Twitter Semakin Kontroversial, Eks-Pegawai Ciptakan Berbagai Aplikasi Tandingan

Media
21.02.23

Twitter Semakin Kontroversial, Eks-Pegawai Ciptakan Berbagai Aplikasi Tandingan

Mulai dari Cohost, T2, hingga Mastodon.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Alissa Wiranova
Foto: Search Engine Journal 

Kini, masyarakat–atau setidaknya tim redaksi Whiteboard Journal–tak lagi bisa hidup tentram sehari-hari tanpa adanya berita baru soal aplikasi biru cuap-cuit, yaitu Twitter. Hal ini terjadi baru beberapa bulan belakangan ini, terutama semenjak perusahaan besar yang satu ini diakuisisi oleh Elon Musk, miliarder raksasa pemilik SpaceX dan Tesla. 

Mulai dari kebijakan badge ceklis biru berbayar, pemecatan pegawai secara masif, pemboikotan akun-akun jurnalis, hingga aksi ‘manipulatif’ Musk menaikkan eksposur tweetnya, Twitter jadi platform yang tak lagi nyaman dan aman bagi pengguna. Hal ini–dikombinasikan dengan pemecatan pegawai berkualitas–justru mendatangkan ancaman baru bagi Musk, yaitu munculnya berbagai aplikasi kompetitor serupa. 

Pada kasus Sarah Oh, misalnya. Mantan human rights advisor Twitter yang dipecat Musk ini kini tengah mengembangkan aplikasi baru bernama T2. Berkolaborasi dengan seorang kolega bernama Gabor Cselle (eks Twitter dan Google), Oh menyajikan sejenis social feed dengan limit karakter sebanyak 280 huruf per unggahan. 

T2, meski dapat dikatakan nyaris merupakan dupe dari Twitter secara konseptual, Oh menegaskan ada key-selling points lain yang dijual aplikasi ini. 

“Kami ingin memberikan pengalaman bagi para pengguna untuk berbagi hal apapun yang mereka inginkan, tanpa harus mengkhawatirkan risiko semacam abuse dan harassment. Kami pikir kami adalah orang yang sangat tepat untuk menyampaikan pesan ini,” jelas Oh dalam wawancaranya bersama CNN. 

Tak hanya Oh seorang, Jae Kaplan juga melakukan hal yang serupa. Dirinya mengembangkan aplikasi bernama Cohost, sebuah media sosial berbasiskan teks yang mirip dengan Twitter. Cohost sendiri sudah resmi diluncurkan sejak Juni tahun lalu, dan sempat mengalami peningkatan pengguna sebanyak 80.000 orang dalam kurun waktu 48 jam ketika Musk resmi mengakuisisi Twitter pada bulan November. 

Meski memiliki banyak kompetitor baru, Twitter sendiri masih tetap unggul dari segi jumlah pengguna. Dengan total sekitar 200 juta orang daily active users, jumlah pengguna Twitter masih berjumlah 10.000 kali lipat bila dibandingkan Cohost dengan total 20.000 pengguna aktif. Aplikasi lain, Mastodon misalnya, memiliki jumlah pengguna lebih tinggi, yaitu sekitar 2,5 juta orang. 

Selisih yang jauh antara jumlah pengguna aktif Twitter dan aplikasi kompetitor lainnya ini tak menjadikan Eugen Rochko, pendiri Mastodon, patah semangat. Dalam wawancara eksklusifnya bersama CNN, ia mengaku tak melihat hal ini sebagai ancaman yang sangat berarti. 

“Tak ada platform yang bisa viral terus-menerus,” jelas Rochko membicarakan soal ledakan jumlah pengguna Mastodon di November tahun lalu. “Perhatian orang terhadap satu media sosial tentu akan berangsur pergi setelah viral beberapa saat, tapi tetap meninggalkan organic growth sebagaimana pengguna yang kami dapatkan di November–yang mana beberapanya masih tetap ada sampai sekarang.”whiteboardjournal, logo