Menelaah Sakitnya Digantikan bersama Olivia Rodrigo dalam Album Perdana “SOUR”

Music
26.05.21

Menelaah Sakitnya Digantikan bersama Olivia Rodrigo dalam Album Perdana “SOUR”

Album Perdana Olivia Rodrigo, “Sour”, membahas sakitnya patah hati dan digantikan.

by Whiteboard Journal

 

Text: Shadia Kansha
Foto: Geffen Records

Olivia Rodrigo adalah seorang singer/songwriter yang tengah dibicarakan akibat album perdananya yang sangat membekas bagi para pendengarnya, baik karena penulisan lirik hingga aransemen musik. Memulai karirnya melalui Disney Channel, gadis kelahiran 2003 tersebut mantap menerjunkan dirinya dalam bermusik setelah resmi teken kontrak dengan Interscope dan Geffen Records pada tahun 2020. Single debutnya, driver’s license”, yang rilis pada Januari tahun ini berhasil melambungkan namanya dalam radar pendengar musik di seluruh dunia. Kesuksesan tersebut terus diikuti oleh rilisan-rilisan setelahnya dan mencapai puncaknya ketika ia menerbitkan album perdananya bertajuk “SOUR”.

Olivia Rodrigo adalah seorang upcoming pop princess yang memprioritaskan penulisan lagu di atas apapun. Terbukti, kualitas penulisan lagu dalam album ini bersinar terang. “SOUR” adalah koleksi dari kumpulan lagu-lagu patah hati. Judul album tersebut pun terpilih karena Olivia percaya bahwa kisah cinta yang manis dapat berakhir asam.

Dalam repertoire yang dia tawarkan dalam album ini, Olivia sempat mendeskripsikan beberapa hal yang kerap diasosiasikan dengan toxic relationship. Dalam lagu “1 Step Forward, 3 Steps Back”, Olivia menggambarkan perasaan cemas, gundah, dan bingung yang timbul dari mixed signals yang diberikan oleh kekasihnya. “Enough for You” dan “Favorite Crime” membahas betapa sakitnya ditinggalkan pasangan setelah jatuh bangun melakukan yang terbaik untuknya. Inti dari ketiga lagu ini adalah kesediaan kita untuk berjuang demi seseorang belum tertentu akan memberikan hasil yang kita inginkan.

Salah satu hal yang menarik dari album ini adalah betapa seringnya ‘sakit karena digantikan’ dibahas. Walaupun begitu, Olivia berhasil menuliskan tema ini dengan warna yang berbeda-beda. “Traitor” menyentuh topik emotional cheating dan betapa menyakitkannya kecurigaan yang tidak dapat dibuktikan. “Driver’s License” berfokus pada perasaan sedih yang timbul ketika mengetahui bahwa yang kita pernah cintai telah berpindah ke lain hati. “Deja vu” hadir seakan menyindir pasangan barunya yang hadir hanya sebagai pengganti. “Good 4 U” menggambarkan perasaan tidak rela bahwa dia telah melanjutkan hidupnya dengan baik. “Happier” menggambarkan dilema akan kebahagiaan yang timbul ketika sang mantan kekasih lebih bahagia dengan pilihannya.

Apakah seluruh lagu yang ada di album tersebut membahas patah hati? Tidak. Olivia juga membahas manusia dan ketamakannya. Track pembuka album tersebut, “Brutal” seakan menyindir ketidakpuasan kita terhadap kehidupan yang kita miliki serta masalah-masalah yang mengikutinya. Sedangkan “Jealousy, Jealousy” menyindir ketidakpuasan kita terhadap diri sendiri yang timbul dari rasa iri atas kesuksesan orang lain. Ternyata, selain menjadi kesempatan untuk membahas kegagalan romantika, Olivia juga menyampaikan kegelisahannya terhadap budaya tidak puas yang kerap ditemui dalam manusia pada umumnya. Album ini ditutup dengan lagu “Hope ur ok” yang terasa sangat bittersweet. Lagu tersebut mengingatkan kita bahwa apapun masalah kita, masih ada yang peduli terhadap kita. 

Presisi lirik layaknya Taylor Swift, dibarengi musik pop-punk dan ballad apik ala Avril Lavigne menginjeksikan banyak perasaan dalam sesuatu yang terasa sederhana. Satu hal yang pasti tentang album ini: Olivia Rodrigo adalah penulis lagu yang handal. Terlepas dari apakah pengalaman hidup pribadi kita dapat menunjang arti dari lirik lagu-lagu yang ada dalam album ini, entah mengapa Olivia berhasil meyakinkan kita bahwa apapun yang dia rasakan adalah sesuatu yang nyata adanya.

Olivia membuka albumnya dengan frasa “I want it to be, like, messy”. Begitulah perasaan para pendengar setelah khatam mendengarkannya. Berantakan.whiteboardjournal, logo