Who, What, Why: Meruang

Music
05.06.20

Who, What, Why: Meruang

Merangkai playlist musik terapeutik sebagai bentuk dukungan moral bagi pasien maupun tenaga medis.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Annisa Nadia Harsa

WHO

Meruang, atau Merdu Ruang, adalah sebuah inisiatif yang menyediakan dukungan moral bagi para tenaga medis yang berjuang untuk menangani krisis wabah COVID-19. Berawal dari sebuah obrolan antara musisi-musisi Yogyakarta, Meruang adalah sebuah proyek musikal yang ingin sajikan sebuah dukungan dalam bentuk playlist terapeutik bagi tenaga medis juga pasien. Guna sajikan rangkaian kurasi lagu yang dapat memenuhi kebutuhan yang berbeda untuk tenaga medis dan pasien, Meruang pun telah melibatkan kolaborasi antar individu lintas bidang, yaitu akustemologi dengan Sabdono Sudarsono, konsultasi ruang medis bersama Athanasius Wrin dari Panti Rahayu Yogyakarta, Aidin Rezhanoor untuk pemilihan musik elektronik, serta Wahyu Thoyyib Pambayun untuk pemilihan musik karawitan. Melalui kolaborasi ini, Meruang ingin ciptakan rangkaian playlist yang mampu memenuhi kebutuhan pasien ataupun tenaga medis dengan pilihan musik yang mampu mempengaruhi psikis dan mental pendengar secara positif di ruang medis.

WHAT

Playlist terapeutik dari Meruang disajikan dalam dua bentuk, yaitu digital yang dapat diakses melalui situs mereka, serta dalam bentuk fisik berupa flashdisk. Dalam proses penciptaan playlist terapeutik tersebut, tim Meruang harus mempertimbangkan beberapa faktor, yaitu subjek atau pendengar, kondisi ruang, serta intervensi atau tujuan yang ingin dicapai dari playlist tersebut. Untuk perancangan playlist bagi seorang pasien, suara yang diseleksi harus menimbulkan rasa ketenangan sekaligus meningkatkan semangat pasien untuk pulih dari penyakit mereka. Adapun bagi para tenaga medis, playlist terapeutik dari Meruang dirancang dengan fokus pada aspek ketenangan. Tak hanya itu, adanya keperluan akan alat komunikasi bagi pekerjaan tenaga medis pun juga menjadi salah satu faktor, yaitu dengan memastikan lagu-lagu yang digunakan tidak menggunakan frekuensi yang tinggi. 

Dengan adanya banyak pihak yang terlibat, proses tersebut diawali dengan penyusunan detail kebutuhan musik yang melibatkan kerjasama antara akustemolog dan kurator musik yang disusun berdasarkan ruang dan waktu putar. Proses ini kemudian dilanjutkan dengan pemilihan musik oleh para kurator, baik itu elektronik ataupun karawitan yang melibatkan pertimbangan durasi, tempo, dinamika antar lagu, serta penambahan soundscape alam di beberapa segmen playlist. Khususnya musik karawitan, kurator harus memperhatikan aturan dalam urutan permainan musik yang mengikuti moda musikal yang sudah ditentukan. Setelah proses tersebut selesai, pihak Meruang pun memproses aspek legalitas dari penggunaan lagu dalam playlist. Kini, Meruang sudah sajikan dua genre playlist berupa elektronik dan karawitan yang sudah dikurasi berdasarkan pendengar juga waktu dari pagi, siang, sore, hingga malam.

WHY

Frekuensi dan tempo dari musik memiliki kemampuan untuk memenuhi ruang kemudian memengaruhi psikis para pendengarnya, sehingga musik dapat memiliki peranan besar dalam terapi. Tempo dapat memengaruhi detak jantung pendengar, sedangkan irama musik memiliki kemampuan untuk mengaktivasi neuron, kemudian melodi musik dapat membangkitkan suatu memori. Dengan latar sebagai pekerja seni, tim Meruang memilih untuk menyajikan kurasi playlist yang dapat memenuhi kebutuhan psikis tenaga medis dan pasien di rumah sakit merupakan bentuk alternatif dari praktik musik terapi di tengah COVID-19 ini. Selain itu, proyek ini merupakan bentuk apresiasi dan dukungan kepada tim medis serta pasien COVID-19. Untuk kedepannya, tim Meruang berencana untuk mengeksplorasi genre-genre dengan membuka tali kolaborasi bersama kurator lain agar dapat memenuhi preferensi musik lainnya dari pasien maupun tenaga medis. Tim Meruang pun berharap, bahwa pelaku lain dari industri musik juga akan terus bereksperimen, terutama yang memanfaatkan kuatnya daya musik dalam memberi pengalaman pada pendengarnya.whiteboardjournal, logo