Gunakan Kerupuk sebagai Sendok untuk Makan Nasi Goreng: Langkah Orang Indonesia Siasati Kemasan Sekali Pakai

Culinary
30.12.22

Gunakan Kerupuk sebagai Sendok untuk Makan Nasi Goreng: Langkah Orang Indonesia Siasati Kemasan Sekali Pakai

Masalah lingkungan yang disebabkan oleh kemasan makan sekali pakai masih terus menghantui seluruh dunia.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Alissa Wiranova
Foto: Dapur KOBE

Bukan orang Indonesia namanya jika tak pernah menggunakan kerupuk sebagai sendok untuk memakan nasi goreng. Alih-alih menyuap nasi dengan sendok plastik yang diberi si abang penjual, banyak di antara kita yang memilih untuk menggantikan fungsi sendok tadi dengan kerupuk, barulah kemudian melahapnya bersama nasi. 

Tanpa disangka, melahap nasi goreng dengan menggunakan cutlery kerupuk ini justru bisa jadi inovasi baru (khas Indonesia pula!) dalam mengurangi sampah kemasan sekali pakai seperti sendok plastik abang nasi goreng. Edible cutlery ini telah disebut-sebut sebagai salah satu upaya alternatif dalam mengurangi sampah kemasan sekali pakai. 

Dalam salah satu artikel milik Project Planet misalnya, sebuah perusahaan asal India bernama Bakeys telah mengeluarkan produk berupa sendok yang dapat dimakan. Sendok ini dibuat dari campuran antara beras, gandum, dan sorgum. Produk edible cutlery ini dimaksudkan tak hanya untuk mengurangi sampah kemasan sekali pakai, tetapi juga dimaksudkan untuk menambah efisiensi cara makan manusia. Manusia tak perlu lagi mencuci sendok (sebagaimana bila terbuat dari besi), melainkan hanya tinggal melahapnya ketika telah selesai makan. 

Problema soal kemasan makan sekali pakai ini nyatanya telah ditindak tegas oleh pemerintah Prancis. Terhitung sejak tanggal 1 Januari 2023 mendatang, setiap restoran yang memiliki lebih dari 20 tempat duduk diharuskan untuk menyediakan cutlery yang dapat digunakan kembali. Dengan kata lain, setiap kemasan sekali pakai, baik itu berupa plastik (yang mana telah lebih dahulu dilarang), kertas, hingga karton dilarang beredar. 

Kebijakan pemerintah Prancis ini dianggap sebagai ‘revolusi’ bagi setiap restoran makanan cepat saji. Sebanyak 30.000 outlet fast food di Prancis sendiri mampu menghasilkan sebanyak 180.000 ton sampah, yang banyak di antaranya berasal dari kertas pembungkus burger, box pizza hingga french fries. Karenanya, besar harapan bahwa kebijakan baru ini dapat menekan jumlah sampah secara signifikan. 

“We’re extremely happy that this is finally coming into force,” tegas Alice Elfassi, kepala legal affairs untuk organisasi Zero Waste France. Kebijakan pemerintah Prancis ini sebenarnya telah dirumuskan sejak tahun 2020, tetapi baru dapat direalisasikan di awal 2023. “Although single-use plastic had already been banned, it had been replaced by large amounts of  throwaway products like cardboard, wood, bamboo.”

Meski begitu, pelarangan kemasan sekali pakai di Prancis ini baru akan diterapkan pada pengunjung yang dine in saja. Kemasan sekali pakai pun masih boleh digunakan untuk pesanan takeaway. Meski dapat dilihat sebagai langkah awal yang baik, para environmentalist tetap menaruh harapan bahwa kebijakan ini nantinya akan diterapkan kepada seluruh pengunjung tanpa terkecuali. 

Meski masih belum ada pertanda bahwa kebijakan semacam ini akan diterapkan di Indonesia, sekitar 1,3 juta ton sampah plastik diproduksi setiap tahunnya. Memang belum banyak restoran yang melarang penggunaan kemasan sekali pakai di Indonesia, tapi siasat menggunakan cutlery kerupuk tadi bisa jadi upaya mandiri kita dalam mengurangi sampah kemasan. Gampang, enak, bermanfaat, meski agak berminyak! whiteboardjournal, logo