Highly Anticipated, Film Pixar “Elemental” Justru Dinilai Hambar oleh Beberapa Kritikus

Film
18.06.23

Highly Anticipated, Film Pixar “Elemental” Justru Dinilai Hambar oleh Beberapa Kritikus

Meskipun visualnya menarik, kemampuan storytelling Pixar belakangan ini terasa “datar”.

by Whiteboard Journal

 

Foto: Pixar

Apakah ada cerita imigran yang universal? Ini adalah pertanyaan yang coba dijawab oleh Pixar dalam film terbarunya, “Elemental.” Film ini mengisahkan percintaan antar-ras dalam sebuah kota urban fantastis bernama Element City, di mana makhluk-makhluk dari unsur air, tanah, udara, dan api hidup berdampingan. Element City adalah komunitas imigran, namun kelompok orang api, termasuk pahlawan film Ember Lumen, merupakan kelompok imigran terbaru dan terisolasi. Sayangnya, “Elemental” gagal menggambarkan kelompok ini dengan cara yang tidak mengandung stereotip. Film ini hanya menghadirkan klise-kilise yang kurang spesifik.

Peter Sohn, seorang sutradara Pixar, membuat “Elemental” sebagai film keduanya. Meskipun visualnya menarik, konsep film ini terasa kurang matang. Sayangnya, penggambaran stereotip tentang isolasi minoritas, aturan yang ketat, dan tekanan filial yang membebani membuat film ini kehilangan urgensi persoalan dunia nyata yang diangkat. “Elemental” hanya menyajikan metafora tentang kesenjangan rasial tanpa menggali akar masalahnya.

Romansa dalam film ini juga terasa kurang memuaskan karena harus mewakili tema asimilasi. Ember, pahlawan film yang terbuat dari nyala api, harus mengatasi ketakutannya dan menjembatani perbedaan dengan cinta. Sayangnya, penyelesaian yang ditawarkan film ini terasa terlalu sederhana. Keunikan karakter Wade, yang jatuh cinta pada Ember dengan cepat dan tidak perlu berubah, juga tidak membantu meningkatkan daya tarik cerita.

“Elemental” mencoba menghadirkan desain visual yang menakjubkan, namun kemampuan storytelling Pixar belakangan ini terasa datar. Film ini terlihat seperti upaya yang belum sempurna untuk menemukan keseimbangan antara cerita yang ramah anak-anak dan tema dewasa.whiteboardjournal, logo