“Gastrodiplomasi Nasi Bungkus Untuk Menaklukkan Lidah Dunia” : William Wongso dalam Pidato Kebudayaan TIM  

Culinary
14.11.23

“Gastrodiplomasi Nasi Bungkus Untuk Menaklukkan Lidah Dunia” : William Wongso dalam Pidato Kebudayaan TIM  

Peribahasa Tiongkok yang berbunyi, “Tell me what you eat, will tell you who you are”, dikutip oleh William Wongso sebagai gagasan utama dari pidato terkait gastrodiplomasi nasi bungkus dalam ulang tahun PKJ TIM tahun ini. 

by Whiteboard Journal

 

Teks : Agnina Rahmadinia
Foto : Andi Maulana/Dewan Kesenian Jakarta

Pidato Kebudayaan yang merupakan program tahunan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) kembali digelar pada Jumat (10/11) di Graha Bhakti Budaya. Program yang telah dilaksanakan sejak tahun 1989 ini secara konsisten diselenggarakan dalam rangka merayakan ulang tahun ke-55 Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki (PKJ TIM). Bambang Prihadi selaku Ketua DKJ memaparkan bahwa Pidato Kebudayaan 2023 mengangkat tema budaya makan, kuliner, dan bagaimana ketersediaan bahan pangan yang beragam dapat menjadi kekuatan diplomasi sebuah bangsa. Untuk itu, tahun ini DKJ mempercayakan William Wongso, sebagai seorang pemerhati kuliner nusantara untuk menyajikan pidato pada kegiatan Pidato Kebudayaan #SuaraJernihDariCikini. Mengingat kehadiran seorang tokoh nasional untuk mengupas dan membahas persoalan-persoalan penting dan aktual lewat perspektif kebudayaan menjadi salah satu ciri khas kegiatan ini.

Pidato ini dikemas dalam tajuk “Gastrodiplomasi Nasi Bungkus untuk Menaklukkan Lidah Dunia”, sebuah judul yang unik untuk mengetengahkan perspektif budaya lewat gastronomi nasi bungkus dengan cara yang kritis dan pemikiran yang jernih. Salah satunya, bagaimana William Wongso dalam pidatonya mengutip peribahasa Tiongkok yang berbunyi, “Tell me what you eat, will tell you who you are” atau dalam bahasa Tiongkok disebut 告訴我你吃什麼,就會告訴你你是 誰. Ungkapan yang bermakna “Beritahu aku apa yang kamu makan, (aku) akan katakan siapa (sesungguhnya) dirimu!” ini disebut sebagai inti yang ingin disampaikan pada pidato kali ini. Alih-alih berkata “Mulutmu, harimaumu”, William ingin menjelaskan lebih dalam bahwa bagaimanapun makan tak hanya menjadi proses naluriah dan kerja mengenyangkan perut, tetapi juga lebih banyak berkaitan dengan deteksi “perlidahan”. Sehingga, jati diri seseorang dapat dideteksi dari seberapa kemampuan “daya ingat” yang tersimpan dalam lidah seseorang, dan kemampuan seseorang mengendalikan lidahnya. Lebih jelas, pidato yang menarik ini dapat didalami lewat e-book  yang bisa diunduk melalui website www.dkj.or.id atau langsung diakses pada laman e-book ini.whiteboardjournal, logo