Stories Across Rising Lands: Pameran Seni Kontemporer dari Asia Tenggara yang Diselenggarakan oleh Museum MACAN dan KONNECT ASEAN di Awal Tahun Baru

Art
02.12.20

Stories Across Rising Lands: Pameran Seni Kontemporer dari Asia Tenggara yang Diselenggarakan oleh Museum MACAN dan KONNECT ASEAN di Awal Tahun Baru

Bersama perupa dari berbagai negara di Asia Tenggara, pameran ini akan menampilkan delapan karya seni dan satu kolaborasi artistik

by Whiteboard Journal

 

Teks: Ratu Intan Mutia
Foto: Museum MACAN

Museum MACAN akan menyelenggarakan pameran seni kontemporer dari perupa asal Asia Tenggara dengan judul “Stories Across Rising Lands”. Pameran ini akan berlangsung mulai tanggal 23 Januari hingga 22 Mei 2021 di Museum MACAN dengan penerapan protokol kesehatan dan keamanan bagi pengunjung. Dikomisi oleh KONNECT ASEAN dan didukung oleh ASEAN-Republic of Korea Cooperation Fund, “Stories Across Rising Lands” merupakan sebuah inisiatif penting dari program seni dan budaya utama yang dimotori ASEAN Foundation. 

Fokus utama pada pameran “Stories Across Rising Lands” adalah perilaku dan narasi sehari-hari yang turut membentuk koneksi sosial dan budaya terhadap suatu tempat. Selain itu, “Stories Across Rising Lands” juga merefleksikan keragaman dan penyebaran geografis pada wilayah ini. Hal ini menitikberatkan pada koneksi personal serta sejarah dan politik yang diamati melalui perspektif para perupa. 

Diselenggarakan oleh Museum MACAN serta dikuratori oleh Asep Topan dan Jeong Ok Jeon, pameran survei seni ini akan menampilkan karya dari delapan perupa dan satu kolaborasi artistik. Pengunjung dapat melihat karya seni dari Cian Dayrit (Filipina), Ho Rui An (Singapura), Kawita Vatanajyankur (Thailand), Saleh Husein (Indonesia), Lim Kok Yoong (Malaysia), Souliya Phoumivong (Laos), Maharani Mancanagara (Indonesia), Nge Lay (Myanmar), serta kolaborasi antara Tan Vatey dan Sinta Wibowo (Kamboja/Belgia). Perupa yang terpilih merupakan figur-figur yang telah berkontribusi aktif dalam berbagai diskusi seni kontemporer di negaranya. Kesepuluh perupa yang lahir di tahun 1980-an saling terhubung karena pengalaman universal dalam teknologi media, dampak perubahan ekonomi dan diskusi politik, juga pendekatan terhadap format estetika yang mencerminkan pergerakan subtil antara konteks lokal, regional dan global.

Karya para perupa tersebut disajikan dalam bentuk video, instalasi, fotografi, lukisan, serta video performance. Bagi pengunjung yang tidak dapat mengunjungi museum, akan tersedia berbagai aktivasi digital terintegrasi dan panduan virtual. Aktivasi ini mencakup tur pameran virtual yang akan dipandu oleh Asep Topan dan Jeong Ok Jeon. Pengunjung mengunjungi situs mikro yang menampilkan karya Cian Daryit dan minatnya pada arsip institusional. Selain itu, ada pula komisi augmented reality (AR) dari Saleh Husein yang akan mengeksplorasi karyanya melalui filter Instagram. Serangkaian program publik daring dan kegiatan edukasi yang merupakan kolaborasi antara Museum MACAN, KONNECT ASEAN, dan Festivo ini akan dihadirkan selama pameran berlangsung. whiteboardjournal, logo