Laju Produksi Biofuel Indonesia akan Berujung pada Emisi Gas Rumah Kaca Lebih Besar dari Penggunaan Diesel

Human Interest
09.12.21

Laju Produksi Biofuel Indonesia akan Berujung pada Emisi Gas Rumah Kaca Lebih Besar dari Penggunaan Diesel

Ketika lahan hutan dibuka untuk menanamkan bahan biofuel, hal tersebut malah akan menghasilkan lebih banyak emisi dibandingkan penggunaang bahan bakar fossil. 

by Whiteboard Journal

 

Teks: Titania Celestine
Photo: Rock Staar via Unsplash

Bahan bakar nabati (biofuel) merupakan sebuah alternatif dari bahan bakar fosil yang berasal dari tumbuhan. Bahan bakar tersebut dianggap sebagai pengganti BBF yang bersifat renewable, dan menghasilkan lebih sedikit senyawa gas berbahaya (gas rumah kaca). 

Namun, seiring dengan bertambahnya angka kendaraan pribadi yang mengalami kenaikan sebesar 6% setiap tahunnya, hal ini berarti produksi biofuel harus meningkat hampir 50% dalam jangka waktu tiga tahun kedepan untuk memenuhi demand untuk bahan bakar kendaraan. 

Secara teori, memang biofuel mengurangi jumlah emisi kendaraan bermotor dibanding bahan bakar fosil, karena ketika tanaman yang menjadi bahan pokok biofuel bertumbuh, mereka membantu menyerap senyawa karbon dari atmosfer, mengurangi peningkatan emisi walaupun kendaraan bermotor menyumbangkan senyawa karbon pada atmosfer. 

Akan tetapi, masalah baru akan kembali muncul bagi produksi bahan bakar nabati di Indonesia, dikarenakan pembukaan lahan (yang dibutuhkan untuk menanam tanaman pokok biofuel) yang dilakukan oleh sektor produksi biofuel dalam bentuk penggundulan hutan. 

Nyatanya, hutan – hutan Indonesia merupakan salah satu sistem yang paling efektif dalam penyerapan CO2 di udara. Sekedar menggantikan lingkungan hutan dengan tanaman biofuel, akan berarti jumlah CO2 yang dapat diserap menjadi lebih sedikit. 

Hal ini akan berdampak pada meningkatnya gas rumah kaca, yang berkontribusi terhadap pemanasan global. 

Jadi, ketika lahan hutan dibuka untuk menanamkan bahan biofuel, hal tersebut malah akan menghasilkan lebih banyak emisi dibandingkan penggunaang bahan bakar fossil. 

Pemerintahan Indonesia sudah berjanji untuk mengakhiri penggundulan hutan pada tahun 2030 di ajang COP26, namun setelah itu, menteri lingkungannya mengakui bahwa janji tersebut “tidak pantas dan tidak adil.” 

Meskipun memang tingkat penggundulan hutan tahunan Indonesia telah mengalami penurunan, tapi nyatanya, Indonesia terus menjadi salah satu dari tiga negara teratas di dunia untuk jumlah kehilangan hutan. Primarily, dikarenakan pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit. 

Indonesia saat ini merupakan salah satu negara produsen bahan bakar nabati (organik) terbesar di dunia, dan merupakan negara penghasil biodiesel terbesar di dunia. whiteboardjournal, logo