Menguak DIVISI 62

Music
30.09.17

Menguak DIVISI 62

Mengenal unit seni baru – DIVISI62.

by Febrina Anindita

 

Foto: DIVISI 62

Kehadiran label musik dan visual art bernama DIVISI 62 layaknya sebuah ombak baru dalam dunia musik lokal yang mengeksplorasi orisinalitas musik Indonesia. Terdiri dari deretan music collector, produser, dan selector, membuat label ini memiliki ragam produk, antara lain Uwalmassa, Marsesura dan RMP. Kami berkesempatan untuk menanyakan beberapa hal fundamental kepada Wahono – salah satu anggotanya – tentang latar belakang nama DIVISI 62 hingga misi yang dibawa ketika memproduksi musik.

Ada cerita apa dengan angka 62 dalam nama label ini?

Sebetulnya udah cukup obvious, tapi banyak yang tidak menyadari saja. +62 adalah kode negara Indonesia di telekomunikasi internasional. Di saat-saat awal mengkonsepsikan proyek ini kami melakukan banyak brainstorming untuk mencari nama yang sederhana namun efektif dalam menyampaikan pesan kami – yaitu peran Indonesia di mata internasional.

Terdiri dari beberapa musisi dengan referensi musik beragam, apa yang mau ditunjukkan dari label ini?

Kami ingin membuktikan bahwa kami bisa menghasilkan karya-karya yang unik dan relevan dengan mengangkat budaya Indonesia (kontemporer ataupun tradisional) yang ada di sekitar kami. Seiringan dengan itu, kami ingin merubah konteks dan konotasi sosial beragam jenis musik yang ada di Indonesia.

Pemikiran di balik DIVISI 62 juga menekankan untuk tidak menjadi konsumer yang pasif ketika mengkonsumsi budaya dan produk dari luar negeri. Kita mesti bisa untuk mengemas ulang apa yang telah kita cerna dan pelajari untuk menghasilkan sesuatu yang baru, tentunya dengan menggunakan lensa seorang warga Indonesia. Di keadaan dunia yang seperti sekarang, semua hal yang tadinya bersifat lokal sudah menjadi global dan begitu juga sebaliknya. Kita harus memanfaatkan itu untuk membuat terobosan yang mampu membuat orang di luar semakin kagum dengan karya-karya Indonesia.

Kami banyak terinspirasi dari berbagai macam seniman, penulis dan musisi yang berhasil melakukan itu semua, terutama Harry Roesli dan Raden Saleh yang menggunakan teknik dan ilmu Barat untuk menceritakan keadaan yang ada di Indonesia. Banyak sekali yang kami jadikan referensi dari segi filosofi maupun dari segi musikal, seperti pemain terompet Don Cherry, kolektif Principe Disco (Portugal), NAAFI (Mexico), Mikael Seifu dari Ethiopia, atau penulis seperti Edouard Glissant dan Hans Ulrich Obrist.

Terdapat pula beberapa produk dari DIVISI 62 dari tiap anggotanya. Apa benang merah estetika dari tiap musik yang dihadirkan di sini?

Semua yang dihasilkan oleh DIVISI 62 adalah suatu manifestasi dari kesadaran akan crossover points dan pertukaran antara budaya lokal dan global. Jenis yang dihasilkan tidak menjadi concern kami, yang penting hanya approach-nya.

Salah satu yang menonjol dari 3 produk label ini adalah Uwalmassa. Ada cerita apa di balik nama dan identitasnya yang mengeksplorasi sound tradisional?

Di tahap awal pembentukan DIVISI 62, kami banyak melakukan riset dan iseng menulis kata-kata random di Google translate. Salah satu yang dihasilkan adalah Uwalmassa – penggabungan dari kata ‘uwal’ yang berarti ‘escape’ atau migrasi di dalam bahasa Jawa dan ‘massa’ yang berarti sekumpulan orang atau kelompok di dalam bahasa Indonesia. Uwalmassa bisa diartikan sebagai ‘the mass escape’ atau ‘the mass migration.’ Melalui Uwalmassa, kami ingin menggugat norma-norma yang ada dan menentang pemikiran dangkal secara bersama melalui berbagai macam nuansa instrumen-instrumen tradisional Indonesia.

“Bumi Uthiri” dari Uwalmassa sempat masuk dalam beberapa mixtape, salah satunya mix Khidja untuk XLR8R dan bahkan dimainkan live oleh Wolf Muller di Salon Des Amateurs di Dusseldorf. Apakah pernah terkira sound yang kalian produksi bisa didengar di belahan dunia lain dan kalian berhasil mengangkat narasi tentang Indonesia lewat musik?

Dari dulu memang banyak musisi dari Eropa dan Amerika yang open-minded dengan budaya Timur. Dari apresiasi dan rasa keingintahuan mereka yang tinggi itulah mereka bisa mengkaryakan kembali kebudayaan Timur untuk eksis di berbagai macam ranah musik. Daripada menunggu mereka terus untuk mengangkat budaya Indonesia, lebih baik kita saja yang buat. Masalah pada suka atau tidak, ya itu soal nanti. Itu yang menjadi orientasi kami.

Kami bersyukur saja karya kami tersebar ke orang-orang yang bisa mengapresiasi karya dan alam berpikir kami. Kebetulan beberapa dari orang-orang itu sekarang memang sedang punya presence dan didengar oleh banyak penggemar musik.

Uwalmassa akan menampilkan ekplorasi gamelan Jawa dan beragam instrumen tradisional Indonesia dengan manipulasi sinyal digital. Misi apa yang mau disampaikan lewat penampilan ini?

Kami mau showcase saja apa yang sudah kami kerjakan selama setahun ke belakang. Kami akan memainkan hasil-hasil rekaman yang kami lakukan di Jakarta dan di Bandung secara digital dan berbasis improvisasi. Alasannya adalah untuk membuat suasana saat kami bermain lebih exciting karena membentuk komposisi baru secara spontan dan tidak akan sama persis setiap kali kami bermain. Semua dari hasil rekaman itu kami mainkan sendiri.

Apakah kalian akan berkontribusi pada Europalia Arts Festival Indonesia 2017?

Iya. Kami akan berangkat bersama banyak musisi dan seniman Indonesia lainnya. Kesempatan untuk berpartisipasi di Europalia lah yang membuat kami semakin percaya diri kalau yang kami lakukan itu ada di dalam trayek yang benar. Bisa dilihat di sini untuk info lebih lanjut.

UWALMASSA LIVE AT MONDO

Minggu, 1 Oktober 2017
19:00

Mondo by the Rooftop
Rossi Musik
Jl. RS Fatmawati No. 30whiteboardjournal, logo