Medecins Sans Frontieres

12.12.16

Medecins Sans Frontieres

Membangun Kesadaran, Menegakkan Kemanusiaan

by Ken Jenie

 

Ada banyak hal terjadi di luar ruang aktivitas kita sehari-hari. Ada ombak yang berderu di pesisir saat kita berjuang di tengah kemacetan, ada syahdu pada sore di lapangan tepi hutan sementara kita duduk di meja menyelesaikan tumpukan pekerjaan, ada tenang pada langit malam pegunungan kala kita sekali lagi terjebak di kemacetan menuju jalan pulang.

Namun, tak selamanya keindahan dan kenikmatan berada di luar jangkauan. Nyatanya meski kadang kehidupan perkotaan terasa memuakkan, di dalamnya terkandung previlege yang didamba oleh saudara kita di luar sana. Alasannya sederhana, meski alam indah mengelilingi, previlege yang kita miliki adalah hal-hal pokok yang bisa membuat hidup lebih mudah dijalani ketimbang apa yang harus mereka hadapi sehari-hari. Mulai dari kemudahan untuk menjalankan berbagai hal melalui teknologi, dan terutamanya mengenai kebutuhan primer seperti kesehatan yang membuat kita bisa menarik napas lebih panjang dan lebih dalam dibanding mereka.

Data dari Unicef yang menyebutkan bahwa setiap tiga menit, satu balita meninggal dunia di Indonesia. Belum lagi mengenai masalah bencana, pengungsi perang dan masalah lingkungan lain yang membuat setiap hari banyak saudara kita sebagai perjuangan untuk bertahan hidup. Ini menunjukkan bahwa di luar ruangan ber-AC tempat kita menghabiskan siang dan malam, masih banyak keluarga yang kesusahan mendapatkan air bersih, hingga ribuan orang harus tergusur dari rumah karena perang. Belum lagi mengenai angka yang terlalu besar pada kematian ibu hamil di era serba modern ini, data dari Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menyebutkan angka kematian ibu adalah 359 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Jika di perkotaan ada dua pilihan saat melahirkan, yakni lahir normal atau operasi caesar, tak terlalu jauh di luar sana, pilihannya tiga: melahirkan normal, operasi caesar, dan kematian.

Medecins Sans Frontieres (MSF) adalah sebuah lembaga yang berusaha menutup kesenjangan ini. Diterjemahkan secara langsung sebagai Doctors Without Borders, atau Dokter Lintas Batas dalam Bahasa Indonesia, organisasi ini berfokus pada isu-isu kemanusiaan internasional terutama bagi masyarakat di area konflik bersenjata, rawan epidemi, korban bencana alam, serta daerah yang tidak mendapatkan layanan kesehatan. Dikutip dari wikipedia, MSF didirikan pada tahun 1971 oleh sekumpulan dokter dan jurnalis Perancis yang mendambakan hak medis yang setara bagi semua manusia, tak peduli status ekonomi, ras, bangsa, agama serta pandangan politiknya.

Dalam perjalanannya, MSF telah terjun dan memberikan bantuan di berbagai daerah. Mulai dari peristiwa kelaparan dan kemiskinan akut di Sudan, genosida di Rwanda, hingga penanganan epidemi Ebola di Afrika Barat. Di lokasi, MSF tak hanya menyalurkan bantuan medis, tetapi juga penyaluran bantuan perbaikan nutrisi, hingga air dan sanitasi. Dari sinilah visi yang melatarbelakangi berdirinya MSF menjadi hidup dan telah menghidupi ratusan ribu – bahkan mungkin jutaan penduduk bumi. Tak heran bila pada tahun 1999, MSF dianugerahi Nobel Perdamaian dalam aktivitasnya menerobos batas dan menebarkan kemanusiaan, hanya dengan modal keikhlasan relawan yang dikumpulkan dari penjuru dunia.

Semangat kemanusiaan dan keikhlasan yang sama juga hidup dari Indonesia. Indonesia menjadi salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang telah mengirimkan individu-individu terbaiknya untuk turut serta dalam aktivitas MSF. Beberapa diantaranya bahkan telah menjadi tulang punggung bagi saudara yang kesusahan di sudut-sudut paling berbahaya dan paling mengenaskan dimana tragedi terjadi. “Dengan kelas menengah yang makin penasaran mengenai isu global, Indonesia menempati posisi yang strategis dalam penyebaran isu kemanusiaan MSF,” ujar Intan Febriani yang menjabat staf komunikasi MSF Indonesia.

“Di dalam negeri, kegiatan utama MSF Indonesia adalah pengembangan kesadaran. Ini juga kami lakukan di beberapa negara di Asia lainnya seperti Malaysia, Filipina dan Hongkong, kami memberitakan mengenai su kemanusiaan dan kesehatan yang ditangani MSF sebagai ajakan pada publik sebagai warga dunia untuk ikut peduli.” tambah Intan lagi.

Kepedulian dalam berbagi bukan berarti relawan harus seratus persen mengorbankan diri mereka untuk berbakti. Nyatanya, aktivitas bersama MSF justru menjadi pengalaman yang menambah makna hidup para relawan. “Kami jadi lebih mudah bersyukur, karena apapun yang kita hadapi sehari-hari, tetap lebih mudah ketimbang para pengungsi. Kami juga belajar mengenai empati. Orang-orang mengira bahwa kita sebagai relawan membantu orang-orang yang membutuhkan. Padahal tak selamanya begitu. Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa justru kami sebagai relawan belajar lebih banyak kepada orang yang kami datangi,” cerita dokter Sartini Saman yang telah mendedikasikan sebagian hidupnya sebagai staf medis MSF.

“Mungkin agak sulit melakukan aktivitas seperti ini jika kita hanya mengejar materi. Tapi pengalaman bersama MSF, setidaknya bagi saya, memperkaya pengalaman saya sebagai dokter dan juga memperkaya saya sebagai manusia,” tutup Sartini Saman.

Dalam rangka menyebarkan kebaikan dan semangat kemanusiaan, MSF Indonesia menggelar pameran bertajuk “No Borders” yang merekam sekaligus menyampaikan isu-isu kesehatan dalam bentuk perjalanan visual tentang kenyataan yang dialami oleh pasien, pekerja medis, dan masyarakat di berbagai belahan dunia. Pameran ini berlangsung sejak tanggal 8 hingga 18 Desember 2016 di Mal Grand Indonesia, West Mall, Lantai 5, Exhibition Hall.whiteboardjournal, logo