24 Jam Interaksi dengan Para Kreatif di Reference Berlin

Fashion
28.05.19

24 Jam Interaksi dengan Para Kreatif di Reference Berlin

Menampilkan berbagai karya dari beberapa label seperti Martine Rose, Alyx dan Comme des Garçons.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Wintang Warastri
Foto: Hypebeast

Akhir pekan lalu, sebuah bangunan bekas tempat parkir disulap menjadi lokasi dari Reference Berlin, sebuah festival fashion 24 jam pertama di kota tersebut. Dikurasi oleh agensi kreatif Reference Studios dan publikasi 032c, mereka menampilkan berbagai karya dari beberapa label seperti Martine Rose, Alyx dan Comme des Garçons.

Festival ini merupakan hasil perencanaan selama lebih dari setahun oleh agensi komunikasi tersebut, yang mewakili banyak dari desainer yang bergabung. Tujuannya adalah untuk mengadakan acara yang tidak berfokus pada hasil akhir karya, alih-alih mementingkan kebebasan para kolaborator untuk berkreasi sesuai keinginan. Boleh dibilang bahwa hasil akhirnya memang tidak berpusat pada produk fashion itu sendiri, melainkan pada dialog dan interaksi dinamis yang terjadi di antaranya. “The idea was to create a think-tank like platform where people come together to exchange ideas, explore newness and celebrate creativity. These days, telling a story has become just as, if not more, important than the clothes themselves.” ujar Mumi Haiati, CEO dan pendiri dari Reference Studios.

Terletak di distrik Neukölln di Berlin, berbagai karya yang ditampilkan adalah seperti film eksperimental hasil karya fotografer Berlin Matt Lambert, yang memvisualisasikan macam-macam aroma dari koleksi parfum terbaru Comme des Garçons. Tampil pula adalah grup musik yang anggotanya terdiri dari robot-robot steampunk, kreasi dari 032c sendiri, juga instalasi interaktif dari label kacamata Korea Gentle Monster. Terdapat juga beberapa panel yang membicarakan tentang topik utama acara tersebut yaitu “working out loud”, bertujuan untuk merayakan work-in-progress atau karya-karya yang terasa tidak selesai dan direalisasikan.

Atmosfer yang terbuka mengundang para pengunjung untuk berinteraksi santai dengan instalasi maupun pengkaryanya, menghilangkan tembok intimidatif yang biasa terjadi jika publik hanya mengamati mereka dari sosial media atau gaya acara lain yang lebih formal. Tidak adanya transaksi komersial dalam acara tersebut juga ‘memaksa’ para pengunjung untuk benar-benar memperhatikan proses dari sebuah karya, juga mengundang satu sama lain untuk berkenalan dan mengobrol. Mumi berujar bahwa festival ini merupakan tribut untuk kota tempat tinggalnya, mengingat Berlin dianggap akan menjadi pusat kreatif Eropa yang baru. Rencana berikutnya bagi mereka, adalah untuk menjadikan festival ini sebuah rutinitas di kota tersebut, juga membawanya ke kancah internasional dengan mengadakan acara terkait di Los Angeles. “It’s necessary in order to contribute to the city’s cultural offering, add value and evolve; which I believe we managed with our debut already. I’m excited for the future,” pungkas Mumi.whiteboardjournal, logo