Vaudeville, Pesta, dan Alkohol

Column
01.09.16

Vaudeville, Pesta, dan Alkohol

Sebuah Cerita Fiksi

by Ken Jenie

 

“Mang(1), motorna meunang diinjeum teu jang dekor?” (Bro, sepeda motornya boleh dipinjam gak untuk dekorasi?) Tanya Anwar.

“Hah? Naha lain make motorna si Rio? Puguh-puguh motorna antik, leuwih pas jang dekor” (Hah? Kenapa ga motornya si Rio? Jelas-jelas motornya antik, lebih pas untuk dekorasi), jawabku

“Hayangna motorna mang ah, soalnya mun motor mang merekna kharisma, meh siga di Planet Remaja”(2) (pengennya sepeda motor kamu saja, agar seperti di acara Planet Remaja), jawab Anwar.

Aku hanya tertawa sambil berbisik,” Sedeng nih orang”.

“Ya sudah War, pake we jang dekor, ngan mindahkeun motorna engke nya beres ngopi(3) di Warhol” (Ya sudah War, pakai saja motornya untuk dekorasi panggung, tapi mindahin motornya nanti ya setelah minum kopi di Warhol), jawabku kembali.

Warhol atau Warung Holil merupakan sebuah tongkrongan mahasiswa di kampus ini. Warung ini menjual beragam kebutuhan mahasiswa -baik yang melakukan aktivitas nongkrong(4) hingga yang hanya melakukan aktivitas membeli -, di antaranya: kopi, teh, minuman bersoda, minuman berasa, rokok, keripik, dan sebagainya. Namun, menurutku konsep Warhol lebih dari sekadar warung tongkrongan, melainkan lebih mendekati konsep Vaudeville(5) yang marak di Amerika Serikat pada kurun waktu 1880 hingga 1930-an.

Hal itulah yang menurut pembacaanku dapat terwacanakan di Warhol. Tidak hanya sebatas aktivitas ngopi dan membeli, ada kalanya juga berkembang menjadi aktvitas ‘minum-minum’ sembari diiringi aktivitas bernyanyi dan bermain gitar atau biasa disebut gogonjrengan. Hingga kemudian timbul rasa jenuh di antara para penongkrong – yang biasanya mahasiswa fakultas setempat, fakultas tetangga, hingga mahasiswa di luar universitas yang kadang-kadang melakukan aktivitas bertamu-, entah karena jenuh akan tugas kuliah yang kian menumpuk, waktu luang yang berlebih, atau (mungkin) jenuh karena suara hilang bersama tegukan miras (minuman keras beralkohol) lokal yang diakibatkan teralu lantang dalam bernyanyi.

Kejenuhan itu kemudian berkembang menjadi wacana akan kebutuhan untuk mengadakan sebuah pesta keakraban. Tidak besar memang dan memang tidak memerlukan sound system yang ‘memakan’ besaran ribuan watt, tata lampu yang megah, bahkan penampil yang menjadi headline di beragam media sosial. Tetapi dari pesta itu muncul pertemuan-pertemuan yang biasanya akan membentuk jaringan pertemanan yang menarik, dimana penulis bertemu pemusik, pekerja teater bertemu pelukis, penikmat sastra bertemu dengan pemerhati budaya. Tidak perlu jauh-jauh mengimpikan akan terciptanya solidaritas yang biasanya kental dengan aroma heroik nan utopis. Menurutku, Vaudeville ini cukup dengan identitasnya sebagai alun-alun atau istilah kerennya ruang publik.

Lalu, bukankah fungsi ruang publik teridentitaskan dengan pertemuan-pertemuan antar individu atau kelompok yang berasal dari beragam latar belakang? Kemudian pertemuan-pertemuan itu berkembang menjadi kolaborasi lintas disiplin bukan? Selain pesta, beragam bentuk kolaborasi yang terproduksi di Vaudeville ini, antara lain: buku yang diterbitkan dalam skema self-publishing, bullletin komunitas, eksibisi seni visual, pentas teater, dan lain-lain. Jangan juga lupakan beragam slang yang juga terproduksi di Vaudeville ini, yang apabila didokumentasikan mungkin akan memperkaya khazanah Bahasa Indonesia atau jangan-jangan hanya akan membuat alm. J.S Badudu(6) geleng-geleng akibat struktur yang dirancangnya diacak secara semena-mena, haha.

Namun sangat disayangkan, dalam beberapa bulan ke depan, Vaudeville ini akan direlokasi oleh otoritas kampus ke lokasi -yang menurut teman-teman di kampus ini- kurang strategis dan bahkan akan mereduksi identitasnya sebagai ruang publik. Alasannya kumuh, kurang baik untuk citra dan estetika kampus. Semoga saja, teman-teman di kampus ini mampu mempertahankan Vaudeville-nya. Aku sendiri sebagai mahasiswa luar kampus ini merasakan bahwa Vaudeville ini mampu menjadi sarana interaksi yang cukup representatif dalam dinamika berkehidupan di kampus ini. Begitu juga dengan pesta keakraban yang akan dihelat pada malam ini, gagasannya tidak lain berkembang dari Vaudeville ini.

