Who, What, Why: Dionisius Dexon

Human Interest
31.07.20

Who, What, Why: Dionisius Dexon

Seorang penulis buku dan musisi yang melihat tulis menulis sebagai wadah keluh kesah untuk berbicara seputar kesehatan mental tanpa stigma.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Annisa N. Harsa

WHO

Dionisius Dexon adalah salah satu penulis yang berkontribusi dalam buku Open Column 2 yang berbincang seputar kesehatan mental. Ia juga merupakan seorang penulis, staf di salah satu perusahaan konsultasi tata ruang di Jakarta, penulis, serta pegiat kreatif. Sebagai karirnya menjadi penulis, ia sudah menerbitkan empat judul buku, yaitu “Seratus Pekan Sebelum Ledakan”, “Yojana”, “Untuk Seorang Perempuan yang Mengubah Rindu Menjadi Api”, dan “Jangan Sembunyi di Bumi”. Selain dengan mengejar kegemaran dalam tulis menulis sebagai bentuk berbagi pemikiran, menjadi jujur, serta memeluk diri sendiri, Dionisius juga kerap menggeluti aktivitas lain, terlebih lagi dalam aktivitas berbasis kolektif. Dalam waktu kosongnya, ia juga kerap mengisi kelas menulis ataupun bereksplorasi dalam bermusik dalam sebuah band ataupun musisi tunggal.

WHAT

Dalam proyek ini, Dionisius menulis karya bertajuk “Seni Menyelamatkan Diri Sendiri” untuk mengangkat tema seputar kesehatan mental. Proses penulisan karya tulis untuk proyek ini pun mengharuskan Dionisius untuk kembali mengunjungi masa lalu dan mengumpulkan rasa kekesalan, ketakutan, serta kesedihan yang ia lalui dan dokumentasikan dalam buku catatan pribadi. Inspirasi-inspirasi yang ia ambil pun meliputi perasaan yang tidak dapat dibicarakan secara umum karena adanya ketakutan akan masalah atau stigma dari lingkungan sekitar. Tak hanya itu, melalui tulisan bertajuk “Seni Menyelamatkan Diri Sendiri” ia juga ingin menyuarakan keluh kesah orang lain yang juga tidak berkesempatan untuk bercerita. Baik itu karena kesehatan mental dilihat sebagai kelemahan, permasalahan, kekurangan, ataupun sesuatu yang sangat disepelekan.

WHY

Kepedulian Dionisius dalam topik kesehatan mental dan mengirim karya tulisan seputar perbincangan tersebut didasari oleh keinginannya untuk kesehatan mental dilihat sebagai sesuatu yang serius dan penting. Hal ini dapat dilakukan dengan edukasi melalui internet dan media sosial. Hanya saja, edukasi melalui media sosial terkadang masih memiliki hambatan, yaitu bahwa tak semua orang akan tertarik untuk mendalami hal tersebut, entah karena dianggap membosankan atau kurang penting. Ke depannya, Dionisius pun berharap bahwa akan lebih banyak ruang yang mudah diakses dan terbuka bagi publik untuk menggagas perbincangan seputar kesehatan mental dan isu-isu lainnya yang terkait, baik itu dalam diskusi online ataupun pengenalan kesehatan mental di lingkup akademis Indonesia. Terlebih lagi bagi mereka yang membutuhkan wadah dan keberanian untuk berbagi cerita. 

 whiteboardjournal, logo