tahun 2023 ini dipenuhi dengan berita soal perkembangan teknologi, terutama yang berkaitan dengan artificial intelligence. Mulai dari kegemparan publik terhadap chatbot canggih milik OpenAI yaitu ChatGPT, kompetisinya dengan teknologi serupa seperti Bing dan Bard, hingga kolaborasinya bersama berbagai aplikasi yang digunakan pada dunia kerja, teknologi AI selalu menjadi bahan pembicaraan publik belakangan ini. 

Tak hanya itu, Slack pun baru mempublikasikan kolaborasinya bersama ChatGPT. Aplikasi semacam workspace yang biasa digunakan oleh para pekerja ini kini telah menghadirkan add-ons ChatGPT sebagai virtual assistant untuk para penggunanya. Lewat fitur baru ini, pengguna Slack dapat membuat draf pesan dan merangkum percakapan yang terjadi di dalam room Slack secara otomatis. 

Tak hanya itu, Microsoft juga baru saja meluncurkan Copilot, yaitu AI yang dapat mempermudah para pengguna untuk melakukan pekerjaannya. Lewat teknologi terbaru ini, pengguna dapat membuat slides Powerpoint dan menciptakan draf tulisan di Word secara otomatis. 

“We believe this next generation of AI will unlock a new wave of productivity growth: powerful copilots designed to remove the drudgery from our daily tasks and jobs, freeing us to rediscover the joy of creation,” ucap Satya Nadella, CEO Microsoft. Munculnya berbagai teknologi terbaru AI ini sejatinya dimaksudkan untuk mempermudah kerja sekaligus meningkatkan produktivitas manusia. 

Tak hanya itu, kemunculan GPT-4 sebagai penerus ChatGPT juga ramai menjadi perbincangan publik. Merupakan sebuah large language models (LLMs) yang telah dilatih sedemikian rupa untuk mampu merespon berbagai prompts dari pengguna. 

Dengan menggunakan model teknologi yang lebih canggih daripada ChatGPT, GPT-4 dapat melaksanakan berbagai perintah seperti membuat website, membuat game seperti Pong, Tetris, dan Snake, hingga membuat draf tuntutan pengadilan. 

Meski keberadaan teknologi AI yang ditujukan untuk mempermudah kerja manusia ini beberapa waktu belakangan terus bermunculan, publik diharapkan untuk tetap bersikap kritis terhadap perkembangan ini. GPT-4 misalnya, masih berpotensi untuk melakukan kesalahan seperti merespon dengan agresif dan penuh bias, hingga menyebarkan disinformasi.  

Arun Chandrasekaran, analyst di Gartner Research, mengungkapkan bahwa publik perlu percaya—sekaligus bersikap kritis—terhadap perkembangan pesat AI yang terjadi belakangan ini. “Blind trust in these solutions is as dangerous as complete lack of faith in the effectiveness of it,” jelasnya. whiteboardjournal, logo