Setelah menghabiskan segelas kopi, sore itu kami bergegas memindahkan sepeda motor-ku -yang terletak di parkiran kampus- menuju teras gedung perkuliahan yang akan di-setting menjadi tempat pesta kampus di malam ini. Tidak cukup dengan sepeda motor kharisma, Anwar juga menambah ornamen lainnya dengan instalasi manekin tengkorak manusia yang dipinjam dari Fakultas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam). Bahkan dia bersama teman-temannya juga membuat balon-balonan yang terbuat dari plastik recehan, yang kemudian ditiup, dibentuk menjadi lonjong, dan digantung di langit-langit tampias. Mungkin orang-orang akan mengira ini pesta 17 Agustusan, mungkin juga orang-orang akan mengira balon-balon ini adalah simbol seks sebagai representasi dari resureksi kontra-kultura 1960-an –atau yang akrab diistilahkan dengan hippies-, yang sedang marak dilakukan oleh muda-mudi kelas menengah di perkotaan, meskipun hanya sebatas simbol belaka. Tapi aku sendiri tidak perlu jauh-jauh menerjemahkan kecenderungan di atas hingga sepretensius itu, cukup menerjemahkan simbol ini sebagai keseruan belaka, layaknya muda-mudi di London pada era UFO Club(7).

Tidak cukup dengan dekorasi yang dapat dikatakan mana tahan. Anwar dan teman-temannya juga telah menyiapkan satu set galon yang berisi ciu!(8) Tidak terbayang suasana pesta malam ini. Pastinya musik, alkohol, gelak tawa, keakraban, dan MC kondang adalah kombinasi yang sayang untuk dilewatkan.

Aku sendiri sebelumnya tidak pernah melihat kecenderungan pesta kampus dengan daya tarik visual seperti ini, ditambah lagi dengan tingkat konsumsi alkohol yang cukup tinggi. Konon kabarnya, satu tahun yang lalu sempat tersiar kabar bahwa seorang mahasiswa sampai harus digotong ke klinik setempat dengan menggunakan ambulan, karena teralu banyak menenggak ciu!

Beragam kecenderungan ini mungkin dipicu oleh faktor geografis kampus ini yang berlokasi di pinggiran kota atau sering diistilahkan suburban, bahkan lebih tepatnya berafiliasi dalam naungan administratif kecamatan. Kecenderungan lainnya juga dapat dibaca dari mayoritas masyarakatnya yang merupakan mahasiswa dengan kisaran usia 18 tahun (mulai tinggal di kecamatan ini dengan melalui in dekost) hingga 25 tahun (mulai meninggalkan kecamatan ini setelah menyelesaikan studinya). Kecenderungan dengan skema ini, bahkan terus berulang setiap tahun. Belum lagi ditambah dengan faktor kurangnya sarana hiburan, kurangnya pengawasan orang tua, serta tidak adanya goverment will yang turut mengawasi perilaku anak muda di kecamatan ini.

Hal itulah yang kemudian mendorong anak muda untuk memproduksi hiburannya sendiri, bahkan kulturnya sendiri. Di satu sisi, dengan kondisi iklimnya yang terletak di kaki pegununngan, namun juga bersebelahan dengan kecamatan lainnya yang dirancang sebagai kawasan industri, juga turut mempengaruhi tingkat konsumsi alkohol anak muda di kecamatan ini. Ditambah lagi, dengan luas wilayah kecamatan yang mayoritasnya berisikan kost-kost-an yang lokasinya mengelelilingi kampus, sehingga cukup memudahkan ‘evakuasi’ bagi para peminum yang sudah teralu mabuk. Maka janganlah heran, apabila beruntung, -ketika menyusuri jalanan di kecamatan ini lewat tengah malam- kalian akan bertutur sapa dengan anak muda yang berjalan setengah sempoyongan sepulang dari pesta.

Tepat pukul 7 malam, pesta pun dimulai. Gemerlap kehidupan malam di kampus ini dibuka oleh Anwar dan Wawan yang juga didaulat sebagai MC kondang untuk pesta malam ini.

Anwar sendiri, dapat dikatakan merupakan MC yang cukup ternama di kampus ini. Gaya penampilannnya yang di luar batas kewajaran mampu memberikan daya tarik visual tersendiri bagi anak muda yang akrab dengan kultur college scene. Kadang-kadang berpenampilan layaknya petugas pemadam kebakaran, ada kalanya juga ia berpenampilan layaknya caleg (calon legislatif) yang seringkali bernasib sial, lantaran dana kampanyenya tidak berujung pada kursi di parlemen. Namun, untuk pesta malam ini, ia memilih untuk berpenampilan layaknya anak pecinta alam era 80-an yang kadang-kadang nampang di rubrik Majalah Sportif (9). Tidak cukup dengan tampilan visual saja, – bersama rekan satu mic-nya- Anwar seringkali mengeluarkan guyonan khas kampus yang sulit ditemui di tempat lain. Maka tidak heran, apabila penonton – termasuk aku sendiri- dibuat terpingkal-pingkal dengan guyonan mereka.

