Who, What, Why: Kolektif dengan Fokus Pada Street Art

Art
15.11.20

Who, What, Why: Kolektif dengan Fokus Pada Street Art

Beberapa kolektif yang mendukung perkembangan seniman street art.

by Whiteboard Journal

in partnership with British Council - DICE (Developing Inclusive Creative Economy)

Artzheimer

WHO

ArtZheimer merupakan sebuah komunitas yang berupaya mengenalkan ragam medium seni dari mural, grafiti dan lukisan. Komunitas ini kini beranggotakan 36 orang.

WHAT

Komunitas Artzheimer mengadakan pameran-pameran seni, kegiatan gambar bersama dan diskusi yang berkolaborasi dengan komunitas lintas disiplin di Madura.

WHY

Artzheimer muncul dari keinginan untuk berbagi pengetahuan mengenai dunia seni rupa, terkhususnya street art. Hal ini diupayakan dengan mengadakan kegiatan-kegiatan kolaboratif sekaligus egaliter yang akhirnya menumbuhkan kesadaran bersama.

Barasub

WHO

Barasub merupakan penerbit kontemporer dengan fokus seni sekuensial dan zine yang mencangkup cabang seni rupa seperti komik, novel grafis, drawing, poster, design, fotografi, mural, seni bunyi dan seni performans yang dikelola oleh asosiasi kartunis. Barasub diorganisir oleh beberapa seniman yaitu Chrisna Fernand, Reza Kutjh, Haidar Wening, Dwiky KA, Enka Komariah, Ricky Prayudi, Rangga P.P serta melibatkan beberapa rekan penulis dan volunteer pada setiap proyeknya. Bagi Barasub, kehadiran ruang, faktor finansial serta inovasi merupakan faktor yang perlu diupayakan demi menjaga keberlanjutan kolektif.

WHAT

Barasub memiliki kegiatan seperti: Beringas, sebuah kompilasi komik dan karya berbasis seni sekuensial yang dikurasi pada setiap edisinya; Graos, sebuah terbitan untuk karya individu; Eniz, sebuah terbitan alternatif yang memuat konsep proyek kolaborasi dan pameran; Lapak Ilegal (Lail), sebuah upaya pendistribusian wacana dan edukasi masyarakat; Cinema Sequencia, sebuah proyek animasi, film kartun, GIF dan seni video; serta Dinding Dengung, proyek mural dan street art.

WHY

Barasub terbentuk atas dasar urgensi dari kurangnya akses wacana seni rupa serta ruang untuk memfasilitasi para pekerja seni sekuensial. Chrisna Fernand, sebagai salah satu pendiri mulai mengajak rekan pelukis dan desainer untuk bekerjasama menindaklanjuti permasalahan ini hingga terealisasi menjadi sebuah ruang kolektif dan penerbitan. Programnya, Lail, menjadi salah satu bentuk konkrit Barasub yang terlibat berpartisipasi dalam permasalahan masyarakat tentang minimnya daya baca di Indonesia. Lail terjun bersama koper penuh buku kepada masyarakat langsung ke sekolah-sekolah, pesantren, pasar tradisional, pusat wisata, warung makan, serta event-event tertentu secara ilegal untuk menjajakan materi-materi publikasi serta menjadi perpustakaan baca keliling.

Gardu House

WHO

Gardu House bergiat di graffiti dan street art. Berawal dari tongkrongan kampus Intersudi, Panglima Polim, Gardu House terbuka bagi siapapun yang ingin bergerak bersama. Per 2019, ada sekitar 15 orang aktif mengelola Gardu House dengan latar belakang seniman, pelajar, designer, kurator muda, dan fotografer. Bagi Gardu House, “Respect” dan “Attitude” menjadi kunci dalam menjalankan kehidupan berkolektif.

WHAT

Secara tahunan, Gardu House punya program pameran, edukasi, workshop, showcase, residensi, dan festival. Salah satu program besar Gardu House adalah Street Dealin Festival, lebaran para komunitas street art.

