Menggandeng Seni Rupa dan Upcycling Practice, Monumen Antroposen Berharap Masyarakat Merawat Lingkungan Lebih Baik

Art
01.12.21

Menggandeng Seni Rupa dan Upcycling Practice, Monumen Antroposen Berharap Masyarakat Merawat Lingkungan Lebih Baik

Menjaga keseimbangan antara lingkungan dan manusia membutuhkan kesadaran dari manusia yang hidup dalam lingkungan tersebut – yakni, sebuah konsep yang dikemukakan oleh Monumen Antroposen Daerah Istimewa Yogyakarta.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Titania Celestine 
Photo: Monumen Antroposen via Instagram

Menjaga keseimbangan antara lingkungan dan manusia membutuhkan kesadaran dari manusia yang hidup dalam lingkungan tersebut – yakni, sebuah konsep yang dikemukakan oleh Monumen Antroposen di Daerah Istimewa Yogyakarta. Gagasan pembangunan monumen tersebut merupakan hasil dari upaya untuk menjelajahi potensi nilai kebudayaan lokal yang dapat berpengaruh terhadap keharmonisan antar manusia, alam, dan ilahi secara holistik. 


Monumen Antroposen adalah karya seni raksasa, dibuat dengan bahan utama yang berupa sampah plastik. Melalui konsep public space, monumen yang berbasis komunitas ini digagaskan oleh seniman Franziska Fennert dan Iwan Wijono dengan sebuah aspirasi untuk menjadikan monumen tersebut sebuah lokasi studi wisata. Selebihnya, Monumen Antroposen juga merangkap sebagai sebuah peluang bagi masyarakat sekitar untuk lebih memahami konsep ekonomi sirkular. Bersama dengan Forum Upcycle Indonesia, Goethe-Institut Jakarta, dan Pemerintah Daerah Bawuran, pelopor Monumen Antroposen berharap agar masyarakat dapat lebih teredukasi terhadap limbah di lingkungan hidup sekitar mereka. 

“Relief tiga tingkat ini strategis sebagai program wisata edukasi. Sedangkan bagian dalamnya akan cukup luas dan bisa difungsikan untuk program seni budaya,” ujar Ignatia Nilu, Kurator Seni dan Budaya Proyek Monumen Antroposen. 

Selain itu, lokasi di sekitar Monumen Antroposen juga ditargetkan untuk menjadi tempat singgah bagi para pengunjung yang tertarik untuk menjalankan studi banding. Demikian juga, monumen tersebut akan dijadikan pusat produksi industri kreatif upcycling, yang akan mewujudkan potensi ekonomi bagi masyarakat lokal. Menurut harapan Iwan Wijono, seniman dan Ketua Forum Upcycle Indonesia, hasil karya daur ulang yang diproduksi melalui inisiatif ini dapat dipasarkan ke ranah internasional. 

“Selain plastik, saat ini kami juga sedang membangun pusat pembuatan produk dari barang bekas lainnya. Bahan seperti tekstil, kayu, kertas, dan lainnya dapat dipasarkan,” terang Iwan. 

Bangunan tiga lantai seluas 170m² yang terdiri dari olahan sampah plastik ini akan berlokasi di kawasan Pembuangan Sampah Akhir Piyungan. Saat ini, kompleks tersebut masih dalam masa persiapan, hingga kedepannya bisa diakses dengan berjalan naik secara melingkar. Setiap lantai pada Monumen Antroposen akan menceritakan proses siklus alam secara simbolik. Sebagai contoh, lantai satu dari monumen tersebut akan menunjukkan relief mekanisme peradaban manusia lampau. Kemudian di lantai dua, relief monumen akan menceritakan tentang manusia modern yang mengeksploitasi dan menguasai alam, menciptakan ketidakseimbangan pada lingkungan hidup manusia, seperti pencemaran bumi dan perubahan iklim. whiteboardjournal, logo