Dampak Global Warming Kian Buruk, WWF Prediksi 12 Spesies akan Kena Imbasnya

Human Interest
03.06.21

Dampak Global Warming Kian Buruk, WWF Prediksi 12 Spesies akan Kena Imbasnya

Spesies yang akan kena imbasnya melingkupi puffin, kelinci gunung, dan lebah.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Hanindito Buwono
Foto: PA Wire/Owen Humphreys

Menurut WWF, beberapa spesies kesayangan manusia seperti puffin, kelinci gunung, dan lebah akan diambang kepunahan jika pemimpin dunia tidak bersatu untuk menyelesaikan persoalan global warming saat COP26 Climate Summit, November nanti.

Laporan “Feeling the Heat: The fate of nature beyond 1.5C of global warming” yang baru saja dipublikasikan mengatakan efek dari global warming akan berdampak signifikan bagi alam dan manusia. Salah satu dampak yang digarisbawahi adalah 12 spesies dari seluruh dunia yang bisa diambang kepunahan.

12 spesies termasuk dari seluruh dunia sudah merasakan dampak global warming merusak habitat mereka. Habitat yang dimaksudkan antara lain pesisir Inggris untuk spesies puffin, lalu penguin di antartika, bahkan spesies monyet di hutan Amazon.

Ambil contoh untuk spesies puffin, mereka sudah terkena imbas dan tekanan dari overfishing yang mengakibatkan hilangnya sumber makanan. Lain halnya dengan kelinci gunung di Skotlandia yang menjadi rentan diburu oleh predator karena bulunya lebih lama berwarna putih setelah salju meleleh. Demikian juga dengan spesies macan tutul salju, katak, kuda nil, dan tanaman kopi akan terkena imbasnya global warming.

Dengan laporan yang sudah dipublikasikan, WWF mengambil langkah kepada pemerintah Inggris selaku tuan rumah dalam COP26 Climate Summit, agar tujuan Paris Agreement dalam membatasi global warming hingga 1.5C tetap diatas meja.

“Jika kita ingin mengamankan masa depan untuk beberapa spesies dan habitat kita yang paling ikonik, serta berlaku juga untuk manusia sendiri, maka tahun 2021 harus menjadi titik balik. Para pemimpin dunia harus memanfaatkan kesempatan di COP26 untuk membangun masa depan lebih hijau dan adil – yang berlandaskan alam,” demikian tutur Chief Executive WWF, Tanya Steele.whiteboardjournal, logo