Seleksi Karya: FFWD Records

15.08.16

Seleksi Karya: FFWD Records

8 Album Pilihan

by Febrina Anindita

 

My Diary (2002)
Mocca

Tanpa album ini, mungkin takdir Fast Forward akan berbeda, bahkan bukan tidak mungkin, peta musik independen lokal juga akan berbeda. Perpaduan musik Riko dkk yang manis, dengan lirik yang bitter-sweet dari Arina menjadikan Mocca salah satu representasi terdepan indie-pop di Indonesia, jika bukan di Asia Tenggara. Tak heran bila lantas setelah album ini Mocca menjadi salah satu kekuatan besar yang membawa mereka pada pengalaman internasional yang membanggakan. Jangan lupakan juga video klip “My Secret Admirer” yang juga merupakan salah satu karya visual penting di awal tahun 2000an.

Visible Idea of Perfection (2006)
The SIGIT

Jika Jakarta punya The Brandals sebagai eksponen utama musik rock post-reformasi, The SIGIT adalah salah satu delegasi terbaik Kota Bandung. Mengakarkan musik mereka pada rock 70an ala Zeppelin, album penuh pertama dari The SIGIT ini memantapkan karakter mereka yang sebelumnya dibilang sekelompok pemuda yang terbawa trend garage rock revivalist yang mengemuka di era itu. Dalam satu kesempatan, Rekti mengungkapkan bahwa “Visible Idea of Perfection” dipilih menjadi judul album karena kalimat tersebut memiliki beberapa arti berbeda yang sama menariknya, dimana salah satu artinya adalah konsep kesempurnaan yang paling mendekati kenyataan. Sebuah rangkuman yang tak terlalu berlebihan, karena album ini mengantarkan The SIGIT untuk meraih banyak pujian dari dalam maupun luar negeri, juga pengalaman bermain di panggung internasional. Hingga kini, lagu-lagu dari album ini masih menjadi request wajib pada setiap panggung The SIGIT.

Tragicomedy (2006)
Polyester Embassy

Sampai hari ini, beberapa orang masih membandingkan Polyester Embassy dengan Radiohead. Meski jelas, Polyester Embassy bukan just another typical Radiohead worshipper band, karena komposisi yang mereka ciptakan cukup berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Thom Yorke dkk. Kalaupun ada hal yang sama, adalah kompleksitas isian instrumen setiap personilnya yang kaya, juga keberanian mereka dalam melakukan eksperimentasi bebunyian. Dalam setiap lagunya, ada kejutan-kejutan menyenangkan, membuat semua lagu disini merata kualitasnya. Poin lebih juga layak disanjungkan pada bagaimana di album ini Polyester Embassy bisa mengolah skill dan progresi tiap personilnya menjadi komposisi yang efektif dan tak berlebihan. Sebuah hal yang sulit dicari pembandingnya hingga sekarang.

Echoes of The Universe (2006)
Homogenic

Jika di album pertama Homogenic terasa masih mencoba-coba untuk menentukan arah musik mereka, di Echoes of The Universe yang dirilis dua tahun kemudian ini, Homogenic telah menemukan karakter yang pas. Ada nuansa berbeda pada setiap lagunya, porsi lagu bernuansa ceria dan kelam sama rata. Bahkan tak jarang, pada satu lagu, dua nuansa tadi digabungkan dalam balutan musik elektronik yang matang dan lush. Album ini juga merupakan yang terakhir dari formasi klasik Homogenic, dimana Risa sang vokalis kini fokus dalam proyek solonya Sarasvati, sedangkan format baru Homogenic masih berusaha untuk menemukan format terbaiknya kembali.

Longway to Nowhere (2008)
Teenage Death Star

Keputusan untuk merilis album double CD bagi sebuah band yang memproklamirkan diri sebagai band nir-skill mungkin adalah salah satu keputusan paling beresiko, juga paling berani yang pernah diambil oleh Fast Forward Records. Nyatanya, album ini termasuk salah satu album penting dari diskografi mereka. Dirilis dalam salah satu packaging termewah yang pernah mereka keluarkan, Longway to Nowhere dibuka dengan suasana berisik studio latihan dengan Sir Dandy sang vokalis yang hanya tertawa sepanjang durasi lagu. Sebuah fuck you attitude yang menyambut pendengarnya dengan nyata bahkan sejak pada menit pertama. Seakan ingin total dalam kepongahan mereka, disc dua di album ini berisi delapan lagu dari musisi lokal yang mengcover lagu Teenage Death Star. Rasa-rasanya, cuma Teenage Death Star yang bisa merilis materi baru beserta lagu kovernya sekaligus dalam satu kemasan. Dan ini mereka lakukan dalam rilisan pertamanya.

Outbox (2007)
Rock and Roll Mafia

Rock and Roll Mafia menjadi sebuah anomali yang menyenangkan di awal 2000an. Di saat semua berlomba untuk bermain dalam format band, Rock and Roll Mafia muncul dengan format elektronik yang menyegarkan. Berkali-kali berganti formasi (RNRM sempat berisi 9 personil), album ini merupakan salah satu format terbaik yang pernah dicoba oleh mereka. Dengan dua multi instrumentalis dengan satu vokalis perempuan ini, kemudian lahir beberapa lagu terbaik dari karir RNRM. Salah satunya adalah lagu berjudul absurd “Zsa Zsa Zsu” yang kemudian diabadikan oleh kolektif video Tromarama menjadi video klip stop motion yang paling diingat oleh pecinta musik lokal.

Everything Happens for A Reason (2010)
Hollywood Nobody

Cukup jarang rilisan bernuansa bossanova lahir di Indonesia, apalagi yang muncul dari scene musik independen. FFWD merupakan satu dari sedikit label yang memiliki warna ini diantara rosternya. Mencium talenta Hollywood Nobody sejak event LA Light Indiefest tahun 2006, “Everything Happens for A Reason” baru keluar empat tahun kemudian, karena berbagai kejadian yang dihadapi oleh personilnya. Toh penantian terbayar dengan kualitas album yang memuaskan. Sayangnya, tak lama setelah album dirilis, unit ini vakum. Sang vokalis, Dian Safitri sempat kembali bermusik dengan nama baru, Munchausen Trilemma yang juga cuma mengeluarkan satu lagu, namun dengan kualitas yang tak kalah baiknya dengan Hollywood Nobody.

Strangely Beautiful (2003)
Club 8

Perlu diketahui juga bahwa record label ini juga merilis beberapa album internasional, salah satunya adalah duo asal Swedia, Club 8. Vokal Karolina yang bening bisa membuat siapapun yang mendengar langsung jatuh hati. Begitupun dengan album ini, lagu-lagu yang diracik menciptakan sebuah cerita tentang hubungan platonis yang dilewati oleh dua orang yang merasakan significant love. It is tiring, but that kind of love is strangely beautiful for some people, and Club 8 encapsulates it effortlessly.whiteboardjournal, logo

Tags