Dari Studio Ghibli hingga One Piece, Inilah Alasan Kenapa Brand Fashion Mewah Mulai Berkolaborasi dengan Anime

Fashion
10.06.22

Dari Studio Ghibli hingga One Piece, Inilah Alasan Kenapa Brand Fashion Mewah Mulai Berkolaborasi dengan Anime

Brand-brand mewah mulai berkolaborasi dengan karakter anime populer dengan tujuan untuk menjangkau para Gen Z yang sangat tertarik terhadap subkultur anime.

by Whiteboard Journal

 

Teks: Jesslyn Sukamto
Foto: Loewe

Ingat anime “Jujutsu Kaisen” yang telah menggemparkan dunia? Filmnya sempat dinobatkan sebagai salah satu film anime terlaris di dunia, sampai hadir koleksi kolaborasi seperti koleksi pakaian UNIQLO x Jujutsu Kaisen, kolaborasi streetwear Crunchyroll dengan Jujutsu Kaisen dan masih banyak lagi. Tak hanya “Jujutsu Kaisen”, serangkaian jenis anime mulai dari yang klasik seperti “Studio Ghibli” hingga yang shonen seperti “One Piece” juga tak bisa terhindari dari kolaborasi casual fashion dengan anime.

Tetapi, itu tidak terbatas hanya dengan casual streetwear fashion saja, brand-brand yang high-end juga telah menempatkan posisinya dalam kolaborasi dengan anime-anime hits ajang tren anime yang menanjak tinggi. 

Pada awal tahun 2021, luxury brand Spanyol, Loewe meluncurkan koleksi “My Neighbor Totoro” yang mencakup dompet, tas tangan, dan kemeja yang menampilkan karakter dari film Miyazaki yang populer. Sekarang, merek tersebut telah merilis koleksi lain dalam kolaborasi dengan Studio Ghibli, kali ini dengan karakter dari “Spirited Away.”

Kolaborasi serupa juga dilakukan Gucci, meluncurkan koleksi kapsul “Doraemon” dalam rangka menyambut Imlek 2021. Gucci juga menciptakan koleksi fashion virtual dengan North Face yang memulai debutnya di Pokémon Go, memungkinkan pemain untuk mengenakan T-shirt, topi, dan ransel berlogo Pokemon di koleksinya.

Produk dalam koleksi kapsul Loewe berkisar antara USD 350 hingga hampir USD 6.400, sedangkan item dalam koleksi Doraemon milik Gucci berkisar antara USD 1.600 hingga USD 48.000. Ini tentunya sangatlah berbeda dengan koleksi kolaborasi casual streetwear seperti UNIQLO.

Koleksi edisi terbatas ini memungkinkan merek fashion kelas atas untuk bereksperimen dengan produk mereka tanpa harus membuat komitmen jangka panjang, menurut Thomai Serdari, profesor pemasaran barang mewah di Stern School of Business Universitas New York.

Serdari mengatakan dia berpikir merek seperti Loewe sedang mengembangkan koleksi ini untuk menargetkan pelanggan yang lebih muda. Keinginan untuk tetap relevan di kalangan konsumen muda mungkin juga menjadi driving force terbesar di balik kolaborasi ini.

Bagi banyak generasi milenial dan Gen Z, koleksi ini lebih terkait dengan tren yang menguak nostalgia dalam setiap kolaborasinya. Gucci secara khususnya, bertujuan untuk menargetkan berbagai jenis subkultur. “Mereka sangat memahami bahwa pelanggan yang lebih muda saat ini sangat terfragmentasi,” kata Serdari. “Anda perlu memasuki niche yang berbeda.”

Tidak seperti Chanel atau Hermès, yang merupakan bisnis milik keluarga, Loewe adalah bagian dari LVMH dan tidak dapat menghindari tekanan dari pemegang saham. Perusahaan seperti Loewe dan Gucci mengalami lebih banyak dorongan untuk “mengkomersialisasikan” merek mereka.

“Anda tidak akan pernah melihat Chanel berkolaborasi dengan Hello Kitty,” kata Serdari. Anda juga tidak akan melihat fashion house seperti Hermès berkolaborasi dengan Doraemon. Dia mengatakan ini tidak akan sesuai dengan imej kedua merek tersebut, yang lebih fokus pada warisan merek atau a sense of timelessness.

Tetapi beberapa desainer, seperti Takashi Murakami, telah menganut gagasan dalam mengaburkan seni “tinggi” dan “rendah”. Serdari memuji asal mula jenis kolaborasi ini kepada Murakami, seorang seniman Jepang yang lukisan dan pahatannya terinspirasi oleh anime dan manga. Koleksi Murakami dengan Louis Vuitton “memulai panggung untuk eksplorasi grafis serupa lainnya,” kata Serdari.

Koleksinya, yang ditayangkan perdana pada tahun 2003 dan dirilis selama 12 tahun berikutnya, termasuk tas Speedy perusahaan yang didesain ulang dengan monogram multi-warna yang cerah, bersama dengan aksesori yang menampilkan apa yang disebut Vogue sebagai “karakter yang terinspirasi manga”.

“Sekarang, kami lebih mudah menerima eksperimen semacam itu dalam pakaian,” kata Serdari. Namun, pakaian bukan satu-satunya cara agar kolaborasi ini bisa terwujud. Misalnya, Gucci berkolaborasi dengan acara anime “One Piece” pada September 2020 untuk lookbook resmi, di mana pencipta anime, Eiichiro Oda, menggambar karakter untuk koleksi “Fake/Not” Gucci.

Sangatlah valuable bahwa merek dapat menghubungkan manga atau anime dengan karakter yang didandani dengan luxury fashion terbaru. Ini juga membantu dalam mendorong akselerasi terintegrasinya anime sebagai tren yang tidak hanya untuk kalangan orang-orang dewasa saja, namun untuk Gen Z atau para pecinta budaya anime juga.whiteboardjournal, logo