WHY

Gardu House lahir dari tongkrongan kampus yang sama-sama memiliki kemauan untuk tetap berkumpul, berjejaring dan membuat karya bersama, untuk menjaga komunitas graffiti tetap ada. Gardu House tidak pernah membatasi kalangan yang ingin bergerak dan belajar bersama. Dengan landasan “banyak teman, banyak rejeki”, Gardu House telah membentuk support system lintas komunitas.

Indonesian Street Art Database (ISAD)

WHO

Indonesian Street Art Database (ISAD) merupakan kolektif street artist lintas wilayah yang berfokus untuk mengarsipkan dan mendokumentasikan geliat street art di Indonesia melalui platform online.

WHAT

ISAD menggerakkan pendokumentasian dan pengarsipan geliat street art, graffiti, stensil, stiker, poster, mural dan wheatpaste dalam bentuk foto, video, audio dan teks. Kini, ISAD telah menjaring geliat street art di wilayah di Sumatera dan Jawa. ISAD juga mempromosikan berbagai gelaran street art.

WHY

Melalui kerja pendokumentasian, pengarsipan dan pendukungan gelaran street art, ISAD menjadi salah satu platform street art dengan jejaring terluas di Indonesia. Selayaknya fungsi sebuah pengarsip, ke depannya, arsip-arsip ISAD akan berguna bagi seniman, peneliti dan masyarakat umum untuk membaca kembali pergerakan street art di Indonesia. Hal ini berangkat dari semangat kolaborasi dan solidaritas antar komunitas.

Komunitas Pojok

WHO

Komunitas Pojok merupakan perkumpulan street artist Bali, yaitu WildDrawing, Slinat, WarCD, Bob Trinity dan Mr. X. Melalui karya-karyanya di ruang publik, Komunitas Pojok mengkritik gelaran-gelaran seni rupa Bali yang dianggap menciptakan hegemoni.

WHAT

Komunitas Pojok identik dengan Bali yang Binal, yaitu sebuah festival ruang publik yang mengkritik ajang Bali Biennale yang diadakan pada 2005. Bali yang Binal kemudian terus berlanjut per dua tahun sekali, terus mempertemukan seniman untuk berbincang, dan selanjutnya mengkritik isu-isu sosial dan pariwisata di Bali.

WHY

Kehadiran Komunitas Pojok dengan karya dan kritik di ruang-ruang publik memperkaya geliat seni rupa kontemporer Bali, terkhususnya dalam dunia street art. Komunitas Pojok pun konsisten dan peduli terhadap isu sosial, budaya dan pariwisata di Bali yang dapat secara progresif disampaikan di setiap gelarannya.

Survive Garage

WHO

SURVIVE! Garage merupakan ruang sekaligus bengkel seni yang mendukung seniman muda independen melalui fasilitasi dan aktivasi forum. SURVIVE! berupaya menciptakan forum alternatif berbasis komunitas agar para seniman dapat membuka dialog dan saling terhubung. Komunitas ini dibentuk oleh seniman Bayu Widodo.

WHAT

SURVIVE! memiliki kegiatan seperti ajang gambar bersama di ruang publik berjudul Free Wall Project; pameran fundraising, Keep The Fire On; pameran di ruang-ruang di luar galeri SURVIVE! bernama SURVIVE! Attack; pameran karya sablon Cetak Saring Attack, program bincang Diskusi Ini Itu; dan program seniman residensi SURVIVE! Independent Art Residency (SIAR).

WHY

SURVIVE! Garage lahir dari kebutuhan ruang untuk pameran dan berbagi informasi mengenai seni dan masyarakat. Kini, komunitas ini memperluas diri menjadi ruang seni berbasis komunitas yang mewadahi ekspresi dan komunikasi lintas disiplin dan lintas generasi, terutama untuk membicarakan isu-isu sosial secara kritis.whiteboardjournal, logo