Merunut Aksi Tom Hardy Sebagai Anti-Hero Favorit Marvel, Venom

Film
12.10.18

Merunut Aksi Tom Hardy Sebagai Anti-Hero Favorit Marvel, Venom

Beberapa poin yang menjelaskan mengapa para fans Venom merasa sangat kecewa terhadap film ini.

by Emma Primastiwi

 

Foto: Variety

Para penggemar serial komik “The Amazing Spider-Man” diberi kabar bahagia oleh Sony tahun lalu, karakter anti-hero favorit Marvel akhirnya akan mendapatkan filmnya sendiri. Diungkapkan tahun 2017 lalu menjelang New York Comic Con, Sony Pictures mengumumkan bahwa karakter Venom akan dihidupkan oleh Tom Hardy di layar lebar. “Venom” merupakan upaya pertama Sony Pictures untuk meluncurkan Marvel universe-nya sendiri yang bertajuk Sony’s Marvel Universe, terpisah dari Marvel Cinematic Universe. Maka dari itu, sebagai awal dari dunia baru yang diciptakan oleh Sony, ekspektasi untuk film ini sangat tinggi. Walau telah mendominasi bioskop di seluruh dunia, sayangnya para penggemar Venom sangat kecewa dengan hasilnya. Berikut adalah beberapa poin yang menjelaskan mengapa para fans Venom merasa sangat kecewa terhadap film ini.

Naskah kurang maksimal

Dari pengumuman Sony tahun lalu saat NYCC, banyak penggemar yang khawatir bahwa tanggal ini terlalu cepat untuk menyajikan film yang memuaskan dengan alur cerita dan karakter yang matang. Kekhawatiran itu pun menjadi kenyataan saat film tiba di layar lebar. Penonton bisa melihat bahwa alur cerita dari film ini terasa sangat terburu-buru, memberikan jarak yang terlalu cepat antara eksposisi konflik dan penyelesaian.

Penulisan karakter kurang meyakinkan

Penulisan karakter antagonis Carlton Drake yang diperankan oleh Riz Ahmed tidak meyakinkan penonton bahwa ia mempunyai motivasi yang cukup kuat sebagai lawan yang layak untuk mengalahkan seorang Venom.

Pengembangan karakter Venom

Namun, satu hal positif yang bisa diambil dari penulisan karakter dalam film ini adalah dinamika antara Eddie Brock dan Venom yang diperankan oleh Tom Hardy, penampilan Tom Hardy sebagai Venom sangat mengangkat kekurangan dari naskah film ini. Pengembangan karakter Venom yang dasarnya mempunyai sifat yang violent dan liar dan berkembang menjadi patuh sangatlah cepat dan tidak didukung dengan alasan yang kuat. Tetapi, dialog antara Eddie Brock dan Venom tetap sejati pada dinamika mereka dalam serial komiknya. Sebagai penonton, sangatlah menghibur untuk menonton Eddie Brock bergulat dengan kesadarannya yang telah diambil alih oleh Venom.

Arahan kreatif tidak konsisten

Film ini memiliki special effects yang luar biasa, berkat studio One of Us yang telah mengerjakan berbagai film seperti Star Wars dan The Revenant. One of Us menyumbangkan salah satu kekuatan film ini, yakni identitas visual “Venom” yang sesuai dengan visualisasi Marvel – jauh lebih baik dibanding versi Topher Grace di “Spiderman 3”. Namun, di luar itu, kekurangan terbesar film ini juga terdapat di arahan kreatifnya, dengan setting yang tidak konsisten dan tone emosional yang terkadang tidak sesuai, tone visual dalam film ini terlihat cukup berantakan. Sekali lagi, hal ini bisa termasuk pengaruh naskah yang belum 100% matang.

Rating film tidak sesuai

Unsur karakter Venom sangatlah unpredictable, liar dan penuh dengan kegelapan. Awal mula pertemuan Eddie Brock dan Venom pun juga dipenuhi dengan konflik dan kekerasan. Maka dari itu, rating PG-13 terasa sangat tidak sesuai dengan karakter cerita “Venom” yang identik dengan kekacauan. Walau Sony sengaja mengincar rating ini agar dapat membuka jalan bagi karakter Venom untuk bergabung dengan film Marvel lainnya, ambisi ini malah menciptakan suatu proyek yang tidak memuaskan. Berbeda dengan “Spiderman: Homecoming” yang mempunyai rating tersebut karena sesuai dengan identitas karakternya, dunia “Venom” akan lebih masuk akal jika mempunyai rating R.

Adegan pertarungan yang terlalu jinak

Mengetahui bahwa Ruben Fleischer menyutradarai proyek ini, ekspektasi untuk “Venom” tentunya meningkat, apalagi setelah melihat kesuksesan “Zombieland” yang mempunyai undertone yang mirip dengan unsur cerita ini. Namun, direksi Fleischer pun tidak membantu film ini, adegan action yang terlalu jinak dan terlihat kaku mungkin bisa diterima untuk film superhero lainnya, tetapi untuk film “Venom”, adegan-adegan tersebut sangatlah datar dan membosankan – tidak sesuai dengan identitas serial komik dan juga karakter sejati Venom. Dan jika membandingkan kedua versi ini secara langsung, film ini merupakan versi dunia “Venom” yang seakan-akan telah dikebiri dan dijinakkan.

Secara menyeluruh, “Venom” mempunyai potensi yang sangat tinggi yang sayangnya belum dimanfaatkan, inilah alasan utama yang sangat mengecewakan para penonton dan pengikut sejatinya. Jika saja Sony menghabiskan lebih banyak waktu untuk mematangkan naskah dan konsep dari segi kreatif, film ini bisa menandai awal yang bagus untuk dunia baru yang ingin diciptakan oleh Sony, yakni Sony’s Marvel Universe. Untungnya, Tom Hardy telah menandatangani kontrak yang mengikatnya untuk 3 film sekaligus, sehingga masih ada kesempatan bagi Sony untuk memperbaiki kesalahan mereka dan menyuguhkan film “Venom” yang memuaskan. whiteboardjournal, logo