Ruangrupa Persiapkan Lumbung Inter-lokal, Lumbung Indonesia, dan Kassel Ekosistem dalam Pameran documenta fifteen di Jerman

Art
06.06.22

Ruangrupa Persiapkan Lumbung Inter-lokal, Lumbung Indonesia, dan Kassel Ekosistem dalam Pameran documenta fifteen di Jerman

Eksibisi seni “documenta fifteen” yang digelar di Kassel, Jerman hasil arahan dari kolektif seni Jakarta ruangrupa canangkan juga network “lumbung Indonesia” sebagai platform seni dan keberdayaan sumber daya alam di Indonesia.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Inaya Pananto
Foto: documenta fifteen

Eksibisi seni kontemporer documenta yang digelar tiap lima tahun di Kassel, Jerman tahun ini memasuki pagelarannya yang ke-15 dan diarahkan secara artistik oleh kelompok seniman dari berbasis di Jakarta yaitu ruangrupa. Ruangrupa sendiri adalah kolektif seniman dan individu-individu kreatif dari Jakarta yang dibentuk oleh Reza Afisina, Indra Ameng, Faris Rakun, Daniella Fitria Praptono, Iswanto Hartono, Ajeng Nurul Aini, Ade Darmawan, Julia Sarisetiati, dan Mirwan Andan.

Kolektif seni ruangrupa. (Foto: Gudskul/Jin Panji)

Ruangrupa membangun dasar inti pameran documenta fifteen dari ide ‘lumbung’ atau istilah untuk bangunan gudang beras yang banyak digunakan oleh petani-petani di Indonesia. Pengangkatan ide ini menunjukkan sisi artistik dan ekonomis dari ‘lumbung’ yang berdiri atas dasar kolektibilitas, saling berbagi, alokasi setara. Semua unsur-unsur ini menjelma seluruh bagian dari kolaborasi eksibisi seni “documenta fifteen” ini.

Ide dasar dan nilai dari lumbung yang dihadirkan dalam documenta fifteen diwujudkan melalui tiga network yaitu lumbung-interlokal, Kassel ekosistem, dan lumbung Indonesia. Sementara lumbung-interlokal bergerak secara global, Kassel ekosistem dan lumbung Indonesia ditambatkan ke lokasi masing-masing yaitu Jerman dan Indonesia. Tujuan bersama yang ingin diraih adalah menciptakan platform jangka panjang untuk aksi-aksi sustainable di luar kegiatan documenta fifteen.

Pihak ruangrupa menyatakan bahwa mereka ingin menciptakan sebuah platform kultural yang akan tetap efektif bahkan setelah 100 hari pameran documenta fifteen. Pendekatan kuratorial mereka mengusahakan bentuk-bentuk lain dari pemanfaatan bahan dasar dan model kolaborasi, baik dari segi ekonomi namun juga dari segi ide, pengetahuan, program dan inovasi. Dalam kondisi dan situasi saat ini, konsep dari lumbung beserta nilai-nilai solidaritasnya sangatlah vital dan relevan.

Ketika Kassel ekosistem dan lumbung inter-lokal didirikan dalam konteks documenta fifteen, lumbung Indonesia bergerak sedikit berbeda dari keduanya. Lumbung Indonesia dikembangkan sekaligus mengakar kembali ke inisiatif research FIXER yang telah didirikan sejak tahun 2010. FIXER sendiri mengumpulkan dan mengarsip ragam model strategi pemanfaatan sumber daya alam dari kolektif-kolektif seni yang ada di Indonesia. Kini kegiatan ini dijalankan oleh member dari lumbung yaitu Gudskul, sebuah platform berbagi edukasi kolektif Jakarta ruangrupa, Serrum, dan Grafis Huru Hara.

Hasil publikasi dari “Articulating Fixer 2021. An Appraisal of Indonesia Art Collectives in the Last Decade” dalam Bahasa Inggris dapat dibeli di Kassel dalam rangka documenta fifteen. Selain itu juga, publikasi tersebut dapat dibeli di lumbung Kios, ruruHaus, WIKULLiL di Lemon House, Rotopol, Sandershaus, dan dapat juga diunduh secara gratis di books.lumbung.space.whiteboardjournal, logo