Survei Tunjukkan Kurangnya Akses bagi Para Disabilitas di Dunia Gaming

Human Interest
14.12.21

Survei Tunjukkan Kurangnya Akses bagi Para Disabilitas di Dunia Gaming

Hasil riset dari Opinium Research yang dirilis pada Hari Disabilitas Internasional pada 3 Desember lalu menunjukkan bahwa ekosistem gaming masih kurang inklusif bagi para gamers disabilitas, terlepas dari manfaat yang para gamers disabilitas dapatkan.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Hafiza Dina
Foto: Fredrick Tendong/Unsplash

Opinium Research melakukan sebuah survei dalam rangka memperingati Hari Disabilitas Internasional yang jatuh pada 3 Desember lalu. Dalam survei yang menyasar lebih dari seribu gamers di Amerika Serikat yang berusia di atas 18 tahun ini, Opinium Research menemukan bahwa lebih dari sepertiganya, atau sekitar 373 gamers, merupakan penyandang disabilitas atau memiliki masalah kesehatan yang berdampak pada aktivitas sehari-hari. Sayangnya, hanya dua dari lima, atau sekitar 42%, gamers yang berpendapat bahwa para pembuat game sudah melakukan upaya yang cukup untuk mengakomodasi para gamers disabilitas. Kurangnya aksesibilitas bagi para gamers disabilitas ini pun memberikan dampak yang secara langsung terasa, khususnya terkait dengan subtitle, kontrol dan sensitivitas, dan pengaturan kontras pada game.

Kurangnya inklusivitas bagi para penyandang disabilitas di dunia game ternyata tidak hanya datang dari para pembuat atau developer, tetapi juga dari kalangan sesama pemain atau gamers itu sendiri. Diskriminasi pun semakin berlapis tatkala sang gamers merupakan perempuan disabilitas. Lebih dari setengah, tepatnya 54%, dari gamers perempuan disabilitas, menyatakan bahwa mereka pernah mengalami diskriminasi dari pemain lain. Ditambah, survei juga menemukan fakta bahwa hampir separuh, sekitar 49%, dari keseluruhan gamers perempuan pernah mendapatkan ucapan tidak senonoh dari gamers laki-laki.

Padahal, bermain game sendiri membantu dan berdampak positif pada kelompok disabilitas. Masih dalam survei yang sama, Opinium Research mendapatkan lebih dari ⅔ gamers disabilitas, sebesar 69%, yang merasa bermain game menjaga pikiran mereka untuk terus aktif. Dalam persentase yang tidak jauh berbeda, yaitu 68%, para gamers disabilitas pun menyebutkan bahwa bermain game membantu meningkatkan kesehatan mental mereka, dengan lebih dari sepertiga, tepatnya 35%, dari seluruh gamers disabilitas merasa terbantu oleh keberadaan game dalam menjalani pandemi COVID-19 selama hampir dua tahun terakhir.

Sekitar 610 atau 58% dari seluruh gamers disabilitas juga merasa terbantu oleh game dalam menghilangkan kekhawatiran sehari-hari. Apalagi, 56% di antara seluruh gamers disabilitas menjadikan game sebagai sumber hiburan mereka. Sehingga, tidak mengejutkan apabila hampir setengah, sekitar 47%, dari seluruh gamers disabilitas menemukan kebahagiaan dari game, dan 35% mendapatkan perasaan nyaman dalam game.

Manajer Riset di Opinium, Ande Milinyte, menyatakan bahwa adanya diskriminasi yang dialami oleh para gamers disabilitas, mulai dari ketidakikutsertaan mereka dalam merayakan peluncuran game baru━yang jarang menyediakan aksesibilitas untuk mereka, hingga diskriminasi berlapis yang dialami oleh para gamers perempuan disabilitas, menunjukkan bahwa industri game perlu untuk berbenah. Tidak hanya dengan menciptakan akses ramah disabilitas dalam tiap game yang dirilis, tetapi industri game juga bisa meningkatkan kesadaran akan pentingnya menciptakan ekosistem gaming yang lebih inklusif di kalangan para gamers

Salah satu perusahaan yang sudah mulai menciptakan game yang lebih inklusif adalah Ubisoft dengan game “Assassin’s Creed Valhalla”-nya. Dari seluruh gamers disabilitas yang sudah mencoba memainkan game tersebut, 85% takjub dengan aksesibilitas yang disediakan, mulai dari subtitle, color blindness, navigasi, kustomisasi kontrol, hingga pengaturan grafis. Gagasan Ubisoft ini membuktikan ungkapan Milinyte, “…there is ample opportunity to become a leading sector and set an example for other industries.”whiteboardjournal, logo