Dalam liputan yang didukung oleh Pulitzer Center ini, Antonia Timmerman dan Rio Tuasikal mengupas bagaimana AI generatif berat kaitannya dalam membuat kita tumpul akan kekaryaan.
We teamed up with Fesa Husnayovari from KAIJIN Labs to chat with Neo Sora about the future of Asian cinema, the importance of independent creative spaces, and the discourse around nepotism in the industry.
In this Open Column submission, Gema Gita Persada shines light on the thin line between expressing our criticism and the state reading it as a legal offense, as we've seen from the recent 'timpa teks' incident.
In today's Open Column submission that happens to also be on National Culture Day, Radit Mahindro reminds us why we shouldn’t fall into the trap of modern urban taste and be dictated by its ‘deceptive’ standard measure of value and foreign expectations.
We sat down with Shye to discuss the lengths taken in being a DIY musician in Singapore, navigating the male-dominated music industry, to opening up on the journey of finding one's self through her latest album.
Dalam submisi Open Column ini, Dzulfikri Putra Malawi merespons tema “Holding Hands” di Pesta Boneka 2026 yang, selain memperkaya pemaknaannya terhadap seni pertunjukan boneka, juga mengajarkan keluarga kecilnya bahwa bergandengan tangan itu lebih dari melangkah dengan kecepatan yang sama.
Direktori: Di Makassar, Melihat Harapan dari Indonesia Timur
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode ketiga Direktori, kami berkunjung ke Makassar untuk belajar tentang bagaimana semangat literasi menghidupkan budaya kota juga tentang kebersamaan dalam keberagaman.
Di episode kedua mini seri Direktori, kami berkunjung ke Bali untuk mencari apa yang tersembunyi di balik deru pariwisata dan melihat bagaimana keberagaman hidup di sana.
Episode pertama untuk mini seri terbaru kami untuk campaign #Direktorikota, kami memulainya dengan pertanyaan besar, apakah semangat kebersamaan masih ada di keseharian kita?