Pesta malam ini bertema ‘Hari Sulap Sedunia’. Tentunya, jangan anggap serius mengenai tema pesta ini, sebab memang pada dasarnya mereka sableng. Maka tidak heran, apabila beragam permainan kata, slang, hingga tema pun sering terlontar tak lazim dari mulut mereka, di antaranya: ‘Hari Kerupuk Sedunia’ hingga ‘Hari-Hari Hippies’. Hippies sendiri menurut slang mereka, diterjemahkan sebagai hilap pisan, atau lebih tepatnya kondisi di mana orang sudah teralu mabuk hingga lupa dan tidak sadarkan diri akan lingkungan sekitarnya. Kocak memang.

Beragam grup musik pun turut mengiringi pesta malam ini, dari ska, reggae, dub, Slank cover version, hingga grup musik alternative rock era 80-an – 90-an yang seringkali diistilahkan sebagai ‘rock mabok’. Selesai? Tidak juga. Ternyata pesta malam ini belum lengkap rasanya apabila tidak ditutup dengan dangdutan.

“Mang, tambah lagi gak minumannya?” tanya Anwar.

“Cukup Mang! Udah gak kuat” jawab penonton.

Ternyata pesta malam itu harus berakhir bukan karena para biduan itu kehabisan lagu, melainkan para penonton yang telah ‘kehabisan stamina’ untuk ‘minum-minum’. Hmmm, kultur pesta kampus memang selalu menarik untuk disimak. Aku sendiri pulang dengan tawa, meskipun badan sedikit sempoyongan.

Referensi:
Iverson, Sean Ryan Martin. 2011.The politics of cultural production in the DIY hardcore scene in Bandung, Indonesia. Crawley, Western Australia. Thesis from The University of Western Australia.

Majalah Sportif No. 123, Juni-Juli 1986: hlm 30
http://antimateri.com/houses-of-the-unholy , diakses pada tanggal 2 Agustus 2015 pukul 14.58 WIB

Footnotes:
(1) Dalam bahasa Sunda mang berarti panggilan untuk paman, om, atau orang yang lebih tua. Namun dalam cerpen ini, kata mang diartikan sebagai slang untuk bro, bung, atau panggilan yang merujuk pada kesetaraan.

(2) Planet Remaja merupakan produk acara televisi swasta yang mengangkat isu mengenai anak muda. Planet Remaja juga sering mementaskan grup musik, yang dalam dekorasi pementasannya memajang instalasi berupa sepeda motor berhadiah yang diperuntukkan bagi penonton yang berhasil menjawab kuis itu. Acara televisi itu sempat populer di kalangan anak muda Indonesia pada era awal 2000-an.

(3) Ngopi diartikan sebagai aktivitas meminum kopi atau nongkrong.

(4) Nongkrong adalah kata Indonesia sehari-hari yang dipinjam dari bahasa Jawa, secara harfiah diartikan sebagai aktivitas jongkok, tetapi secara lebih luas dapat diartikan sebagai aktivitas ‘berkeliaran’ dan percakapan. Di Bandung, kata nongkrong juga dapat digantikan secara setara dengan kata nangkring yang juga digunakan dalam bahasa Sunda (Martin-Iverson, 2011: 52-53).

(5) Vaudeville sendiri diambil dari bahasa Perancis yang berarti “nyanyian kota”. Konsep Vaudevillle mulai terwacanakan, ketika pengunjung saloon (biasanya koboi) di Amerika Serikat, minum sambil kebosanan setengah mati hingga pada akhirnya tercetuslah ide untuk membuat suasana meriah dengan nyanyian, tapi karena suara mereka hilang bersama tegukan bir, maka mereka memutuskan untuk menyewa penyanyi dan penari (http://antimateri.com/ houses-of-the-unholy , diakses pada tanggal 2 Agustus 2015 pukul 14.58 WIB).

(6) J.S Badudu adalah seorang Guru Besar Bahasa Indonesia yang berperan besar dalam menemukan Ejaan Yang Disempurnakan dari Bahasa Indonesia.

(7) UFO Club merupakan sebuah klub pementasan musik yang populer di kalangan anak muda di London, Britania Raya pada periode London Undergound 1960-an yang juga menjadi sarana tumbuhnya grup musik semacam Hawkwind, The Soft Machine, Pink Floyd, Procol Harum, dan sebagainya(http://antimateri.com/houses-of-the-unholy , diakses pada tanggal 2 Agustus 2015 pukul 14.58 WIB).

(8) Ciu adalah minuman keras beralkohol lokal yang produksinya berasal dari daerah Bekonang, Solo, Jawa Tengah.whiteboardjournal, logo